Kanal24, Malang – Universitas Brawijaya (UB) mengembangkan pakan lobster berbahan maggot dari sampah organik sebagai alternatif bahan baku pakan. Inovasi ini berpotensi mengurangi penggunaan tepung ikan yang selama ini dimanfaatkan dalam formulasi pakan budidaya.
Pengembangan tersebut dibahas dalam Workshop Kolaboratif Inovasi Pakan Lobster Berkelanjutan CIRCULOBS 2026 bertajuk From Organic Waste to Sustainable Lobster Feed. Kegiatan berlangsung di Ruang Arjuna 3, Lantai 1, Swiss-Belinn Malang, Selasa (20/10/2026). Kolaborasi ini melibatkan UB, BRIN, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), serta Griffith University dari Australia.
Baca Juga:
FPIK UB Gaungkan Peduli Mental Health Mahasiswa
Maggot Berpotensi Menggantikan Sebagian Tepung Ikan
Dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) UB, Prof. Dr. Ir. Mohamad Fadjar, M.Sc., menjelaskan bahwa maggot hasil pengolahan sampah organik dapat dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan pelet untuk budidaya lobster.

“Dan yang kedua, kandungan nutrisi dari si magot ini bisa kita manfaatkan untuk bahan substitusi tepung ikan,” ujar Fadjar.
Menurutnya, inovasi tersebut menggabungkan pemanfaatan limbah organik dengan pengembangan bahan baku pakan. Kandungan nutrisi maggot berpotensi digunakan untuk menggantikan sebagian tepung ikan dalam formulasi pakan.
Meski demikian, tingkat substitusi dan efektivitasnya masih perlu dipastikan melalui pengembangan serta pengujian lebih lanjut. Formulasi pakan juga harus disesuaikan dengan kebutuhan lobster agar dapat diterapkan secara optimal.
Formulasi Harus Sesuai dengan Kebutuhan Lobster
Fadjar mengungkapkan bahwa tantangan utama dalam pengembangan pakan ini adalah menyusun komposisi yang dapat diterima lobster sekaligus mendukung pertumbuhannya.
“Tantangan selama ini bagaimana kita memformulasikan pakan untuk lobster pasir. Jadi itu yang harus diutak-utik supaya si lobster tadi mau makannya ya kemudian mempercepat pertumbuhannya,” jelasnya.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pengembangan pakan tidak hanya berfokus pada kandungan nutrisi bahan baku. Penerimaan lobster terhadap pakan juga menjadi aspek penting yang perlu diperhatikan dalam penyempurnaan formulasi.
Penyempurnaan dan Sosialisasi Jadi Langkah Lanjutan
Fadjar menyebut hasil pengembangan pelet berbahan maggot sejauh ini sudah cukup baik. Namun, penyempurnaan tetap diperlukan sebelum pakan digunakan secara lebih luas oleh pembudidaya.
“Terus kemudian kita pakai penyempurnaan lebih jauh lagi untuk pakan pelet ini sehingga siap untuk digunakan oleh pembudidaya lobster,” ungkapnya.
Selain menyempurnakan formulasi, tim juga berencana memperluas sosialisasi mengenai inovasi tersebut. Langkah ini diharapkan meningkatkan pemahaman pembudidaya terhadap alternatif bahan pakan yang memanfaatkan sampah organik.
Melalui CIRCULOBS 2026, pengembangan pakan berbahan maggot menjadi salah satu upaya mencari alternatif bahan baku untuk budidaya lobster. Penerapannya masih memerlukan penyempurnaan formulasi dan pengujian lanjutan sebelum dapat digunakan secara lebih luas. (ndr)














