Kanal24, Malang – Dr. Abdullah, S.Sos., M.Hub.Int., Pakar Timur Tengah Universitas Brawijaya (UB), menjadi salah satu pembicara dalam webinar internasional The 14th Pre-Session of the International Festival of Modern Islamic Civilization yang diselenggarakan oleh Secretariat of International Cultural Dialogues, Islamic Culture and Relations Organization (ICRO), bekerja sama dengan International University of Islamic Denominations, Iran.
Webinar yang digelar secara daring pada Minggu (05/07/2026) tersebut mengangkat tema “Leadership to the World: International-Civilizational Doctrine, New World Order and the Reorganization of Power and Norms.” Forum ini mempertemukan akademisi dari Indonesia, Iran, dan Brasil untuk membahas kepemimpinan global, perubahan tatanan dunia, serta dinamika hubungan antarperadaban.
Baca juga:
Indonesia Gawat Darurat, Mahasiswa UB Turun ke Jalan Serukan 5 Tuntutan
Dalam kesempatan itu, Dr. Abdullah membawakan materi berjudul “From Soft War to Civilizational Resilience: The Leadership of Grand Ayatollah Sayyid Ali Khamenei.” Paparannya membahas tantangan yang dihadapi masyarakat modern, khususnya mengenai pengaruh budaya, media, pendidikan, dan teknologi dalam membentuk cara pandang suatu bangsa.
Menurut Dr. Abdullah, bentuk dominasi pada era modern tidak lagi hanya dilakukan melalui kekuatan militer maupun tekanan ekonomi, tetapi juga melalui berbagai instrumen nonfisik yang memengaruhi identitas dan kesadaran masyarakat.
“Dominasi pada era modern tidak hanya berlangsung melalui kekuatan militer atau tekanan ekonomi, tetapi juga melalui budaya, media, pendidikan, teknologi, dan pembentukan kesadaran masyarakat.”
Ia menjelaskan bahwa kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi perlu disikapi secara terbuka, namun tetap diimbangi dengan kemampuan menjaga identitas budaya dan nilai-nilai yang diyakini.
“Umat Islam perlu berinteraksi dengan dunia modern, namun tetap berpegang pada iman, martabat, dan kepercayaan terhadap identitas budayanya.”
Selain itu, Dr. Abdullah juga menekankan pentingnya persatuan serta penyebaran informasi yang bertanggung jawab di tengah derasnya arus informasi digital. Ia mengangkat konsep jihad tabyin, yakni upaya memberikan penjelasan yang benar di tengah maraknya propaganda, distorsi informasi, maupun misinformasi.
“Di tengah dunia yang dipenuhi propaganda, distorsi, dan misinformasi, menjelaskan kebenaran menjadi tanggung jawab yang sangat penting.”
Ia menambahkan bahwa akademisi, pendidik, penulis, jurnalis, hingga generasi muda memiliki peran penting dalam membangun literasi, memberikan edukasi, serta menghadirkan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat.
Selain Dr. Abdullah, webinar tersebut juga menghadirkan Dr. Muna Omran dari Federal University, Brasil, Dr. Mohammad Mahdi Rezaei dari International University of Islamic Denominations, Iran, serta Dr. Khadije Ahmadi Bighash dari Tarbiat Modarres University, Iran. Sementara jalannya diskusi dipandu oleh Dr. Amir Rezaeipanah selaku Head of Cultural Dialogues Department pada Islamic Culture and Relations Organization.
Melalui forum ini, para akademisi bertukar pandangan mengenai kepemimpinan global, hubungan antarperadaban, serta berbagai tantangan yang dihadapi masyarakat dunia. Keikutsertaan Dr. Abdullah, S.Sos., M.Hub.Int. dalam forum tersebut menjadi bagian dari kontribusi akademisi Universitas Brawijaya dalam memperkuat jejaring akademik internasional melalui diskusi ilmiah lintas negara. (nid)














