Kanal24, Malang – Pertanyaan itu hampir selalu muncul setiap kali publik membaca kasus kekerasan berat. Dari luar, jawabannya tampak sederhana: cukup pergi, kabur, atau mencari bantuan.
Namun dalam banyak kasus kekerasan domestik atau penyekapan, kenyataan bekerja dengan cara yang jauh lebih kompleks. Korban tidak hanya berhadapan dengan kekerasan fisik, tetapi juga dengan manipulasi psikologis yang berlangsung perlahan, sistematis, dan sering kali tidak disadari sejak awal.
Dalam kajian psikologi kekerasan dalam relasi intim (intimate partner violence), kondisi ini sering dijelaskan melalui kombinasi trauma bonding, gaslighting, isolasi sistematis, hingga respons biologis freeze yang membuat korban tampak ātidak bereaksiā.
Baca juga:
Pertanyaan Kencan Pertama yang Bikin Makin Nyambung
Awalnya Tidak Terlihat Sebagai Bahaya
Banyak kasus kekerasan tidak dimulai dengan kekerasan.
Pada fase awal, hubungan justru terasa intens, hangat, bahkan ideal. Pelaku dapat menunjukkan perhatian berlebihan, kasih sayang yang kuat, dan kedekatan emosional yang cepat terbentuk. Dalam psikologi, pola ini dikenal sebagai love bombingāstrategi yang sering dibahas dalam literatur kekerasan relasi sebagai cara membangun ketergantungan emosional sejak dini.
Korban pada tahap ini tidak merasa sedang berada dalam bahaya. Justru sebaliknya, ia merasa menemukan figur yang aman.
Ketika Kekerasan Datang, Realitas Mulai Bergeser
Perubahan biasanya terjadi bertahap. Kekerasan tidak langsung muncul dalam bentuk ekstrem, tetapi dalam pola kecil yang meningkat seiring waktu.
Setelah insiden kekerasan terjadi, pelaku sering menunjukkan penyesalan yang sangat intensāmeminta maaf, menangis, atau berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya.
Pola ini menciptakan siklus yang dalam literatur psikologi kekerasan disebut sebagai cycle of abuse, sebagaimana dijelaskan oleh psikolog Lenore Walker. Siklus ini terdiri dari ketegangan, kekerasan, lalu rekonsiliasi.
Di titik ini, mekanisme gaslighting sering bekerja. Istilah yang banyak dibahas dalam buku The Gaslight Effect oleh Robin Stern ini menggambarkan kondisi ketika korban mulai meragukan persepsinya sendiri terhadap realitas.
Korban tidak lagi hanya bertanya āapa yang terjadiā, tetapi juga āapakah aku yang salah?ā
Dunia yang Menyempit: Isolasi Sistematis
Seiring waktu, ruang hidup korban perlahan menyempit.
Hubungan dengan keluarga mulai berkurang. Lingkar pertemanan hilang. Aktivitas kerja berhenti. Dalam banyak kasus kekerasan, proses ini tidak selalu dilakukan dengan paksaan langsung, tetapi melalui kontrol bertahap yang dibungkus dengan alasan hubungan atau ākebaikan bersamaā.
Pada akhirnya, korban kehilangan support systemājaringan sosial yang biasanya menjadi tempat aman untuk mencari perspektif luar.
Tanpa itu, korban hanya memiliki satu acuan realitas: pelaku.
Ketika Tubuh Memilih Bertahan, Bukan Melawan
Dalam situasi ancaman ekstrem, respons manusia tidak selalu berupa perlawanan atau pelarian. Sistem saraf manusia memiliki respons lain yang bersifat otomatis: freeze.
Kondisi ini membuat seseorang seperti āterkunciāāsecara fisik ada, tetapi secara psikologis tidak mampu bereaksi efektif.
Jika kekerasan berlangsung terus-menerus, korban juga dapat mengalami learned helplessness, konsep yang diperkenalkan oleh Martin Seligman. Dalam kondisi ini, seseorang belajar bahwa upaya apa pun untuk mengubah situasi tidak akan menghasilkan perubahan, sehingga ia berhenti mencoba.
Gabungan antara ketakutan kronis, ancaman berulang, dan kontrol penuh dari pelaku membuat kemampuan pengambilan keputusan korban menjadi sangat terbatas.
Ketika Ruang Gerak Benar-Benar Hilang
Dalam sejumlah kasus ekstrem, kontrol tidak hanya bersifat psikologis tetapi juga fisik.
Ketika korban kehilangan kemampuan mobilitas, akses komunikasi, atau bahkan orientasi terhadap lingkungan sekitar, maka pilihan untuk keluar dari situasi tersebut menjadi hampir tidak mungkin dilakukan tanpa bantuan eksternal.
Pada titik ini, pertanyaan ākenapa tidak kaburā menjadi tidak lagi relevan, karena ruang untuk memilih sudah sangat dipersempit oleh kondisi yang diciptakan secara sistematis.
Memahami Kekerasan, Bukan Menyederhanakan Korban
Kasus-kasus kekerasan seperti ini menunjukkan bahwa korban tidak berada dalam situasi pilihan yang setara.
Yang terjadi bukan sekadar ābertahan atau pergiā, melainkan proses bertahap yang melibatkan manipulasi psikologis, isolasi sosial, dan tekanan fisik yang saling mengunci.
Memahami hal ini penting agar publik tidak terjebak dalam narasi yang menyederhanakan pengalaman korban, melainkan mampu melihat struktur kekerasan yang lebih luasāserta pentingnya intervensi dini, perlindungan hukum, dan dukungan sosial yang nyata bagi korban. (nid)














