Kanal24, Jakarta – Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I 2026 menunjukkan tren positif. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Produk Domestik Bruto (PDB) nasional tumbuh 5,61 persen secara tahunan (year on year/yoy), lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Capaian tersebut menjadi angin segar di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih berlangsung. Meski demikian, kalangan pengusaha menilai pertumbuhan tersebut belum sepenuhnya dirasakan merata oleh seluruh sektor usaha.
Sekretaris Jenderal Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI), Anggawira, menyebut ekonomi nasional saat ini masih bergerak di jalur yang cukup baik. Namun, di lapangan masih banyak pelaku usaha yang menghadapi tantangan serius, mulai dari biaya operasional tinggi hingga tekanan daya beli masyarakat.
Menurutnya, ada sejumlah sektor yang menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi Indonesia pada awal tahun ini. Sektor industri pengolahan, perdagangan, pertanian, konstruksi, transportasi, serta akomodasi dan makanan minuman tercatat memberi kontribusi dominan terhadap struktur PDB nasional.
Selain sektor produksi, konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama pertumbuhan. Momentum Ramadhan, Idulfitri, libur panjang nasional, pencairan tunjangan hari raya, hingga stimulus belanja pemerintah mendorong perputaran uang di masyarakat meningkat cukup signifikan.
Aktivitas hilirisasi industri mineral, pembangunan infrastruktur, serta peningkatan distribusi logistik juga ikut memberikan efek berantai terhadap pertumbuhan sektor industri dan perdagangan. Sejumlah kawasan industri bahkan masih mencatatkan geliat produksi yang stabil meski tekanan eksternal belum sepenuhnya reda.
Namun demikian, HIPMI menilai kualitas pertumbuhan ekonomi Indonesia masih perlu diperkuat. Pasalnya, sejumlah sektor padat karya seperti tekstil, alas kaki, dan usaha mikro kecil menengah masih menghadapi tekanan dari lemahnya permintaan pasar serta masuknya produk impor murah.
Tak hanya itu, pelaku usaha juga masih dibebani mahalnya biaya logistik, fluktuasi nilai tukar rupiah, dan ketidakstabilan harga energi. Kondisi tersebut membuat peningkatan penjualan belum tentu berbanding lurus dengan kenaikan keuntungan usaha.
Situasi ini mendorong sebagian investor dan pelaku bisnis mengambil sikap wait and see terhadap ekspansi usaha. Mereka masih menunggu kepastian global dan kestabilan kebijakan ekonomi domestik sebelum menambah investasi baru.
HIPMI menilai pemerintah perlu memastikan pertumbuhan ekonomi yang tercatat tinggi tidak hanya bersifat musiman akibat lonjakan konsumsi saat Lebaran, tetapi mampu berlanjut secara berkesinambungan pada kuartal-kuartal berikutnya.
Karena itu, penguatan daya beli masyarakat, penurunan biaya produksi industri, insentif bagi UMKM, serta penciptaan iklim investasi yang sehat menjadi langkah penting agar pertumbuhan ekonomi nasional benar-benar berkualitas.
Dengan konsumsi domestik yang masih kuat dan sektor industri yang tetap bergerak, Indonesia dinilai memiliki peluang menjaga momentum pertumbuhan sepanjang tahun 2026. Tantangan terbesarnya adalah memastikan manfaat pertumbuhan tersebut benar-benar dirasakan hingga ke level pelaku usaha kecil dan masyarakat luas.














