Kanal24, Malang – Fakultas Ilmu Komputer Universitas Brawijaya (FILKOM UB) menggelar Guest Lecture: From Pixels to Profit Mendesain Produk Digital yang Berdampak di Mini Teater Heuristic Lantai 2, Selasa (05/05/2026). Kegiatan ini menghadirkan praktisi industri untuk memperkuat keterkaitan antara pembelajaran akademik dengan kebutuhan nyata di dunia kerja, khususnya dalam pengembangan produk digital bernilai ekonomi.
Baca juga:
Dekan FILKOM UB Soroti Etika Digital di Tengah Meningkatnya Akses Data
Ketua Program Studi Sistem Informasi, Mochamad Chandra Saputra, S.Kom., M.Eng., M.T., Ph.D., menjelaskan bahwa kehadiran praktisi menjadi bagian penting dalam memberikan perspektif baru bagi mahasiswa.
“Tujuan kami menghadirkan praktisi adalah memberikan wawasan kepada mahasiswa terkait pengalaman-pengalaman studi kasus di dunia industri,” ujarnya.

Ia menilai, selama ini masih terdapat kesenjangan antara teori yang diajarkan di kelas dengan realitas di lapangan. Oleh karena itu, kolaborasi dengan pelaku industri menjadi langkah strategis untuk memastikan materi perkuliahan tetap relevan.
“Kami ingin menyelaraskan pengetahuan yang dimiliki dosen dengan kasus-kasus yang ada di industri sekarang,” jelasnya.
Lebih lanjut, Chandra menekankan pentingnya kemampuan mahasiswa dalam menciptakan nilai ekonomi dari produk digital. Tidak hanya fokus pada tampilan atau aspek teknis, mahasiswa juga dituntut mampu mengubah karya digital menjadi sumber penghasilan.
“Harapan kami mahasiswa tidak hanya terampil mendesain produk digital, tapi juga bisa mendapatkan value berupa income dari produk yang mereka buat,” tegasnya.
Ia menambahkan, saat ini telah banyak platform yang memungkinkan mahasiswa memasarkan karya digital mereka secara luas. Hal ini membuka peluang bagi mahasiswa untuk tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi juga pencipta lapangan kerja melalui produk digital yang inovatif.
Kegiatan ini juga menjadi bagian dari strategi prodi dalam menyiapkan lulusan yang siap menghadapi dunia kerja. Dengan menghadirkan industri ke dalam ruang perkuliahan, mahasiswa dapat memahami kompetensi yang dibutuhkan serta memiliki gambaran karier di masa depan.
“Dengan hadirnya industri, mahasiswa bisa tahu kompetensi apa yang dibutuhkan dan punya bayangan pekerjaan ke depan,” ujarnya.
Chandra berharap kegiatan serupa dapat terus dilakukan secara berkelanjutan untuk memperkuat sinergi antara kampus dan industri. Ia juga mendorong mahasiswa untuk mulai mengembangkan ide bisnis digital, termasuk membangun startup berbasis keahlian yang dimiliki. (cay)














