Kanal24, Blitar – Keterbatasan jangkauan pemasaran masih menjadi tantangan bagi pelaku ekonomi kreatif, termasuk kelompok perajin penyandang disabilitas di Desa Resapombo, Kabupaten Blitar. Untuk membantu mengatasi persoalan tersebut, Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya (FIA UB) menggelar pelatihan optimalisasi digital marketing bagi pengelola dan pendamping Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Harapan Mulia.
Pelatihan bertajuk “Optimalisasi Digital Marketing dan Pemasaran Berbasis Komunitas untuk Pengembangan Ekonomi Kreatif Batik Percik Rombo” tersebut berlangsung di Balai Desa Resapombo, Kecamatan Doko, Kabupaten Blitar, Sabtu (24/10/2026).
Program pengabdian kepada masyarakat ini diarahkan untuk memperluas pemasaran Batik Percik Rombo, produk kerajinan yang dibuat oleh warga penyandang disabilitas, khususnya penyandang tunagrahita. Melalui pelatihan tersebut, peserta dibekali keterampilan mengelola media sosial, menyusun konten promosi, hingga mengenali calon konsumen secara lebih terarah.

Tim pengabdian diketuai Reika Happy Sugiastuti, S.AB., M.AB., dengan anggota Dr. Ika Ruhana, S.Sos., M.Si., Dr. Anni Rahimah, S.AB., M.AB., Ph.D., Arik Prasetya, S.Sos., M.Si., Ph.D., dan Dr. Nur Imamah, S.AB., M.AB., Ph.D. Kegiatan juga melibatkan mahasiswa serta alumni Program Magister dan Doktor Ilmu Administrasi.
Produk Bernilai Sosial, Pemasaran Masih Terbatas
Desa Resapombo dikenal sebagai Kampung Disabilitas karena memiliki jumlah penyandang disabilitas yang cukup tinggi. Melalui KSM Harapan Mulia, masyarakat penyandang disabilitas mendapatkan pembinaan untuk mengembangkan kemandirian ekonomi, salah satunya melalui produksi Batik Percik atau Batik Ciprat dengan motif khas Resapombo.
Produk tersebut memiliki nilai seni sekaligus nilai sosial. Permintaan pasar lokal juga relatif stabil, terutama untuk kebutuhan seragam sejumlah instansi. Namun, potensi produk belum sepenuhnya diimbangi strategi pemasaran yang mampu menjangkau konsumen lebih luas.
Hasil observasi tim pengabdian menemukan tiga persoalan utama, yakni rendahnya pemanfaatan media sosial dan e-commerce, belum berkembangnya strategi pemasaran berbasis komunitas, serta keterbatasan literasi digital pengelola dalam mengemas produk secara visual.
Kondisi tersebut menjadi dasar pelaksanaan pelatihan. Tim tidak hanya memberikan pemahaman mengenai pemasaran digital, tetapi juga mengajak peserta mempraktikkan pembuatan konten promosi yang dapat diterapkan dalam kegiatan usaha sehari-hari.
Strategi Media Sosial: Bukan Sekadar Mengejar Pengikut
Materi pertama disampaikan Dr. Anni Rahimah dengan pembahasan mengenai optimalisasi akun media sosial. Peserta diajak memahami bahwa keberhasilan pemasaran tidak semata-mata ditentukan oleh jumlah pengikut, melainkan kemampuan akun membangun interaksi dan mendorong keputusan pembelian.
Anni menjelaskan tiga tujuan utama pemasaran melalui media sosial, yaitu membangun brand awareness, mendatangkan traffic yang sesuai dengan target pasar, serta meningkatkan engagement dengan pelanggan.
Menurutnya, pelaku usaha tidak harus menggunakan seluruh platform media sosial. Pengelola dapat memilih dua platform yang paling sesuai dengan karakter produk dan calon konsumennya, kemudian mengelolanya secara konsisten.
Facebook dapat dimanfaatkan untuk menjangkau pasar lokal melalui komunitas dan Marketplace. Instagram lebih sesuai untuk menampilkan kekuatan visual motif batik, sedangkan TikTok dapat digunakan untuk menjangkau audiens muda melalui konten video.
Peserta juga dikenalkan dengan sejumlah fitur yang dapat dimanfaatkan tanpa biaya, termasuk pengelolaan story, grup komunitas, Marketplace, serta fitur akun bisnis Instagram. Melalui fitur tersebut, pengelola dapat menampilkan informasi produk, menyediakan kontak, dan memantau jangkauan unggahan.
Anni turut menekankan empat aspek penting dalam mengoptimalkan akun, yakni profil dan bio yang jelas, konten dengan prinsip 3S (Stop, Stay, Share), penggunaan hashtag secara konsisten, serta jadwal unggahan yang teratur.
Untuk menjaga konsistensi, peserta didorong menyusun kalender konten dengan variasi unggahan informatif, edukatif, hiburan, dan kolaborasi. Teknologi kecerdasan buatan seperti ChatGPT, Claude, dan Gemini juga dapat dimanfaatkan untuk membantu menyusun ide serta jadwal konten.
Mengemas Cerita Perajin Menjadi Konten Promosi
Sesi berikutnya membahas dasar-dasar pemasaran digital dan praktik pembuatan konten. Materi disampaikan Nesya Nandini Maulida Widitya, praktisi digital marketing sekaligus tutor Universitas Terbuka.
Nesya menjelaskan bahwa aktivitas pemasaran digital sebenarnya telah dekat dengan kehidupan sehari-hari. Mengunggah foto batik melalui status WhatsApp, menjawab pertanyaan calon pembeli, hingga melayani transaksi merupakan bagian dari proses pemasaran digital.
Sebelum membuat konten, pelaku usaha perlu mengenali customer persona atau karakter calon pembeli yang ingin dijangkau. Pemahaman tersebut membantu pengelola menentukan gaya bahasa, bentuk promosi, dan jenis konten yang sesuai dengan kebutuhan konsumen.
Ia juga mengenalkan perbedaan konten organik dan iklan berbayar. Bagi usaha yang masih berkembang, konten organik dapat menjadi langkah awal karena tidak membutuhkan biaya promosi, meskipun perlu dijalankan secara konsisten.
Untuk Batik Percik Rombo, bahan konten dapat diambil dari berbagai aktivitas produksi. Pengelola dapat menampilkan foto produk dengan latar sederhana, proses pembuatan motif, pengemasan pesanan, hingga cerita para perajin di balik setiap kain.
Konten edukatif seperti mitos dan fakta tentang batik juga dapat digunakan sebagai bentuk soft selling. Dengan pendekatan tersebut, promosi tidak hanya berorientasi pada penjualan, tetapi sekaligus memperkenalkan karakter dan nilai produk.
Nesya menekankan pentingnya hook, yakni kalimat pembuka yang mampu menarik perhatian audiens dalam tiga detik pertama. Setelah itu, caption perlu disusun dengan pembuka, isi yang menjelaskan pesan utama, serta ajakan bertindak atau call to action, misalnya mengarahkan calon konsumen untuk menghubungi pengelola melalui pesan pribadi.
Praktik Membuat Konten Promosi Batik
Pelatihan tidak berhenti pada penyampaian materi. Peserta juga memperoleh kesempatan mempraktikkan pembuatan hook dan caption berdasarkan foto produk Batik Percik Rombo.
Dalam sesi praktik, peserta diminta menyusun kalimat promosi yang sesuai dengan karakter calon pembeli. Sejumlah peserta mencoba membuat ajakan mengenakan batik untuk kegiatan kondangan, arisan, maupun aktivitas sehari-hari.
Pemateri kemudian memberikan masukan mengenai penyusunan kalimat yang lebih ringkas, ajakan pembelian yang jelas, serta penggunaan hashtag secara konsisten, seperti #BatikPercikRombo dan #KSMHarapanMulia.
Peserta juga didorong menggunakan sapaan lokal sebagai ciri khas komunikasi akun. Pendekatan tersebut diharapkan membuat konten terasa lebih dekat dengan audiens sekaligus membangun identitas pemasaran produk.

Penguatan Ekonomi Inklusif Berbasis Komunitas
Ketua tim pengabdian, Reika Happy Sugiastuti, berharap pelatihan tersebut menjadi langkah awal untuk memperluas pengenalan Batik Percik Rombo kepada masyarakat.
“Kami berharap pelatihan ini menjadi langkah awal agar karya teman-teman disabilitas di Resapombo dikenal lebih luas. Batik Percik Rombo punya nilai seni dan nilai sosial yang tinggi, dan media sosial bisa menjadi jendela untuk menunjukkannya,” ujar Reika.
Program ini juga diarahkan untuk mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ke-8 tentang pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi serta tujuan ke-10 mengenai pengurangan kesenjangan.
Ke depan, tim menargetkan terbentuknya Komunitas Sahabat Batik Percik sebagai penggerak promosi berbasis komunitas. Pendampingan berkala juga direncanakan untuk memantau perkembangan akun media sosial dan penjualan produk.
Dalam peta jalan pengabdian, program pemasaran digital menjadi tahap awal. Kegiatan selanjutnya direncanakan berlanjut pada penguatan manajemen produksi dan keuangan, kemudian aspek legalitas serta perluasan pasar hingga tingkat global.
Melalui penguatan keterampilan digital dan pemasaran berbasis komunitas, Batik Percik Rombo diharapkan tidak hanya memiliki pasar yang lebih luas, tetapi juga membuka peluang kemandirian ekonomi yang lebih besar bagi para perajin penyandang disabilitas di Desa Resapombo.














