Kanal24, Malang – Erupsi Gunung Anak Krakatau tidak hanya membuat langit di sejumlah wilayah dipenuhi abu vulkanik, tetapi juga mengacaukan perjalanan udara. Hingga Senin (7/9/2026), sebanyak 1.558 penerbangan terdampak dan sekitar 170 ribu penumpang tertahan akibat gangguan operasional di delapan bandara.
Pemerintah pun menyiapkan lima bandara alternatif yang dapat digunakan maskapai untuk mengalihkan penerbangan. Bandara tersebut yakni Kertajati, Ahmad Yani Semarang, Juanda Surabaya, Yogyakarta International Airport (YIA), dan Solo. Untuk membantu penumpang yang dialihkan, transportasi darat berupa bus dan kereta juga disiapkan secara gratis.
Baca juga:
UB Kaji Kelanjutan Kerja Sama Google untuk Perkuat Transformasi Digital
Delapan Bandara Masih Terdampak
Delapan bandara yang terdampak sebaran abu vulkanik meliputi Bandara Soekarno-Hatta Tangerang, Halim Perdanakusuma Jakarta, Radin Inten II Lampung, Husein Sastranegara Bandung, Budiarto Curug Tangerang, Pondok Cabe Tangerang Selatan, Taufik Kiemas di Pesisir Barat Lampung, serta Atung Bungsu di Pagar Alam, Sumatera Selatan.
Kementerian Perhubungan memperpanjang penutupan sementara bandara-bandara tersebut sebagai langkah keselamatan penerbangan. Untuk Soekarno-Hatta, penutupan diperpanjang hingga Senin (7/9/2026) pukul 08.59 WIB berdasarkan NOTAM yang berlaku.
Keputusan tersebut bukan tanpa alasan. Abu vulkanik dapat membahayakan penerbangan sehingga kondisi ruang udara harus dipastikan aman sebelum operasional kembali dibuka.
Data Kemenhub menunjukkan dampaknya cukup besar. Dari delapan bandara tersebut, tercatat 1.558 penerbangan tertunda dengan sekitar 170.000 penumpang terdampak. Khusus Soekarno-Hatta, sebanyak 963 penerbangan tercatat terdampak berdasarkan pemantauan Minggu (6/9/2026) pukul 17.06 WIB.
Lima Bandara Disiapkan sebagai Alternatif
Di tengah gangguan tersebut, pemerintah tidak menutup seluruh akses penerbangan.
Kemenhub menyediakan sejumlah bandara alternatif, yakni Bandara Kertajati, Bandara Juanda, YIA, serta bandara di Semarang dan Solo. Maskapai dapat memilih bandara tersebut untuk mengalihkan penerbangan sesuai kondisi operasional masing-masing.
Bagi penumpang, pengalihan penerbangan tentu bukan sekadar persoalan berpindah lokasi pendaratan.
Mereka tetap harus memikirkan bagaimana mencapai bandara alternatif dari lokasi semula. Karena itu, InJourney bersama Angkasa Pura menyiapkan transportasi darat berupa bus dan kereta api secara gratis bagi penumpang yang penerbangannya dialihkan.
Langkah ini menjadi penting agar perubahan rute tidak berubah menjadi beban tambahan bagi penumpang.
Arah Abu Vulkanik Terus Berubah
Salah satu alasan kondisi penerbangan harus dipantau secara berkala adalah pergerakan abu vulkanik yang dapat berubah mengikuti arah angin.
Berdasarkan pemantauan pemerintah dan BMKG pada Minggu (6/9/2026), arah angin berubah menuju timur dengan kecepatan sekitar 5 knot pada ketinggian 15.000 kaki. Kondisi tersebut kemudian menjadi pertimbangan dalam memperpanjang penutupan delapan bandara.
Kementerian Perhubungan berkoordinasi dengan BMKG, AirNav Indonesia, pengelola bandara, maskapai, dan pihak terkait untuk memantau perkembangan sebaran abu.
Kondisi tersebut membuat pembukaan kembali bandara tidak bisa ditentukan hanya berdasarkan jadwal.
Selama ruang udara belum dinyatakan aman, penerbangan memang harus menunggu.
Penumpang Tetap Punya Hak
Di tengah kekacauan jadwal penerbangan, pemerintah mengingatkan maskapai untuk tetap memenuhi hak penumpang terdampak.
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menegaskan maskapai harus memberikan informasi terkait perubahan status penerbangan serta penanganan yang sesuai ketentuan. Pilihan seperti perubahan jadwal atau penanganan tiket tetap harus diberikan kepada penumpang sesuai aturan yang berlaku.
Hal ini penting karena gangguan penerbangan akibat bencana alam bisa membuat penumpang berada dalam posisi serba tidak pasti.
Ada yang harus mengejar penerbangan lanjutan, kembali bekerja, menghadiri agenda keluarga, atau sekadar ingin segera pulang.
Dalam situasi seperti itu, informasi yang cepat dan jelas menjadi sama pentingnya dengan tersedianya penerbangan alternatif.
Gangguan Tak Berhenti di Bandara
Dampak erupsi Anak Krakatau juga meluas ke aktivitas masyarakat di luar sektor penerbangan.
Reuters melaporkan abu vulkanik dari erupsi Anak Krakatau mencapai ketinggian hingga 50.000 kaki di sisi Sumatera dan sekitar 20.000 kaki di sisi Jawa. Abu juga menyebar ke sejumlah wilayah, termasuk Banten.
Gangguan kemudian merembet ke aktivitas pendidikan dan masyarakat. Sejumlah wilayah terdampak mengalihkan kegiatan belajar ke sistem daring, sementara masyarakat diimbau menggunakan masker dan mengurangi aktivitas di luar ruangan.
Di sisi lain, tidak ada laporan mengenai korban jiwa maupun perintah evakuasi dalam perkembangan yang dilaporkan tersebut. Pemerintah tetap meminta masyarakat menjauhi kawasan sekitar kawah dan mengikuti informasi resmi mengenai perkembangan aktivitas vulkanik.
Keselamatan Lebih Penting dari Kecepatan
Bagi penumpang yang penerbangannya tertunda, menunggu tentu bukan pilihan yang menyenangkan.
Namun, dalam situasi erupsi gunung api, cepat bukan berarti lebih baik jika keselamatan belum terjamin.
Pemerintah kini harus menjaga dua hal sekaligus: memastikan ruang udara aman dan mempertahankan konektivitas masyarakat melalui bandara alternatif.
Erupsi Anak Krakatau kembali menunjukkan bahwa gangguan alam dapat menjalar jauh dari titik sumbernya. Satu perubahan aktivitas vulkanik bisa berdampak pada penerbangan, mobilitas, pendidikan, kesehatan, hingga aktivitas ekonomi. (ern)














