Kanal24, Malang – Dosen Psikologi Universitas Brawijaya (UB), Dewi Sri Mustikasari, S.Psi., M.Si., bersama tim dosen dan mahasiswa memberikan psikoedukasi pengelolaan stres bagi ibu hamil dan ibu yang memiliki anak usia dini di Desa Sekarpuro, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang, pada 18 Agustus 2026. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini diikuti sekitar 60 peserta sebagai upaya meningkatkan kesadaran tentang pentingnya menjaga kesehatan mental selama kehamilan dan pengasuhan anak.
Kegiatan bertajuk Penguatan Kesejahteraan Sosial dan Kesehatan Mental Ibu Hamil dan Ibu Anak Usia Dini melalui Strategi Pengelolaan Stres tersebut dibuka oleh Kepala Desa Sekarpuro, Sulirmanto, S.M., dan Ketua Posyandu Desa Sekarpuro, Dwi Indrawati.
Dalam kegiatan ini, peserta mendapatkan pemahaman mengenai sumber, tanda, dan cara mengelola stres yang kerap muncul dalam kehidupan sehari-hari. Materi mencakup kelelahan fisik, kurang tidur, perubahan kondisi tubuh selama kehamilan, kekhawatiran menghadapi persalinan, tantangan perilaku anak, tekanan finansial, hingga kurangnya dukungan dari lingkungan terdekat.
Melalui psikoedukasi tersebut, peserta diajak memahami bahwa stres dapat muncul ketika seseorang menghadapi berbagai tuntutan. Karena itu, langkah penting yang dapat dilakukan adalah mengenali pemicu stres, memahami kondisi diri, serta mengembangkan respons yang lebih sehat dalam menghadapi tekanan.

Empat Strategi Mengelola Stres
Dewi Sri Mustikasari menekankan pentingnya memberikan ruang bagi ibu untuk mengenali kebutuhan dirinya sendiri. Ibu tidak harus selalu sempurna dalam menjalankan peran pengasuhan, tetapi juga membutuhkan waktu untuk beristirahat dan dukungan dari pasangan, keluarga, serta lingkungan sosial.
Dalam sesi psikoedukasi, tim memperkenalkan empat strategi utama pengelolaan stres, yakni mengelola pikiran, mengelola diri, membangun komunikasi terbuka, serta meminta bantuan dan dukungan.
Peserta juga diperkenalkan pada sejumlah teknik praktis, seperti latihan pernapasan dalam, kesadaran diri (mindfulness), perawatan diri (self-care), dan pengaturan prioritas aktivitas. Strategi tersebut diharapkan dapat membantu ibu menghadapi rutinitas sehari-hari dengan lebih terarah, termasuk ketika merasa lelah atau tertekan.
Selain mengelola kondisi diri, komunikasi terbuka dengan pasangan dan keluarga menjadi bagian penting dalam materi. Meminta bantuan dipahami sebagai salah satu langkah untuk menjaga kesejahteraan, bukan sebagai tanda ketidakmampuan. Apabila diperlukan, ibu juga dapat mencari bantuan profesional, seperti psikolog atau konselor.
Pengasuhan Anak Membutuhkan Respons yang Tenang
Perhatian khusus diberikan pada situasi pengasuhan yang kerap memicu stres, seperti ketika anak rewel, mengalami tantrum, atau kesulitan makan. Peserta diajak untuk menenangkan diri terlebih dahulu, mengenali kemungkinan penyebab perilaku anak, berkomunikasi dengan tenang, dan memberikan rasa aman dengan memahami perasaan anak.
Tim juga menjelaskan respons yang perlu dihindari ketika menghadapi tekanan dalam pengasuhan, antara lain membentak, memukul, mengancam, atau memberikan label negatif kepada anak.
Pemahaman ini menjadi bagian dari upaya mendorong interaksi yang lebih hangat dan responsif antara ibu dan anak. Dengan mengenali emosi serta mengelola responsnya, ibu diharapkan memiliki lebih banyak pilihan dalam menghadapi situasi pengasuhan yang menantang.
Peserta Merasa Tidak Sendiri Menghadapi Stres
Salah satu hal yang mengemuka setelah kegiatan adalah pemahaman peserta bahwa stres selama menjalani peran sebagai ibu bukanlah pengalaman yang hanya dialami oleh dirinya sendiri. Secara deskriptif, sejumlah peserta menyampaikan bahwa mengetahui pengalaman serupa juga dialami ibu lain menjadi hal bermakna bagi mereka.
Peserta juga merasakan ketenangan setelah mencoba latihan pernapasan yang diperkenalkan dalam sesi psikoedukasi. Latihan tersebut memberikan pengalaman langsung mengenai teknik sederhana yang dapat dicoba ketika menghadapi situasi yang terasa menekan atau melelahkan.
Selain itu, peserta memperoleh arahan yang lebih jelas mengenai langkah-langkah mengelola stres, termasuk hal yang perlu dilakukan dan dihindari ketika menghadapi tekanan, terutama dalam pengasuhan anak.
Pengalaman tersebut menunjukkan pentingnya penyampaian edukasi kesehatan mental melalui materi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari dan latihan yang dapat dipraktikkan secara langsung.

Perkuat Dukungan Kesehatan Mental Ibu
Melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini, tim Psikologi UB berharap pengetahuan tentang pengelolaan stres dapat menjadi bekal praktis bagi ibu hamil dan ibu dengan anak usia dini. Kolaborasi dengan pemerintah desa dan Posyandu Desa Sekarpuro juga menjadi bagian dari upaya mendekatkan edukasi kesehatan mental kepada masyarakat.
Kesejahteraan psikologis ibu perlu mendapat perhatian dalam mendukung lingkungan pengasuhan yang aman dan responsif bagi anak. Karena itu, upaya menjaga kesehatan mental tidak hanya berkaitan dengan kemampuan individu mengelola stres, tetapi juga membutuhkan dukungan dari keluarga dan lingkungan sosial.
Pesan utama kegiatan ini adalah bahwa ibu tidak harus sempurna dan tidak harus menghadapi tekanan seorang diri. Mengenali stres, mencoba strategi pengelolaan yang sesuai, serta membangun dukungan sosial merupakan langkah yang dapat dilakukan untuk membantu ibu menjalani masa kehamilan dan pengasuhan dengan lebih berdaya.
Kegiatan ini dilaksanakan oleh Dewi Sri Mustikasari, S.Psi., M.Si., bersama tim dosen dan mahasiswa Psikologi Universitas Brawijaya, bekerja sama dengan Posyandu Desa Sekarpuro, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang.














