Kanal24, Malang – Generasi muda hari ini tumbuh di dunia yang berbeda. Mereka bertemu teman lewat game, membangun komunitas di ruang virtual, hingga mengenal banyak hal pertama kali dari layar ponsel. Di tengah perubahan itu, dunia pendidikan mulai mencari cara baru agar bisa lebih dekat dengan generasi digital.
Hal tersebut yang dibaca Fawwaz Mufid Wardaya, mahasiswa Program Studi Teknologi Informasi Fakultas Vokasi Universitas Brawijaya (UB). Saat banyak orang melihat Roblox sebatas permainan daring, Fawwaz justru melihat peluang lain: menjadikan game sebagai ruang perkenalan kampus dan tempat membangun interaksi anak muda.
Dari ide itu, lahirlah map Universitas Brawijaya di Roblox yang ia kembangkan sendiri.
“Saya melihat ada sebuah celah atau opportunity bahwasanya Roblox ini dibuat untuk hangout,” kata Fawwaz.
Baca juga : Muhammad Andika Rizqi Fauzi dan Upaya Menjaga Harapan Pendidikan di Kota Malang
Berangkat dari kebiasaan anak muda yang gemar berkumpul di ruang virtual, ia mulai mengembangkan map berlatar Universitas Brawijaya agar pengguna dapat mengenal suasana kampus dengan cara yang lebih santai dan dekat dengan keseharian Gen Z.
Menurutnya, map tersebut tidak hanya ditujukan untuk mahasiswa UB, tetapi juga calon mahasiswa dan pengguna lain yang ingin mengenal lingkungan kampus lebih awal.
“Tujuannya untuk mengembangkan atau meluaskan bagaimana mahasiswa atau teman-teman ingin mengenal lebih dahulu tentang UB maupun berkenalan dengan yang lainnya,” ujarnya.
Belajar 3D dari Nol dan Observasi Langsung ke Kampus
Fawwaz mengembangkan proyek tersebut secara mandiri. Ia menggunakan Roblox Studio sebagai platform utama pengembangan game dan Figma untuk mendukung desain visual dua dimensi.
Namun prosesnya tidak berjalan mudah.
“Tantangannya sangat sulit di fase awal development karena saya memulai dari nol semuanya,” katanya.
Ia mengaku harus belajar secara otodidak melalui proses learning by doing, terutama untuk memahami desain tiga dimensi dan membangun detail lingkungan virtual yang menyerupai kondisi asli kampus.
Pengembangan map tersebut memakan waktu sekitar dua bulan hingga siap dimainkan.
Meski begitu, Fawwaz mengatakan proses pengembangannya masih terus berjalan karena banyak detail yang ingin ia sempurnakan.
“Tahapannya dimulai dari brainstorming, development, ada implementation juga,” ujarnya.
Menariknya, proses riset tidak hanya dilakukan di depan laptop. Ia beberapa kali datang langsung ke area kampus UB untuk melakukan observasi bangunan dan suasana lingkungan sekitar.
“Sometimes saya juga ke UB langsung untuk observasi bagaimana gedung-gedung sekitarnya dan apa yang dikembangkan di fitur dalam map-nya itu,” katanya.
Roblox, Ruang Baru untuk Edukasi dan Promosi Kampus
Di tengah banyaknya kekhawatiran terhadap Roblox yang identik dengan anak-anak, Fawwaz melihat platform tersebut sebenarnya memiliki peluang besar sebagai ruang belajar dan interaksi digital.
Menurutnya, Roblox memang memiliki banyak pro dan kontra, terutama bagi anak-anak. Namun ia menilai penggunaan platform digital tetap kembali pada cara pengguna dan lingkungan sekitar mengelolanya.
“Roblox sebenarnya punya banyak opportunity dan punya banyak kesempatan untuk belajar,” ujarnya.
Ia juga menilai peran orang tua tetap penting untuk memantau aktivitas anak di ruang digital agar tetap aman dan sehat.
Baca juga : Membaca Narasi Perjalanan Dr. Hiqma Nur Agustina
Bagi Fawwaz, generasi muda saat ini lebih mudah memahami sesuatu melalui pengalaman visual dan interaktif. Karena itu, platform seperti Roblox dinilai efektif digunakan sebagai media edukasi sekaligus promosi kampus.
“Untuk promosi kampus itu sangat direkomendasikan karena kita bisa memberikan pengalaman virtual,” katanya.
Menurutnya, pengalaman virtual tersebut dapat menarik minat pengguna yang masuk ke dalam map dan secara tidak langsung menjadi bentuk promosi kampus yang lebih dekat dengan anak muda.
“Itu akan menjadi free advertisement sebenarnya,” ujarnya.
Namun ia menegaskan, keamanan dan kenyamanan pengguna tetap menjadi hal penting dalam pengembangan komunitas virtual tersebut.
Fawwaz berharap ruang virtual seperti map UB di Roblox tetap dapat menjadi tempat yang kondusif, aman, dan nyaman, termasuk bagi anak-anak yang ikut bermain di dalamnya.
“Kita tetap bisa menjaga kondusivitas dan juga kebersamaan yang akan membantu sekali untuk membuat aman dan nyaman kepada anak-anak sekalipun,” katanya.
Anak Vokasi yang Tumbuh Bersama Dunia Teknologi
Di balik proyek Roblox tersebut, Fawwaz memang sudah lama aktif di dunia pengembangan teknologi.
Mahasiswa Fakultas Vokasi UB itu menekuni berbagai bidang seperti full-stack development, mobile development, hingga game development.
Ia juga pernah menjalani magang di Pengelola Sistem Informasi dan Kehumasan (PSIK) Fakultas Vokasi UB dan membantu mengembangkan konten website resmi fakultas. Salah satu artikel yang ia buat bahkan mencatat trafik kunjungan hingga 250 persen lebih tinggi dibanding rata-rata artikel lain.
Selain itu, Fawwaz juga menjalani magang sebagai Full-Stack Programmer di PT Sieto Utama dengan fokus pengembangan aplikasi transportasi publik berbasis Flutter dan sistem manajemen dokumen berbasis React JS.
Di tengah perkembangan teknologi yang terus bergerak cepat, Fawwaz menjadi gambaran bagaimana mahasiswa mulai membaca perubahan perilaku generasi digital dan menerjemahkannya menjadi karya yang relevan dengan zamannya.
Bagi sebagian orang, Roblox mungkin hanya permainan. Namun bagi Fawwaz, ruang virtual bisa menjadi cara baru untuk memperkenalkan kampus, membangun komunitas, dan mendekatkan pendidikan dengan dunia Gen Z.(Din/Cay)














