Kanal24, Malang – Sedotan kertas selama ini kerap dipilih sebagai alternatif pengganti plastik sekali pakai karena dinilai lebih ramah lingkungan. Namun, sebuah studi yang dilakukan di Korea Selatan menunjukkan bahwa penggunaan sedotan kertas tidak selalu menghasilkan dampak lingkungan yang lebih rendah dibandingkan sedotan plastik konvensional.
Dalam kajian yang ditugaskan Kementerian Iklim, Energi, dan Lingkungan Hidup Korea Selatan, sedotan kertas tercatat memiliki nilai dampak karsinogenik terhadap manusia 6,33 kali lebih tinggi dibandingkan sedotan plastik konvensional. Temuan tersebut dihitung berdasarkan keseluruhan siklus hidup produk, mulai dari produksi bahan baku, proses pembuatan, penggunaan, hingga pembuangan.
Studi yang diungkap anggota parlemen Korea Selatan, Kim Wi-sang, pada 21 Oktober 2026 itu membandingkan empat jenis sedotan, yakni plastik konvensional, kertas, plastik biodegradable atau dapat terurai secara hayati, serta bio-based polyethylene (bio-PE).
Baca juga:
HPV Bukan Kiamat: Mencegah Kanker Serviks Sebelum Gejala Datang

Peneliti mengevaluasi dampak keempat jenis sedotan melalui 16 kategori, termasuk perubahan iklim, pengasaman lingkungan, penipisan lapisan ozon, dampak partikel halus, hingga toksisitas terhadap manusia. Penilaian dilakukan dengan mempertimbangkan proses produksi hingga pengelolaan limbah setelah produk digunakan.
Hasilnya, sedotan plastik konvensional justru memiliki dampak lingkungan paling rendah pada 10 dari 16 kategori yang diukur. Kategori tersebut antara lain perubahan iklim, pengasaman, partikel halus, dan toksisitas terhadap manusia.
Sementara itu, sedotan kertas menunjukkan dampak tertinggi pada tiga kategori. Sedotan plastik biodegradable memiliki dampak tertinggi pada dua kategori, sedangkan bio-PE menjadi jenis dengan dampak terbesar pada 10 kategori penilaian.
Temuan ini memperlihatkan bahwa penggantian bahan plastik dengan material alternatif tidak serta-merta membuat suatu produk lebih ramah lingkungan. Dampaknya perlu dihitung secara menyeluruh, bukan hanya berdasarkan bahan yang digunakan atau kemampuannya untuk terurai.
Angka Risiko Karsinogenik Perlu Dipahami secara Tepat
Meski mencatat angka dampak karsinogenik lebih tinggi, hasil penelitian tersebut tidak berarti seseorang yang menggunakan sedotan kertas secara langsung memiliki risiko kanker 6,33 kali lebih besar dibandingkan pengguna sedotan plastik.
Angka itu merupakan indikator berbasis pemodelan dalam analisis daur hidup produk. Dengan demikian, hasilnya menggambarkan potensi beban dampak dari proses produksi hingga pembuangan, bukan pengukuran langsung paparan zat karsinogenik pada konsumen.
Selain dampak karsinogenik, sedotan kertas juga tercatat memiliki dampak pengasaman lingkungan 2,04 kali lebih tinggi dibandingkan sedotan plastik konvensional.
Sedotan plastik biodegradable memiliki dampak karsinogenik 3,34 kali lebih tinggi, sedangkan bio-PE mencapai 16,18 kali dibandingkan plastik konvensional. Pada kategori pengasaman, bio-PE tercatat memiliki dampak 5,9 kali lebih tinggi.
Bio-PE sendiri dibuat dari bahan baku nabati yang dapat diperbarui, seperti tebu. Namun, material tersebut secara kimiawi serupa dengan polietilena konvensional dan tidak otomatis dapat terurai secara hayati.
Perbedaan karakteristik bahan ini menunjukkan bahwa label berbasis nabati maupun biodegradable tidak cukup untuk menjadi satu-satunya ukuran dalam menentukan tingkat keramahan lingkungan sebuah produk.
Sedotan Sekali Pakai Sulit Didaur Ulang
Persoalan lain yang ditemukan dalam penelitian tersebut adalah sulitnya mendaur ulang sedotan sekali pakai, terlepas dari material pembuatnya.
Ukuran sedotan yang kecil membuatnya sulit dipilah oleh mesin maupun pekerja di fasilitas pengolahan sampah. Pada sedotan kertas, lapisan pelindung dan bahan perekat yang digunakan juga dapat menghambat proses daur ulang.
Dalam asumsi pengelolaan limbah yang digunakan penelitian, sebanyak 73,6 persen sedotan bekas dibakar, sedangkan 26,4 persen lainnya dibuang ke tempat pemrosesan akhir.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa dampak lingkungan suatu produk tidak hanya ditentukan oleh bahan bakunya. Sistem pengumpulan, pemilahan, dan pengolahan sampah turut menentukan beban lingkungan yang dihasilkan.
Pengurangan Produk Sekali Pakai Dinilai Lebih Penting
Temuan penelitian ini turut memunculkan evaluasi terhadap kebijakan pembatasan sedotan plastik di Korea Selatan. Pemerintah negara tersebut mulai membatasi penggunaan sedotan plastik di kafe dan restoran pada November 2022.
Namun, penerapan aturan tersebut kemudian mengalami penundaan tanpa batas waktu pada November 2023, menyusul keluhan masyarakat serta pertanyaan mengenai efektivitas penggunaan bahan pengganti.
Anggota parlemen Kim Wi-sang menilai kebijakan lingkungan seharusnya tidak hanya berfokus pada pergantian material. Menurutnya, pengurangan penggunaan produk sekali pakai secara keseluruhan perlu menjadi perhatian utama.
Survei terhadap 1.001 responden yang tercantum dalam laporan tersebut juga menunjukkan bahwa 87,5 persen responden lebih memilih sedotan plastik. Sebanyak 54,4 persen mendukung kebijakan penyediaan sedotan hanya ketika pelanggan memintanya, sementara 18,4 persen menyatakan tidak setuju.
Peneliti merekomendasikan agar toko dan tempat makan tidak secara otomatis menyediakan sedotan sekali pakai, baik berbahan kertas maupun plastik. Sedotan dapat diberikan ketika konsumen benar-benar membutuhkannya.
Hasil studi tersebut menjadi pengingat bahwa solusi lingkungan tidak cukup dilakukan dengan mengganti satu jenis bahan dengan bahan lainnya. Pengurangan konsumsi, penggunaan ulang, serta pengelolaan sampah yang tepat tetap menjadi bagian penting dalam menekan dampak produk sekali pakai. (nid)













