Kanal24, Malang – Kebutuhan tenaga kesehatan yang kompeten terus meningkat seiring berkembangnya layanan kesehatan di Indonesia maupun mancanegara. Di tengah tantangan tersebut, profesi perawat menjadi salah satu garda terdepan yang berperan langsung dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Komitmen mencetak perawat profesional itu kembali ditunjukkan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Brawijaya (FIKES UB) melalui Pengucapan Sumpah Ners yang digelar di Gedung Samantha Krida Universitas Brawijaya, Selasa (23/06/2026). Sebanyak 201 peserta resmi mengucapkan sumpah profesi sebagai penanda berakhirnya pendidikan profesi dan dimulainya pengabdian sebagai tenaga kesehatan profesional.
Baca Juga:
Aplikasi SiCegah Hebat FIKES UB Bantu Edukasi Pencegahan Stunting
Sumpah Ners Jadi Gerbang Awal Profesionalisme
Dekan FIKES UB, Prof. Dian Handayani, S.KM., M.Kes., PhD menjelaskan bahwa sumpah Ners merupakan bagian penting dalam rangkaian penyelesaian pendidikan profesi keperawatan. Prosesi tersebut menjadi simbol kesiapan lulusan untuk memasuki dunia kerja dan mengemban tanggung jawab profesi.

“Sumpah Ners merupakan prosesi dalam rangkaian penyelesaian pendidikan profesi. Setelah mahasiswa menyelesaikan Program Ners dan menjalani praktik profesi secara intensif, mereka kemudian melaksanakan sumpah profesi dan siap mengikuti tahapan selanjutnya sebagai tenaga kesehatan profesional,” ujarnya.
Menurutnya, Program Ners merupakan pendidikan lanjutan yang wajib ditempuh oleh lulusan keperawatan sebelum dapat menjalankan profesinya secara penuh. Karena itu, prosesi sumpah memiliki makna sakral sekaligus menjadi tonggak awal perjalanan karier para lulusan.
Pada kesempatan tersebut, sebanyak 201 lulusan mengikuti pengucapan sumpah. Mereka telah menyelesaikan berbagai tahapan pendidikan dan praktik profesi yang menjadi syarat utama sebelum terjun langsung melayani masyarakat.
Bekal Kompetensi dan Peluang Karier hingga Luar Negeri
FIKES UB tidak hanya mempersiapkan mahasiswa dari sisi akademik, tetapi juga membangun kesiapan mereka menghadapi kebutuhan dunia kerja yang semakin kompetitif. Selama pendidikan profesi, mahasiswa menjalani praktik di berbagai mitra layanan kesehatan, mulai dari rumah sakit, dinas kesehatan hingga fasilitas pelayanan lansia.
Prof. Dian menegaskan bahwa profesi perawat masih menjadi tenaga kesehatan yang sangat dibutuhkan. Namun tingginya jumlah institusi pendidikan keperawatan membuat persaingan kerja semakin ketat sehingga lulusan harus memiliki kompetensi tambahan.
Untuk mendukung hal tersebut, FIKES UB menghadirkan berbagai program pengembangan diri, termasuk mata kuliah pilihan bahasa Jepang bagi mahasiswa yang memiliki minat bekerja atau magang di Jepang.
“Kami memberikan berbagai bekal tambahan, termasuk mata kuliah pilihan seperti bahasa Jepang bagi mahasiswa yang ingin bekerja atau magang di Jepang. Kami juga memberikan kesempatan melalui kerja sama internasional,” jelasnya.
Ia menambahkan, beberapa alumni FIKES UB bahkan telah memperoleh pengalaman magang selama satu tahun di rumah sakit di Jepang. Selain itu, mahasiswa juga mendapatkan kesempatan mengikuti pelatihan tersertifikasi melalui berbagai kerja sama yang didukung Universitas Brawijaya.
Salah satu program yang diberikan adalah pelatihan Certified Global Nurse (CGN) melalui Brawijaya Core yang merupakan anak perusahaan Brawijaya Multi Usaha (BMU). Program tersebut diharapkan mampu meningkatkan daya saing lulusan di pasar kerja nasional maupun internasional.
Upaya tersebut terbukti memberikan hasil positif. Prof. Dian menyebut sekitar 50 hingga 60 persen alumni FIKES UB dapat langsung terserap dunia kerja dalam waktu kurang dari tiga bulan setelah lulus. Sementara sekitar 20 persen memilih melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Perjalanan Lima Tahun yang Berujung Pengabdian
Bagi para lulusan, sumpah profesi bukan sekadar seremoni kelulusan, melainkan momentum yang sarat makna. Perwakilan mahasiswa, Ns. Ghibthoh al Tsaqifah, S.Kep mengatakan bahwa prosesi tersebut menjadi simbol pencapaian setelah menjalani perjalanan pendidikan selama lima tahun.

“Maknanya cukup dalam karena ini merupakan sesuatu yang sakral. Ini adalah awal dari perjalanan karier sekaligus menjadi bentuk pencapaian setelah menjalani pendidikan selama lima tahun,” ungkapnya.
Menurut Ghibthoh, pengalaman yang paling membentuk dirinya selama pendidikan profesi adalah praktik klinik. Berhadapan langsung dengan pasien, dokter, serta lingkungan kerja nyata memberikan pengalaman yang berbeda dibandingkan pembelajaran di kampus.
“Yang paling membentuk saya adalah pengalaman selama praktik klinik. Apa yang kami dapatkan di klinik sangat berbeda dengan yang dipelajari di kampus,” katanya.
Setelah resmi menyandang profesi Ners, Ghibthoh berharap dapat memberikan kontribusi terbaik bagi masyarakat melalui profesi yang dijalaninya. Ia menyatakan siap mengabdi di mana pun kesempatan itu hadir, baik di rumah sakit maupun di lingkungan masyarakat.
“Di mana pun tempat saya berpijak dan mengabdi, di situlah saya ingin memberikan kontribusi terbaik,” tuturnya.
Dengan bekal kompetensi, pengalaman praktik, serta berbagai peluang pengembangan yang diberikan kampus, ratusan Ners baru FIKES UB diharapkan mampu menjadi tenaga kesehatan profesional yang tidak hanya siap bekerja, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi peningkatan kualitas kesehatan masyarakat. (wan)













