Kanal24, Malang – Industri animasi tidak hanya bergantung pada kemampuan menghasilkan karya visual yang menarik, tetapi juga pada kreativitas, kemampuan beradaptasi, dan keterampilan membangun hubungan profesional. Di tengah perkembangan teknologi digital, termasuk kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), para kreator perlu terus mengembangkan kemampuan agar dapat menjawab kebutuhan industri sekaligus mempertahankan karakter dalam berkarya.
Berbagai tantangan dan peluang tersebut dibahas dalam talk show industri animasi yang menghadirkan Astu Prasidya, sutradara animasi sekaligus pemilik studio Tul Animation, dan Mahrus Ali sebagai narasumber. Kegiatan yang berlangsung pada Rabu (28/10/2026) ini menjadi ruang berbagi pengalaman mengenai perkembangan teknologi animasi, strategi bertahan di industri kreatif, serta pentingnya kolaborasi untuk memperkuat ekosistem animasi Indonesia.
Baca juga:
Prof Umesh Sharma Tekankan Pendidikan Inklusif Berbasis Konteks Lokal
Kreator Perlu Memahami Tantangan Industri Animasi
Astu Prasidya menjelaskan bahwa talk show tersebut dirancang sebagai ruang diskusi bagi para pelaku animasi, baik yang baru ingin memasuki industri maupun yang telah menjalani profesi tersebut. Pembahasan mencakup pengalaman berkarya, tantangan profesional, hingga strategi menjaga kreativitas di tengah perkembangan industri.

Menurut Astu, pemahaman terhadap dunia animasi perlu dibangun tidak hanya dari sisi teknis produksi, tetapi juga dari pengalaman menghadapi persoalan yang muncul dalam pekerjaan sehari-hari. Melalui pertukaran pengalaman, para kreator dapat memperoleh perspektif baru mengenai cara mengembangkan kemampuan dan mempertahankan keberlanjutan karier.
Salah satu aspek yang menjadi perhatian ialah kemampuan memasarkan jasa dan membangun komunikasi dengan klien. Kreator perlu memahami bagaimana memperkenalkan karya, menjelaskan layanan yang ditawarkan, serta membangun hubungan profesional agar hasil pekerjaannya dapat diapresiasi secara tepat.
Kemampuan tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan seorang animator. Selain menghasilkan karya berkualitas, kreator juga perlu memahami kebutuhan klien, menyampaikan gagasan dengan jelas, dan menjaga komunikasi selama proses pengerjaan proyek.
Diskusi ini diharapkan membantu peserta melihat industri animasi secara lebih menyeluruh, mulai dari proses kreatif hingga aspek profesional yang mendukung keberlangsungan pekerjaan.
Teknologi AI Mengubah Lanskap Animasi
Perkembangan teknologi menjadi salah satu topik yang disoroti Mahrus Ali. Ia menjelaskan bahwa diskusi mengenai animasi turut mencakup perubahan medium dan pemanfaatan teknologi, termasuk AI, yang semakin relevan dalam industri kreatif.
Perubahan tersebut mendorong para pelaku animasi untuk terus mengikuti perkembangan teknologi dan memahami kemungkinan penerapannya dalam proses produksi. Namun, penguasaan perangkat saja tidak cukup. Kreator tetap perlu memiliki gagasan, kepekaan, dan kemampuan mengembangkan konsep agar karya yang dihasilkan mempunyai karakter tersendiri.
Mahrus memandang animasi sebagai bagian dari ekonomi kreatif yang memiliki potensi jangka panjang. Menurutnya, kreativitas merupakan sumber daya yang dapat terus dikembangkan, berbeda dengan sumber daya alam yang memiliki keterbatasan.
Ia juga menilai kreativitas berperan penting dalam berbagai bentuk konten digital. Tanpa gagasan dan pengolahan kreatif, konten berpotensi terasa monoton sehingga kurang menarik bagi audiens.
Pandangan tersebut menegaskan bahwa perkembangan teknologi perlu berjalan beriringan dengan penguatan kemampuan manusia dalam menciptakan karya. AI dan perangkat digital dapat menjadi bagian dari proses kreatif, sementara ide serta keputusan artistik tetap menjadi unsur penting dalam membangun identitas sebuah karya animasi.
Kolaborasi Perkuat Ekosistem Animasi Indonesia
Selain membahas teknologi dan tantangan profesional, Astu menekankan pentingnya membangun hubungan antarpelaku industri animasi. Ia berharap forum seperti talk show dapat mempertemukan kreator dari berbagai generasi dan tingkat pengalaman untuk saling mengenal, berbagi pengetahuan, serta membuka peluang kolaborasi.
Pertemuan antara pelaku berpengalaman dan kreator yang baru memulai karier dapat menjadi ruang pertukaran perspektif. Pengalaman mengenai proses produksi, komunikasi dengan klien, dan penyelesaian persoalan profesional dapat menjadi bekal bagi mereka yang ingin mengembangkan diri di industri animasi.
Kolaborasi juga berpotensi memperluas jaringan kerja dan membuka kesempatan untuk mengembangkan proyek bersama. Dengan komunikasi yang baik, para kreator dapat saling melengkapi kemampuan sekaligus mencari solusi atas tantangan yang dihadapi industri.
Sementara itu, Mahrus mengingatkan para pelaku industri kreatif untuk terus menjaga kreativitas dan mengembangkan karakter masing-masing. Ia menilai setiap orang memiliki kreativitas yang berbeda sehingga keunikan tersebut perlu dipertahankan dalam proses berkarya.
“Pesan buat teman-teman yang lain, tetap jaga kreativitas,” ujar Mahrus. Ia juga mengingatkan pentingnya menjadi diri sendiri dan terus mengembangkan kreativitas.
Melalui diskusi tersebut, penguatan industri animasi tidak hanya dilihat dari kemajuan teknologi, tetapi juga dari kesiapan sumber daya manusia dalam belajar, beradaptasi, dan bekerja sama. Kreativitas, komunikasi profesional, serta kolaborasi menjadi bekal penting bagi para kreator untuk menghadapi perubahan dan memperluas peluang di industri animasi Indonesia.(ffn)














