Kanal24, Malang – OPEC+ memilih menahan kebijakan produksi minyak untuk Oktober 2026. Keputusan ini diambil ketika pasar energi global masih dibayangi gangguan pasokan akibat konflik Iran dan ketegangan di Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi salah satu rute utama perdagangan minyak dunia.
Keputusan tersebut ditetapkan dalam pertemuan tujuh negara OPEC+ pada Minggu (6/9/2026). Arab Saudi, Rusia, Irak, Kuwait, Aljazair, Kazakhstan, dan Oman sepakat mempertahankan kebijakan produksi Oktober. Kelompok produsen minyak tersebut selanjutnya mulai mengarahkan perhatian pada pembahasan kuota produksi untuk 2027.
Baca juga:
Rayakan HUT ke-13, THE 1O1 Malang Gelar Cek Kesehatan hingga Kerja Bakti
Produksi Minyak Oktober Ditahan
Keputusan menahan produksi datang setelah OPEC+ sebelumnya secara bertahap meningkatkan target produksinya.

Pada Agustus 2026, tujuh negara anggota sepakat menaikkan produksi sekitar 188 ribu barel per hari mulai September. Kenaikan itu menjadi bagian dari proses pengembalian pemangkasan produksi sukarela yang sebelumnya diterapkan untuk menjaga keseimbangan pasar minyak.
Namun, kenaikan target produksi tidak otomatis membuat pasokan minyak di pasar bertambah dalam jumlah yang sama.
Gangguan ekspor akibat konflik di Timur Tengah membuat sejumlah negara anggota menghadapi kendala dalam mengirim minyak. Kondisi tersebut membuat OPEC+ harus mempertimbangkan bukan hanya kemampuan produksi, tetapi juga situasi perdagangan dan distribusi minyak global.
Keputusan untuk menahan produksi Oktober akhirnya menjadi langkah hati-hati sambil menunggu perkembangan situasi.
Selat Hormuz Kembali Jadi Perhatian
Selain keputusan OPEC+, pasar minyak kini menghadapi persoalan lain yang tidak kalah penting, yakni kondisi Selat Hormuz.
Jalur yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman tersebut menjadi salah satu jalur penting bagi perdagangan energi dunia. Ketegangan di kawasan itu berpotensi menghambat pergerakan kapal tanker dan mengurangi pasokan minyak yang masuk ke pasar.
Reuters melaporkan pada Senin (7/9/2026), harga minyak Brent sempat mencapai sekitar US$96,80 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) berada di sekitar US$92,14 per barel. Kenaikan tersebut terjadi setelah serangkaian serangan Amerika Serikat dan Iran yang meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan pengiriman minyak.
Lalu lintas kapal komoditas melalui Selat Hormuz juga turun menjadi sekitar 10 kapal per hari, salah satu tingkat terendah sejak Mei.
Situasi ini membuat pasar semakin sulit memprediksi seberapa besar pasokan minyak yang benar-benar tersedia.
Produksi Bertambah Belum Tentu Harga Turun
Ada anggapan bahwa ketika OPEC+ menaikkan produksi, harga minyak otomatis akan turun.
Logikanya tidak sesederhana itu.
Minyak yang sudah diproduksi masih harus dikirim melalui kapal tanker, terminal, dan jalur perdagangan internasional. Ketika distribusi terganggu, tambahan produksi belum tentu langsung sampai kepada konsumen.
Reuters mencatat gangguan ekspor membuat perubahan target produksi OPEC+ tidak selalu menghasilkan tambahan pasokan fisik dalam jumlah yang sama.
Karena itu, keputusan OPEC+ menahan produksi Oktober dapat dilihat sebagai upaya membaca situasi pasar lebih dahulu.
Daripada meningkatkan produksi ketika jalur pengiriman masih menghadapi risiko, kelompok tersebut memilih mempertahankan kebijakan yang ada.
Pasalnya, persoalan pasar minyak saat ini bukan hanya soal berapa banyak minyak yang diproduksi, tetapi apakah minyak tersebut bisa dikirim dengan aman.
Harga Minyak Masih Dibayangi Konflik
Harga minyak global memasuki September dengan tekanan dari sisi geopolitik.
Dalam perkembangan terbaru, harga Brent dan WTI kembali bergerak naik seiring meningkatnya risiko gangguan pasokan dari Timur Tengah. Sekitar seperlima perdagangan minyak dunia biasanya melewati Selat Hormuz sehingga gangguan berkepanjangan dapat memberikan tekanan terhadap pasar energi.
Namun, harga minyak tidak hanya ditentukan oleh konflik.
Permintaan global, stok minyak, kondisi ekonomi negara konsumen besar, serta kebijakan produsen juga ikut menentukan arah harga.
Karena itu, keputusan OPEC+ tidak bisa langsung diterjemahkan sebagai sinyal bahwa harga minyak pasti naik atau turun.
Pasar akan tetap melihat perkembangan pasokan dan permintaan secara keseluruhan.
OPEC+ Mulai Bersiap Hadapi 2027
Selain mempertahankan produksi Oktober, OPEC+ juga mulai mempersiapkan pembahasan mengenai arah produksi tahun depan.
Kelompok tersebut mengevaluasi kapasitas produksi masing-masing negara anggota sebagai salah satu dasar untuk menyusun baseline produksi 2027. Pertemuan berikutnya dijadwalkan berlangsung pada 4 Oktober 2026.
Pembahasan ini penting karena kemampuan produksi setiap negara anggota tidak sama.
Negara dengan kapasitas besar tentu memiliki kepentingan untuk mendapatkan ruang produksi lebih luas. Di sisi lain, OPEC+ tetap harus menjaga keseimbangan antara kepentingan anggota dan kondisi pasar.
Dengan demikian, keputusan Oktober bukan akhir dari kebijakan produksi OPEC+.
Langkah tersebut justru menjadi jeda sebelum pembahasan mengenai kuota 2027 memasuki tahap berikutnya.
Dampaknya Bisa Menjalar ke Indonesia
Pergerakan harga minyak dunia tetap menjadi perhatian bagi Indonesia meskipun Indonesia bukan anggota OPEC+.
Kenaikan harga minyak global dapat meningkatkan biaya impor minyak mentah dan produk BBM. Dalam kondisi tertentu, tekanan tersebut juga dapat merembet ke sektor transportasi dan logistik.
Namun, harga minyak dunia tidak otomatis membuat harga BBM dalam negeri berubah dengan besaran yang sama.
Nilai tukar rupiah, kebijakan pemerintah, subsidi, harga produk energi, serta kondisi pasar domestik ikut menentukan.
Karena itu, keputusan OPEC+ sebaiknya tidak dibaca secara sederhana sebagai tanda bahwa harga BBM Indonesia akan langsung naik.
Menahan Produksi Jadi Pilihan Hati-hati
Untuk kondisi pasar saat ini, keputusan OPEC+ menahan produksi Oktober menunjukkan sikap berhati-hati.
Kelompok tersebut telah meningkatkan produksi secara bertahap, tetapi gangguan di Timur Tengah membuat pasokan global masih sulit diprediksi. Menambah produksi ketika jalur pengiriman terganggu belum tentu memberikan dampak seperti yang diharapkan.
Di sisi lain, OPEC+ juga harus bersiap menghadapi kebutuhan produksi tahun depan.
Keputusan Oktober akhirnya menjadi pilihan untuk menjaga ruang gerak sambil melihat perkembangan geopolitik dan pasar energi. (ern)













