Kanal24, Malang – Keberanian berbicara menjadi salah satu tantangan yang kerap dihadapi pembelajar bahasa Inggris, terutama ketika harus menggunakan bahasa tersebut dalam percakapan secara langsung. Rasa takut melakukan kesalahan tata bahasa maupun pengucapan sering kali membuat seseorang kurang percaya diri untuk memulai komunikasi. Padahal, praktik berbicara secara konsisten menjadi bagian penting dalam membangun kelancaran berbahasa.
Dosen Pendidikan Bahasa Inggris dan Sastra Inggris Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Brawijaya (UB), Grady Mitchell, M. Li., menilai bahwa pembelajar bahasa Inggris perlu lebih berani memulai percakapan tanpa terlalu khawatir terhadap kesalahan. Menurutnya, kepercayaan diri dan kelancaran berbicara membutuhkan pengalaman praktik yang diperoleh melalui interaksi langsung.
Pandangan tersebut disampaikannya di sela kegiatan English Camp 2026 yang diselenggarakan Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris FIB UB pada Rabu hingga Kamis (4–5/11/2026) di Dusun Sahabat Alam, Karangploso, Kabupaten Malang.
Baca juga:
Greenfields Paparkan Standar Modernisasi Peternakan Sapi Perah

Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa baru memperoleh kesempatan untuk mempraktikkan berbagai keterampilan bahasa Inggris yang telah dipelajari selama perkuliahan. Aktivitas yang dikemas melalui permainan, kompetisi, dan penampilan kelompok juga mendorong mahasiswa menggunakan bahasa Inggris secara lebih aktif.
Grady melihat adanya perkembangan kemampuan mahasiswa sejak awal semester, khususnya dalam hal antusiasme untuk berbicara menggunakan bahasa Inggris. Meskipun masih terdapat sejumlah aspek yang perlu ditingkatkan, ia menilai mahasiswa telah menunjukkan kemajuan dalam mengikuti proses pembelajaran.
“Saya melihat mereka semakin antusias untuk berbicara bahasa Inggris. Memang masih ada beberapa hal yang perlu ditingkatkan, tetapi mereka sudah menunjukkan perkembangan yang cukup baik dan terlihat aktif mengikuti kegiatan,” ujarnya.
Menurut Grady, English Camp menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk mengakumulasi berbagai pengetahuan dan keterampilan yang telah diperoleh selama satu semester, khususnya dalam mata kuliah speaking maupun mata kuliah lainnya.
Ia berharap kegiatan tersebut dapat memberikan pengalaman imersi bahasa atau English immersion, sehingga mahasiswa semakin terbiasa menggunakan bahasa Inggris dalam komunikasi sehari-hari.
Melalui pengalaman tersebut, mahasiswa diharapkan tidak hanya memahami materi pembelajaran, tetapi juga memiliki motivasi lebih besar untuk menggunakan bahasa Inggris setelah kegiatan berakhir.
Praktik Percakapan Jadi Kunci Meningkatkan Kemampuan
Grady menekankan bahwa salah satu cara untuk meningkatkan kemampuan bahasa Inggris adalah dengan memperbanyak praktik percakapan. Pembelajar tidak harus selalu mencari penutur asli atau native speaker untuk mengembangkan keterampilan komunikasi.
Menurutnya, kesempatan berbicara dapat dibangun melalui interaksi dengan siapa pun yang memiliki kemauan untuk berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris, termasuk sesama orang Indonesia.
Ia menilai pengalaman berbicara secara langsung memberikan kesempatan bagi pembelajar untuk membiasakan diri menyampaikan gagasan, merespons lawan bicara, dan membangun kelancaran komunikasi.
“Menurut saya, langsung saja mulai berbicara dan melakukan percakapan. Tidak harus berbicara dengan penutur asli. Jika menemukan seseorang untuk diajak berbicara dalam bahasa Inggris, manfaatkan kesempatan tersebut,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa tata bahasa atau grammar tetap menjadi bagian penting dalam pembelajaran bahasa Inggris. Namun, pemahaman tersebut tidak seharusnya menjadi alasan bagi seseorang untuk menunda praktik berbicara.
Menurutnya, kesalahan dalam penggunaan bahasa merupakan bagian alami dari proses belajar. Kemampuan tata bahasa masih dapat diperbaiki melalui pembelajaran di kelas, sedangkan kepercayaan diri dan kelancaran berbicara membutuhkan latihan secara berkelanjutan.
“Hal terpenting adalah merasa nyaman untuk berbicara terlebih dahulu. Tata bahasa masih bisa diperbaiki dengan lebih mudah di kelas, tetapi membangun kepercayaan diri dan kelancaran membutuhkan praktik. Jangan khawatir membuat kesalahan karena belajar bahasa memang merupakan proses melakukan kesalahan dan memperbaikinya,” tambah Grady.
Mahasiswa Baru Rasakan Manfaat Praktik Bahasa Inggris
Pengalaman pembelajaran secara langsung juga dirasakan mahasiswa baru Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris FIB UB, Eunike Priskila Siahaan. Ia menilai English Camp 2026 memberikan pengalaman yang bermanfaat, terutama bagi mahasiswa semester pertama yang masih beradaptasi dengan lingkungan perkuliahan.
Menurutnya, kegiatan tersebut memberikan kesempatan untuk mengenal lebih jauh bidang pendidikan yang akan dijalani selama menempuh studi di Universitas Brawijaya. Berbagai materi, permainan, dan aktivitas kelompok juga menjadi sarana memperoleh pengalaman belajar di luar kelas.

“Menurut saya acara ini sangat bermanfaat, terutama bagi mahasiswa baru. Kami bisa lebih dalam mengenal pendidikan yang akan kami jalani di Universitas Brawijaya. Melalui kegiatan ini, kami berharap mendapatkan ilmu lebih banyak dari materi, permainan, dan berbagai aktivitas yang dijalankan,” tuturnya.
Dari sejumlah rangkaian kegiatan, Eunike mengaku paling menikmati permainan kelompok karena seluruh peserta memperoleh kesempatan untuk berpartisipasi. Selain itu, penampilan drama dari setiap kelas juga menjadi aktivitas yang dinantikannya.
Melalui penampilan tersebut, mahasiswa dituntut terlibat bersama dalam sebuah pertunjukan. Setiap anggota kelompok mendapatkan kesempatan untuk berkontribusi sehingga aktivitas tidak hanya bergantung pada beberapa mahasiswa yang memiliki kemampuan bahasa Inggris lebih menonjol.
Menurutnya, keterlibatan seluruh peserta menjadi pengalaman tersendiri dalam membangun keberanian menggunakan bahasa Inggris di hadapan orang lain.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran bahasa Inggris dapat dikembangkan melalui aktivitas yang memberikan ruang bagi mahasiswa untuk berinteraksi dan berpartisipasi secara aktif.
Melalui English Camp 2026, mahasiswa diharapkan semakin terbiasa menggunakan bahasa Inggris dalam berbagai situasi komunikasi. Keberanian untuk memulai percakapan, kesiapan menerima kesalahan, serta konsistensi dalam berlatih menjadi bagian penting dalam membangun kemampuan berbahasa yang lebih baik.
Dengan demikian, penguasaan bahasa Inggris tidak hanya berhenti pada pemahaman teori dan tata bahasa, tetapi juga berkembang menjadi keterampilan komunikasi yang dapat diterapkan dalam kehidupan akademik maupun keseharian. (nid)













