Kanal24, Malang – Perkembangan teknologi mendorong dunia seni untuk terus mengeksplorasi medium dan cara berekspresi yang baru. Melalui New Media Art, seniman dapat memadukan kreativitas dengan teknologi digital, seperti video mapping, proyeksi, dan permainan cahaya untuk menghadirkan pengalaman artistik yang berbeda. Namun, perkembangan seni media baru tidak hanya membutuhkan inovasi karya, tetapi juga ruang kolaborasi, pemerataan pengetahuan, dan regenerasi seniman agar ekosistemnya dapat tumbuh secara berkelanjutan.
Upaya tersebut menjadi salah satu fokus Dipa Media Art yang mengangkat tema “Cahaya yang Menerangi, Cahaya Menghidupkan Ruang” pada Rabu, (28/10/2026). Kegiatan ini menghadirkan diskusi mengenai eksplorasi New Media Art, pemanfaatan teknologi dalam berkarya, serta tantangan pengembangan seni berbasis teknologi. Ketua Pelaksana Dipa Media Art, Danar Tri Yudistira, bersama seniman 3D Bayu Prasetyo dan Abdul Khafidz Fadli, menyoroti pentingnya ruang berekspresi, akses pengetahuan, dan kolaborasi untuk mendorong pertumbuhan ekosistem seni media baru.
Baca juga:
DIPA Mediart Festival Perkuat Globalizing UB Lewat Seni Media
Dipa Media Art Buka Ruang bagi Talenta Baru
Ketua Pelaksana Dipa Media Art, Danar Tri Yudistira, menjelaskan bahwa kegiatan ini berangkat dari keinginan untuk menumbuhkan ekosistem New Media Art yang masih berkembang. Menurutnya, perkembangan seni media baru tidak cukup hanya dengan menghadirkan karya atau seniman, tetapi juga membutuhkan keterlibatan talenta baru yang dapat melanjutkan proses kreatif secara berkelanjutan.

Danar mengibaratkan ekosistem New Media Art sebagai sesuatu yang masih berada pada tahap awal pertumbuhan. Karena itu, Dipa Media Art diharapkan menjadi ruang bersama untuk menemukan bentuk, arah, dan karakter perkembangan seni media baru.
“Harapannya dengan adanya Dipa ini muncul karya-karya baru, muncul seniman-seniman baru yang pondasinya atau arahnya nanti ke media art,” ujar Danar.
Ia menegaskan bahwa keberhasilan kegiatan tersebut tidak semata-mata diukur dari kehadiran seniman, tetapi juga dari terbukanya kesempatan bagi talenta baru untuk terhubung dengan pelaku seni yang telah berpengalaman. Lingkungan Universitas Brawijaya dan sekitarnya menjadi salah satu wilayah yang diharapkan dapat berkontribusi dalam proses regenerasi tersebut.
Melalui pertemuan dan kolaborasi antarpelaku seni, Dipa Media Art diharapkan mampu mendorong kemunculan karya eksperimental sekaligus memperluas partisipasi generasi baru dalam perkembangan seni berbasis teknologi.
Cahaya dan Teknologi sebagai Medium Berkarya
Tema “Cahaya yang Menerangi, Cahaya Menghidupkan Ruang” menjadi landasan eksplorasi karya dalam Dipa Media Art. Danar menjelaskan bahwa pemilihan tema tersebut berkaitan dengan penggunaan cahaya sebagai medium artistik untuk merespons ruang. Pendekatan ini memungkinkan ruang tidak hanya menjadi tempat menampilkan karya, tetapi juga menjadi bagian dari pengalaman artistik yang dibangun seniman.
Eksplorasi tersebut dapat dilakukan melalui penggunaan video mapping dan proyeksi. Dengan memanfaatkan teknologi pencahayaan, seniman dapat mengolah visual dan suasana ruang untuk menghadirkan pengalaman yang berbeda bagi penonton.
Pandangan tersebut sejalan dengan Bayu Prasetyo, seniman 3D yang menjadi salah satu narasumber dalam kegiatan tersebut. Ia memandang New Media Art sebagai ruang untuk berekspresi sekaligus mengenali diri sendiri melalui proses kreatif.
Menurut Bayu, pembahasan mengenai media baru penting bagi mahasiswa karena membuka kesempatan untuk mencoba pendekatan dan teknik yang lebih beragam. Mahasiswa perlu memiliki keberanian untuk mengeksplorasi gagasan tanpa terlalu membatasi diri dalam proses berkarya.
Ia menilai salah satu tantangan yang dihadapi mahasiswa adalah masih adanya keraguan untuk mengekspresikan ide secara luas. Karena itu, mahasiswa didorong untuk terus mencoba, bereksperimen, dan mengembangkan potensi melalui karya.
“Jangan lupa berekspresi, bereksperimen,” pesan Bayu kepada mahasiswa.
Akses Pengetahuan Jadi Tantangan Seni Media Baru
Selain membuka ruang berekspresi, pengembangan New Media Art juga menghadapi tantangan dalam penyebaran pengetahuan dan akses terhadap peralatan teknologi. Abdul Khafidz Fadli menilai bahwa karakter seni media baru terus berkembang seiring munculnya teknologi dan inovasi baru. Kondisi tersebut membuat pemahaman mengenai New Media Art terus mengalami perluasan.
Menurut Abdul, proses berkarya sebaiknya dimulai dari kejujuran dalam mengenali diri sendiri. Pengalaman dan latar belakang seseorang tidak harus menjadi batas dalam menentukan arah kreativitas. Ia mencontohkan pengalamannya yang memiliki latar belakang sebagai engineer mesin, tetapi tetap dapat mempelajari dan mengeksplorasi dunia seni.
Baginya, proses belajar menjadi bagian penting dalam menemukan pendekatan berkarya yang sesuai dengan diri sendiri. Karya yang lahir dari proses tersebut juga diharapkan mampu memantik gagasan dan inspirasi bagi orang lain.
Di sisi lain, kebutuhan terhadap peralatan yang terus berkembang dapat menjadi kendala bagi peserta yang ingin mendalami seni media baru. Tidak semua orang memiliki kemampuan untuk mengakses perangkat yang dibutuhkan. Karena itu, ruang kolaborasi dan kegiatan berbasis komunitas dinilai penting untuk mempertemukan pelaku seni, berbagi pengetahuan, dan membuka kesempatan bereksperimen bersama.
Abdul berharap kegiatan seperti Dipa Media Art dapat diselenggarakan secara berkelanjutan, bahkan setiap empat hingga enam bulan apabila memungkinkan. Intensitas kegiatan yang lebih rutin diharapkan membantu masyarakat mengenal New Media Art sekaligus memperluas kesempatan belajar bagi talenta baru.
Dengan mempertemukan seniman, mahasiswa, dan pegiat teknologi, Dipa Media Art diharapkan tidak berhenti sebagai ruang apresiasi, tetapi berkembang menjadi wadah pembelajaran, kolaborasi, dan regenerasi yang memperkuat ekosistem seni digital.(ffn)














