Kanal24, Malang – Nama-nama seniman asal Malang tak jarang lebih dulu dikenal di Jakarta, Yogyakarta, hingga panggung seni internasional dibandingkan di kotanya sendiri. Di tengah tumbuhnya potensi seni rupa yang besar, minimnya ruang pamer membuat banyak karya justru lebih sering diapresiasi di luar daerah daripada di rumahnya sendiri.Nama-nama seniman asal Malang tak jarang lebih dulu dikenal di Jakarta, Yogyakarta, hingga panggung seni internasional dibandingkan di kotanya sendiri. Di tengah tumbuhnya potensi seni rupa yang besar, minimnya ruang pamer membuat banyak karya justru lebih sering diapresiasi di luar daerah daripada di rumahnya sendiri.
Keresahan itu menjadi perhatian tersendiri, bahkan setelah Kota Malang resmi ditetapkan sebagai bagian dari UNESCO Creative Cities Network (UCCN) bidang Media Arts pada 30 Oktober 2025. Status tersebut dinilai menjadi penanda tumbuhnya ekosistem kreatif di Malang, namun belum sepenuhnya diimbangi dengan hadirnya ruang seni yang layak, terbuka, dan berkelanjutan bagi para seniman.
Kondisi tersebut mendorong berdirinya Artmeru Gallery yang resmi dibuka melalui Grand Opening pada Kamis (25/6/2026) di Jalan Semeru No. 12, Kota Malang. Peresmian galeri tersebut sekaligus menjadi pembuka pameran perdana bertajuk Mukadimah: Menandai Titik Mula yang menghadirkan 22 seniman lintas generasi.
Baca Juga:
Media Art, Bahasa Baru Dunia Digital dan Masa Depan Kota Kreatif
Berangkat dari Keresahan Minimnya Ruang Pamer
Co-Owner Artmeru Gallery, Sulung Christian Ang, mengatakan ide mendirikan galeri berangkat dari keresahan yang selama ini dirasakan para pelaku seni di Kota Malang. Menurutnya, potensi seniman di kota ini sangat besar, namun belum diimbangi dengan ruang yang memadai untuk menampilkan karya kepada masyarakat.

“Di Malang banyak sekali seniman, orang kreatif, dan para pegiat seni. Namun, mereka justru lebih dikenal di luar Malang. Sementara di Malang sendiri masih sangat kurang ruang untuk berpameran, misalnya galeri. Karena itu saya ingin membuat galeri seperti ini,” ujar Sulung.
Sebagai langkah awal, Artmeru Gallery mengajak 22 seniman dari berbagai generasi untuk terlibat dalam pameran perdana. Tidak hanya menghadirkan nama-nama senior, pameran ini juga memberi ruang bagi seniman muda dengan berbagai medium karya.
“Dari awal saya memang mengundang seniman lintas generasi, mulai dari seniman senior sampai seniman muda. Berbagai macam aliran juga kami hadirkan, begitu pula beragam karya, mulai dari lukisan, new media art, hingga instalasi. Tujuannya agar menarik sejak awal dan bisa menjadi parameter bahwa seni di Malang memiliki potensi besar. Ketika para seniman bersatu, ternyata kita bisa bersinergi bersama,” katanya.
Menurut Sulung, Artmeru Gallery tidak hanya hadir sebagai ruang pamer, tetapi juga ingin menjadi ruang kolaborasi bagi para pelaku seni. Karena itu, sejumlah agenda telah disiapkan agar aktivitas galeri terus berjalan sepanjang tahun.
“Karena sekarang kami sudah memiliki galeri, kami juga menyiapkan berbagai program. Dalam satu tahun kami menargetkan sekitar lima sampai enam kali pameran yang menjadi agenda galeri.”
Ia menambahkan, “Kami juga terbuka untuk berkolaborasi dengan seniman dari luar maupun seniman yang ingin berpameran di tempat ini. Kami ingin membangun kolaborasi agar ekosistem seni rupa di Malang menjadi lebih hidup.”
Pameran Perdana Pertemukan Lintas Generasi
Kurator Artmeru Gallery, Helmi Zuhdi, menjelaskan proses kuratorial pameran perdana tidak berlangsung sederhana. Pemilihan seniman dilakukan melalui berbagai penyesuaian agar mampu menghadirkan representasi seni rupa Malang dari berbagai generasi.

“Sebetulnya proses kuratorial ini memiliki cukup banyak dinamika. Teman-teman Artmeru waktu itu mengundang saya sebagai kurator. Awalnya para seniman sudah dikelola oleh manajemen galeri sendiri, lalu ada beberapa penyesuaian dalam pemilihan seniman,” jelas Helmi.
Sebanyak 22 seniman tersebut menghadirkan beberapa kategori karya, yakni lukisan, Drawing, Textile Art dan Fabric Art, serta New Media Art dan Instalasi. Penataan karya sengaja dirancang untuk membangun dialog antargenerasi di dalam ruang pamer.
“Keempat kategori ini kami gabungkan dengan penataan yang mencoba mengeksplorasi interaksi antarkarya, sehingga seniman senior disandingkan dengan seniman junior. Niat kami memang agar terjadi interaksi yang bisa dirasakan bersama.”
Menurut Helmi, tema Menandai Titik Mula dipilih sebagai kelanjutan dari Mukadimah yang menjadi simbol dimulainya perjalanan baru bagi seni rupa Malang.
“Seniman senior memiliki pengalaman panjang di ranah seni rupa, khususnya di ekosistem seni rupa Jawa Timur, Kota Malang, dan Malang Raya. Sementara seniman muda juga memiliki semangat untuk bersaing dan berkembang sehingga dapat saling menjalin hubungan.”
Galeri Jadi Wadah Edukasi dan Ekosistem Seni
Helmi menilai tantangan seni rupa saat ini bukan hanya menghadirkan ruang pamer, tetapi juga bagaimana membawa seniman Malang masuk ke dalam ekosistem pasar seni yang lebih luas.
“Saat ini sudah ada banyak galeri komersial, art fair, maupun balai lelang. Dari situ kami ingin melihat apakah para seniman dan seluruh ekosistem seni rupa di Jawa Timur sudah mampu masuk ke dalam arus utama tersebut. Mukadimah diharapkan bisa menjadi salah satu jawaban dari berbagai pertanyaan yang selama ini muncul melalui pameran-pameran di luar daerah.”
Selain menjadi ruang pamer, Artmeru Gallery juga ingin mendekatkan seni kepada masyarakat umum, khususnya generasi muda. Menurut Helmi, galeri ini diharapkan mampu menjadi ruang edukasi sekaligus memperkenalkan bahwa karya seni memiliki nilai ekonomi.

“Kami ingin masyarakat mengetahui bahwa karya seni memiliki nilai, bisa dibeli, dan bisa dijual. Artmeru Gallery diharapkan dapat menjadi wadah edukasi bagi ekosistem seni rupa, khususnya di wilayah Malang Raya.”
Pameran Mukadimah dapat dikunjungi mulai 26 Juni hingga 26 Agustus 2026 di Artmeru Gallery, Jalan Semeru Nomor 12, Kota Malang, dengan tiket masuk sebesar Rp15 ribu. Pengunjung juga akan memperoleh merchandise Artmeru serta dapat mengunjungi Artmeru Store yang menghadirkan berbagai produk hasil kurasi dari karya para seniman peserta pameran. (wan)














