Kanal24, Malang – Pergerakan harga kebutuhan pangan masih menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kondisi ekonomi masyarakat. Pada Oktober 2026, sejumlah komoditas hortikultura, terutama cabai merah, cabai rawit, dan tomat, kembali memberikan tekanan terhadap inflasi nasional. Kenaikan harga komoditas tersebut memperlihatkan bahwa stabilitas harga pangan masih menjadi perhatian dalam menjaga daya beli rumah tangga.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Indonesia pada Oktober 2026 sebesar 0,22 persen secara bulanan (month-to-month/mtm). Data tersebut disampaikan Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (2/11/2026). Selain itu, inflasi tahunan (year-on-year/yoy) tercatat sebesar 3,23 persen dan inflasi tahun kalender (year-to-date/ytd) mencapai 2,40 persen.
Baca Juga:
MSCI Soroti Pasar Indonesia, IHSG Tertekan dan Investor Waspada
Cabai Merah Jadi Penyumbang Terbesar Inflasi Oktober
Berdasarkan pemantauan BPS, Indeks Harga Konsumen (IHK) mengalami kenaikan dari 112,31 pada September 2026 menjadi 112,56 pada Oktober 2026. Secara bulanan, inflasi Oktober tercatat lebih rendah dibandingkan September yang mencapai 0,30 persen. Meski demikian, kenaikan sejumlah harga pangan masih memberikan kontribusi besar terhadap pergerakan harga konsumen.
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang inflasi bulanan terbesar dengan tingkat inflasi sebesar 0,51 persen dan andil terhadap inflasi umum sebesar 0,15 persen. Cabai merah menjadi komoditas dengan kontribusi terbesar, yakni 0,13 persen. Selanjutnya, cabai rawit memberikan andil 0,05 persen dan tomat sebesar 0,04 persen. Sementara itu, sawi hijau, labu siam atau jipang, serta sawi putih masing-masing menyumbang 0,01 persen.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan bahwa kenaikan sejumlah komoditas tersebut menjadi faktor dominan dalam pembentukan inflasi kelompok makanan, minuman, dan tembakau.
“Komoditas yang dominan menyumbang inflasi pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau adalah cabai merah dengan andil inflasi sebesar 0,13 persen. Berikutnya cabai rawit dengan andil inflasi sebesar 0,05 persen, serta tomat dengan andil inflasi sebesar 0,04 persen,” kata Ateng.
Besarnya kontribusi komoditas hortikultura menunjukkan bahwa perubahan harga bahan pangan masih memiliki pengaruh terhadap pengeluaran masyarakat. Kondisi tersebut membuat ketersediaan pasokan dan kelancaran distribusi menjadi aspek penting dalam menjaga kestabilan harga kebutuhan sehari-hari.
Harga Pangan Bergejolak Dominasi Tekanan Inflasi
Jika dilihat berdasarkan komponen pembentuknya, inflasi Oktober 2026 terutama didorong oleh kelompok harga bergejolak atau volatile food. Komponen ini mengalami inflasi sebesar 0,77 persen dengan andil terhadap inflasi umum mencapai 0,13 persen.
Sementara itu, komponen inflasi inti tercatat sebesar 0,12 persen dengan andil 0,07 persen. Adapun komponen harga yang diatur pemerintah atau administered prices mengalami inflasi sebesar 0,09 persen dengan andil 0,02 persen. Ketiga komponen tersebut sama-sama mencatatkan inflasi selama Oktober.
Di luar kelompok pangan, tarif angkutan udara turut memberikan andil inflasi sebesar 0,01 persen. Sebaliknya, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mengalami deflasi sebesar 0,06 persen dengan andil deflasi 0,01 persen. Penurunan harga emas perhiasan menjadi salah satu komoditas yang memengaruhi deflasi kelompok tersebut.
Secara tahunan, inflasi Oktober 2026 mencapai 3,23 persen, lebih tinggi dibandingkan Oktober 2025 yang tercatat sebesar 2,86 persen. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau kembali menjadi penyumbang terbesar dengan andil 1,40 persen. Selanjutnya, kelompok transportasi memberikan andil 0,59 persen, sedangkan perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,32 persen.
Inflasi Terjadi di 33 Provinsi, Papua Selatan Tertinggi
Perkembangan inflasi juga menunjukkan perbedaan kondisi harga di berbagai wilayah Indonesia. Dari total 38 provinsi, sebanyak 33 provinsi mengalami inflasi secara bulanan pada Oktober 2026, sedangkan lima provinsi lainnya mencatatkan deflasi.
Papua Selatan menjadi provinsi dengan inflasi bulanan tertinggi sebesar 1,12 persen. Sebaliknya, Gorontalo mencatatkan deflasi terdalam sebesar 0,67 persen. Perbedaan tersebut memperlihatkan bahwa pergerakan harga di setiap daerah memiliki dinamika tersendiri.
Sementara itu, secara tahunan seluruh provinsi mengalami inflasi. Sulawesi Utara mencatatkan inflasi tertinggi sebesar 8,07 persen, sedangkan DKI Jakarta menjadi wilayah dengan inflasi terendah sebesar 2,52 persen.
Perkembangan tersebut menjadi perhatian dalam upaya menjaga stabilitas harga di tingkat nasional maupun daerah. Pemantauan ketersediaan bahan pangan, penguatan distribusi antardaerah, serta pengawasan harga komoditas strategis diperlukan untuk mengantisipasi tekanan inflasi.
Dengan inflasi bulanan sebesar 0,22 persen, tekanan harga pada Oktober 2026 memang lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya. Namun, inflasi tahunan yang mencapai 3,23 persen dan dominasi komoditas pangan menunjukkan bahwa stabilitas harga masih perlu dijaga. Upaya pengendalian pasokan dan distribusi menjadi penting agar kenaikan harga kebutuhan pokok tidak semakin membebani pengeluaran masyarakat. (ndr)














