Kanal24, Malang – Di balik setiap tradisi yang diwariskan turun-temurun, tersimpan kekayaan bahasa dan pengetahuan lokal yang membentuk identitas masyarakat. Namun, mendokumentasikan warisan tersebut tidak cukup hanya dengan mencatat kosakata atau mengambil gambar. Konteks penggunaan bahasa, rangkaian ritual, hingga aktivitas masyarakat menjadi bagian penting untuk memahami budaya secara utuh.
Universitas Brawijaya (UB) melalui Brawijaya Corpora Project (BCP) mengembangkan pendokumentasian bahasa dan budaya berbagai subkultur di Jawa Timur dengan memanfaatkan teknologi digital. Melalui pendekatan multimodal corpus, proyek ini menggabungkan data kebahasaan dengan foto, video, rekaman suara, dan representasi tiga dimensi untuk memperluas akses terhadap pengetahuan budaya lokal. Upaya tersebut dibahas dalam Diseminasi Internasional Brawijaya Corpora Project (BCP) 2026 bertema “Digital Humanities, Multimodal Corpus, and Cultural Heritage Preservation” di Ruang Rapat Lantai 1 Gedung B Fakultas Ilmu Budaya UB, Selasa (20/10/2026).
Baca Juga:
UB Gelar MCU untuk Deteksi Dini Penyakit Profesor
Rekam Kekayaan Bahasa dan Tradisi Lokal
Wakil Ketua Brawijaya Corpora Project, Dr. Dany Ardhian, S.Pd., M.Hum., menjelaskan bahwa BCP mulai dikembangkan pada 2025 sebagai proyek multiyears selama tiga tahun. Proyek ini berfokus pada pendokumentasian bahasa dan budaya sejumlah subkultur di Jawa Timur melalui pengumpulan data yang dapat dimanfaatkan untuk penelitian.

Pada tahun pertama, pendokumentasian diarahkan pada masyarakat Tengger dan subkultur Panaragan di Ponorogo. Pada tahun kedua, fokus pengembangan berlanjut pada masyarakat Samin di Bojonegoro. Sementara itu, masyarakat Osing di Banyuwangi direncanakan menjadi fokus pada tahun ketiga.
Pemilihan subkultur tersebut berkaitan dengan kekayaan bahasa, tradisi, dan praktik sosial yang memiliki karakteristik tersendiri. Dokumentasi tidak hanya diarahkan pada kata atau ungkapan yang digunakan masyarakat, tetapi juga pada konteks budaya yang melatarbelakanginya.
Sejumlah tradisi memiliki waktu pelaksanaan dan situasi tertentu sehingga tidak mudah didokumentasikan melalui pengamatan sehari-hari. Misalnya, tradisi Yadnya Karo pada masyarakat Tengger dan pertunjukan Reog di Ponorogo yang membutuhkan dokumentasi sesuai dengan waktu serta konteks pelaksanaannya.
Hal serupa juga berlaku pada praktik budaya masyarakat Samin. Aktivitas tertentu, seperti proses membangun rumah dan praktik yang berkaitan dengan perhitungan hari atau nogo dino, memerlukan pemahaman terhadap konteks sosial dan pengetahuan lokal yang menyertainya.
Karena itu, dokumentasi budaya perlu dilakukan secara menyeluruh. Foto dapat merekam bentuk visual suatu tradisi, tetapi belum tentu menjelaskan makna, urutan kegiatan, penggunaan bahasa, maupun alasan suatu praktik dilakukan. Informasi tersebut membutuhkan data pendukung agar dapat dipahami secara lebih mendalam.
Satukan Data dan Analisis dalam Satu Platform
BCP mengembangkan pendekatan korpus multimodal dengan menggabungkan data kebahasaan dan berbagai bentuk dokumentasi digital. Selain teks dan kosakata, data yang dihimpun mencakup foto, video, rekaman audio, serta representasi tiga dimensi sesuai kebutuhan pendokumentasian.
Pendekatan tersebut memungkinkan peneliti mempelajari bahasa dengan mempertimbangkan situasi penggunaannya. Bahasa tidak dipahami sebagai kumpulan kata yang berdiri sendiri, melainkan sebagai bagian dari interaksi dan kehidupan sosial masyarakat.
Dalam pengembangannya, BCP menggabungkan dua kebutuhan utama, yakni pengumpulan data dan analisis data. Pengumpulan data diarahkan untuk menyediakan korpus yang dapat digunakan oleh peneliti, sedangkan analisis data membantu pengguna mengolah informasi dan menelusuri hubungan antarkata maupun makna dalam suatu konteks.
Ketersediaan data yang terorganisasi juga berpotensi mempermudah penelitian lintas bidang. Peneliti dapat memanfaatkan dokumentasi kebahasaan dan budaya untuk mengkaji hubungan bahasa dengan tradisi, identitas masyarakat, serta perubahan sosial yang terjadi di lingkungan tertentu.
Meski demikian, pengembangan korpus budaya membutuhkan proses pengumpulan dan pengolahan data yang cermat. Dokumentasi harus memperhatikan konteks agar informasi yang tersimpan tidak kehilangan keterkaitan dengan masyarakat dan praktik budaya yang menjadi sumbernya.
Melalui platform digital, data yang telah dihimpun diharapkan tidak berhenti sebagai arsip, tetapi dapat menjadi bahan kajian yang terus dikembangkan. Dengan begitu, dokumentasi bahasa dan budaya berpeluang dimanfaatkan lebih luas oleh akademisi maupun pihak lain yang berkepentingan dengan pelestarian warisan budaya.
Bidik Subkultur Osing dan Pengakuan Internasional
Pengembangan BCP masih berlanjut seiring dengan rencana pendokumentasian subkultur berikutnya. Setelah fokus pada masyarakat Tengger, Panaragan, dan Samin sesuai tahapan proyek, masyarakat Osing di Banyuwangi direncanakan menjadi salah satu sasaran dokumentasi pada tahun ketiga.

Rencana tersebut membuka peluang untuk memperluas cakupan data bahasa dan budaya Jawa Timur. Setiap subkultur memiliki karakteristik, tradisi, dan pengetahuan lokal yang berbeda sehingga membutuhkan pendekatan dokumentasi sesuai dengan konteks masing-masing.
Dany berharap data yang dikembangkan melalui BCP dapat diakses secara internasional sehingga memberi manfaat bagi peneliti dari berbagai negara. Akses yang lebih luas diharapkan mendorong kolaborasi akademik sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya lokal kepada masyarakat global.
Ia juga berharap BCP dapat menjadi proyek percontohan dalam pendokumentasian warisan budaya takbenda dan menarik perhatian UNESCO. Harapan tersebut menjadi salah satu arah pengembangan proyek, bukan berarti BCP telah memperoleh pengakuan atau status resmi dari organisasi tersebut.
Melalui pendokumentasian yang terstruktur dan pemanfaatan teknologi digital, Brawijaya Corpora Project berupaya mempertemukan kajian bahasa, teknologi, dan pelestarian budaya. Pengembangan korpus multimodal diharapkan dapat menjaga rekam pengetahuan lokal agar tetap tersedia sebagai sumber pembelajaran dan penelitian bagi generasi mendatang. (gal)













