Kanal24, Malang – Ketepatan metode menjadi salah satu fondasi penting dalam menghasilkan penelitian kedokteran yang berkualitas. Tidak hanya membutuhkan pemahaman teoritis, peneliti juga dituntut menguasai keterampilan teknis dalam setiap tahapan penelitian, termasuk penggunaan hewan coba sebagai model eksperimen. Mulai dari pemilihan hewan, penyusunan prosedur, hingga pengukuran parameter membutuhkan pemahaman yang tepat agar proses penelitian dapat berjalan secara terarah dan menghasilkan temuan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Menjawab kebutuhan tersebut, Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (FK UB) menyelenggarakan Seminar Pengembangan Model Hewan Coba di Bidang Kedokteran pada Rabu, (04/11/2026). Bertempat di Gedung GPP Lantai 6 FK UB, kegiatan ini menghadirkan rangkaian seminar dan workshop yang berfokus pada pengembangan tiga model penelitian, yakni model ovariektomi, model stroke iskemik, serta produksi antibodi poliklonal menggunakan kelinci. Kegiatan ini turut melibatkan PT Elokarsa Utama dan Program Studi Doktor Ilmu Kedokteran FK UB sebagai bagian dari penguatan kapasitas penelitian dan pengembangan fasilitas laboratorium.
Baca Juga:
FK UB Lantik 20 Dokter Spesialis, Siap Perkuat Layanan Kesehatan Indonesia
Perkuat Penguasaan Teknik Pengembangan Model Hewan Coba
Wakil Dekan Bidang Umum, Keuangan, dan Sumber Daya FK UB, Dr. Husnul Khotimah, S.Si., M.Kes., menjelaskan bahwa kegiatan ini menjadi sarana untuk memperkenalkan sekaligus meningkatkan pemahaman peneliti mengenai pengembangan model hewan coba dalam bidang kedokteran. Menurutnya, kemampuan tersebut penting karena masih terdapat peneliti yang belum sepenuhnya memahami proses pembuatan model hewan coba secara menyeluruh.
Rangkaian kegiatan diawali dengan seminar, kemudian dilanjutkan melalui workshop yang terbagi menjadi tiga topik. Peserta mendapatkan pembelajaran mengenai pembuatan model ovariektomi, model stroke iskemik, serta produksi antibodi poliklonal menggunakan kelinci.

“Tujuan dari acara ini adalah selain meningkatkan pengetahuan juga meningkatkan skill para pesertanya terkait dengan pembuatan model hewan coba,” jelas Husnul.
Ia menerangkan, penguasaan teknik pengembangan model tidak hanya berkaitan dengan pelaksanaan prosedur, tetapi juga mencakup pemahaman terhadap keseluruhan proses penelitian. Peneliti perlu mengetahui cara menentukan hewan coba yang sesuai, mengoptimalkan prosedur, hingga melakukan pengukuran parameter yang dibutuhkan.
Melalui workshop ini, peserta diharapkan dapat memahami tahapan-tahapan tersebut secara lebih aplikatif. Dengan demikian, pengetahuan yang diperoleh dapat menjadi bekal dalam merancang dan melaksanakan penelitian, sekaligus membantu peneliti mengenali aspek yang perlu diperhatikan agar metode yang digunakan sesuai dengan kebutuhan penelitian.
Integritas dan Kompetensi Jadi Fondasi Penelitian
Selain penguatan keterampilan teknis, peningkatan integritas menjadi perhatian penting dalam kegiatan ini. Ketua Pelaksana, Dr. Nuning Winarsih, S.Si., M.Sc., menyampaikan bahwa pemahaman mengenai penelitian dan penggunaan hewan coba perlu dimiliki oleh seluruh kalangan akademisi, baik dosen muda maupun mahasiswa.
Menurutnya, perkembangan kegiatan penelitian di lingkungan perguruan tinggi perlu diimbangi dengan penguatan pengetahuan, keterampilan, dan tanggung jawab ilmiah. Ketiga aspek tersebut menjadi bekal penting agar peneliti mampu menjalankan proses penelitian secara tepat dan menjaga kualitas hasil yang diperoleh.

“Kami sangat mendukung dan juga berharap acara ini berlangsung rutin karena integritas, pengetahuan, peningkatan skill ini juga sangat dibutuhkan tidak hanya oleh sivitas, dalam hal ini dosen muda, tetapi juga mahasiswa,” ungkap Nuning.
Ia menilai kegiatan semacam ini dapat menjadi ruang pembelajaran untuk membangun pemahaman penelitian secara lebih menyeluruh. Mahasiswa tidak hanya perlu menguasai aspek teknis, tetapi juga memahami pentingnya integritas dalam setiap proses penelitian, termasuk ketika menggunakan hewan coba sebagai model eksperimen.
Nuning berharap penguatan kapasitas tersebut dapat dilakukan secara berkelanjutan. Mengingat pergantian mahasiswa berlangsung setiap tahun, kegiatan edukatif seperti ini dinilai penting untuk menjaga kesinambungan pengetahuan dan kualitas penelitian di lingkungan FK UB.
Kolaborasi Akademisi dan Industri Dukung Fasilitas Riset
Pengembangan kompetensi peneliti juga didukung melalui kolaborasi antara institusi pendidikan dan industri. Husnul menyampaikan bahwa kerja sama FK UB dengan PT Elokarsa Utama serta Program Studi Doktor Ilmu Kedokteran FK UB menjadi bagian dari upaya mendukung pengembangan fasilitas, khususnya laboratorium untuk penelitian model hewan coba.
Menurutnya, keberadaan fasilitas dan peralatan yang memadai menjadi salah satu faktor pendukung dalam pengembangan penelitian. Melalui kegiatan ini, FK UB juga ingin memperkenalkan potensi laboratorium yang dimiliki kepada peneliti, baik dari internal Universitas Brawijaya maupun institusi lain.
Upaya tersebut diharapkan dapat membuka peluang kerja sama yang lebih luas sekaligus meningkatkan pemanfaatan fasilitas penelitian di FK UB. Dengan demikian, pengembangan model hewan coba tidak hanya menjadi pengetahuan yang diperoleh melalui seminar dan workshop, tetapi juga memiliki dukungan sarana untuk dikembangkan lebih lanjut.
Senada dengan hal tersebut, Nuning memandang keterlibatan industri dan berbagai pemangku kepentingan sebagai peluang untuk memperkuat ekosistem penelitian. Kolaborasi antara akademisi dan industri diharapkan mampu membangun sinergi yang saling mendukung dalam meningkatkan kualitas riset.
Ia berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan secara rutin agar peningkatan pengetahuan, keterampilan, dan integritas peneliti dapat berjalan berkesinambungan. Melalui penguatan sumber daya manusia yang didukung fasilitas serta kolaborasi lintas sektor, FK UB diharapkan mampu menjaga kualitas penelitian dan memperluas kontribusinya bagi pengembangan ilmu kedokteran di Universitas Brawijaya. (ndr)














