Kanal24, Malang – Di tengah tekanan biaya hidup dan ketatnya persaingan dunia kerja, seorang mahasiswa justru memilih jalan berbeda: membangun bisnis sambil membawa misi sosial untuk desa asalnya. Dari ruang kuliah di Universitas Brawijaya, lahirlah AGRIROSE—sebuah usaha florist yang tak hanya mengejar keuntungan, tetapi juga mencoba mengubah cara petani lokal mendapatkan nilai dari hasil kerja mereka.
Berangkat dari kegelisahan melihat rantai distribusi yang timpang di kampung halamannya, mahasiswa Vokasi UB ini merancang bisnis yang sekaligus menjadi alat pemberdayaan. Namun di balik ide besar itu, ada realitas yang jauh lebih rumit: membagi waktu antara kuliah, usaha, dan pengabdian masyarakat yang kerap saling tarik-menarik.
Hal inilah yang mendorong lahirnya usaha Florist AGRIROSE yang dirintis mahasiswa Vokasi Universitas Brawijaya. Tidak hanya berorientasi pada profit, bisnis ini juga diarahkan untuk memberdayakan petani lokal dan memperbaiki rantai distribusi yang selama ini merugikan mereka.
Owner AGRIROSE, Angelina Rochmawati, mengungkapkan bahwa langkah awal membangun usaha tidak lepas dari dukungan kampus terhadap mahasiswa wirausaha. “Dari UB sendiri mendukung mahasiswa untuk berwirausaha. Jadi dari situ saya mulai melihat peluang untuk menjadi pembisnis dari bantuan pendanaan-pendanaan yang ada,” ujarnya.

Selain fokus pada bisnis, Angelina juga mengintegrasikan kegiatan sosial dalam pengembangan usahanya. Ia melihat adanya kebutuhan pembaruan di daerah asalnya, Desa Gunungsari, yang menjadi titik awal pengabdian. “Aku melihat ini sebagai suatu hal yang harus diperbarui di desaku sendiri. Dari situ aku juga melihat peluang, karena diajarkan kalau membangun bisnis itu harus ada pemberdayaan,” jelasnya.
Baca juga:
Bouquet Snack Bangkitkan Wirausaha Perempuan Desa
Melalui program yang dijalankan, ia menargetkan peningkatan kesejahteraan petani, khususnya dalam menghadapi sistem distribusi yang dinilai tidak adil. Menurutnya, selama ini keuntungan lebih banyak dinikmati oleh tengkulak, sementara petani hanya menerima harga rendah. “Pengin meningkatkan perekonomian petani di Desa Gunungsari. Karena sebelumnya mereka dengan adanya sistem itu, kebanyakan untung diambil sama tengkulak,” katanya.
Namun, di balik pengembangan bisnis dan program sosial, Angelina mengakui tantangan terbesar terletak pada manajemen waktu. Ia harus menyeimbangkan antara kuliah, usaha, dan kegiatan pengabdian. “Di pembagian waktunya sih, kita juga harus ngatur skala prioritas. Dari awal memang prioritasnya ke bisnis,” ungkapnya.
Meski demikian, ia tetap menargetkan penyelesaian studi tepat waktu sebagai bagian dari tanggung jawab akademik. Baginya, keberhasilan bukan hanya diukur dari bisnis yang berkembang, tetapi juga kemampuan menjaga komitmen di bidang pendidikan.
Di akhir, Angelina memberikan pesan kepada mahasiswa lain yang ingin memulai langkah serupa. Ia menekankan pentingnya konsistensi dan ketahanan menghadapi tantangan. “Jangan pantang menyerah, karena membangun bisnis dan kegiatan sosial itu enggak semudah itu. Pasti ada naik turunnya, tapi tetap harus fokus ke tujuan awal,” tegasnya.
Inisiatif ini menunjukkan bahwa peran mahasiswa tidak lagi terbatas pada ruang akademik, tetapi juga mampu menjadi agen perubahan ekonomi di masyarakat melalui pendekatan kewirausahaan sosial yang berkelanjutan. (qrn)














