Kanal24, Malang – Pengalaman belajar tidak selalu berhenti di ruang kelas. Bagi mahasiswa, bertemu akademisi dari negara lain dapat menjadi kesempatan untuk melihat pendidikan, budaya, hingga peluang kerja sama dari perspektif yang lebih luas.
Semangat tersebut hadir dalam Eurasia 2026 Course yang digelar di Aula A Lantai 2 Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya (FIB UB), Selasa (8/9/2026). Kegiatan hasil kolaborasi Eurasia Foundation dan FIB UB ini menghadirkan akademisi dari kawasan Asia untuk memperkuat wawasan internasional mahasiswa sekaligus membuka peluang kolaborasi akademik lintas negara.
Baca juga:
Libatkan 500 Relawan, UB dan Lions Club Bersihkan Sungai di Kota Malang
Membuka Cakrawala Mahasiswa ke Dunia Global
Wakil Dekan I Bidang Akademik FIB UB, Dr. Yusri Fajar, S.S., M.A., mengatakan kegiatan Eurasia memiliki arti penting bagi mahasiswa FIB, khususnya mahasiswa dari program studi yang berkaitan dengan bahasa dan budaya asing.

Menurutnya, kehadiran dosen tamu dari Asia Tenggara dan Asia, termasuk Jepang, memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk mendapatkan wawasan langsung dari akademisi dengan latar belakang dan pengalaman berbeda.
“Program Eurasia ini sangat penting bagi para mahasiswa di Fakultas Ilmu Budaya karena akan membuka cakrawala mereka secara global,” ujar Yusri.
Ia menilai wawasan internasional menjadi bekal penting bagi mahasiswa untuk menghadapi persaingan sekaligus peluang di tingkat global. Mahasiswa tidak cukup hanya menguasai kemampuan akademik, tetapi juga perlu memiliki pengalaman berinteraksi dengan lingkungan internasional.
Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa diharapkan lebih siap menghadapi berbagai kemungkinan setelah menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi.
“Harapannya melalui program ini para mahasiswa kita menjadi lebih siap, lebih memiliki kompetensi untuk menghadapi berbagai kemungkinan persaingan global dan juga peluang-peluang yang bisa mereka dapatkan di dunia internasional,” katanya.
Menurut Yusri, kegiatan internasional semacam ini juga sejalan dengan upaya FIB UB memperluas jejaring akademik dengan perguruan tinggi dan akademisi dari berbagai negara.
Dari Kuliah Tamu Menuju Kolaborasi
Eurasia 2026 tidak hanya diarahkan sebagai forum berbagi pengetahuan. FIB UB melihat kegiatan ini sebagai pintu masuk untuk membangun kerja sama yang lebih luas dan berkelanjutan.
Yusri mengatakan hubungan yang terbangun melalui kegiatan tersebut dapat dikembangkan dalam berbagai program akademik, seperti visiting lecture, adjunct professor, UB Stars, publikasi bersama, hingga penelitian kolaboratif.
“Ke depan bisa kita laksanakan melalui program-program prioritas seperti visiting lecture, ajang professor, UB Stars, kemudian program-program join publication, join research,” jelasnya.
FIB UB juga menargetkan adanya peningkatan jumlah akademisi asing yang hadir sebagai pembicara tamu. Selain itu, kerja sama publikasi antara dosen FIB UB dan akademisi dari universitas mitra diharapkan semakin berkembang.
Peluang pertukaran mahasiswa juga menjadi bagian dari target pengembangan kerja sama tersebut.
“Kita juga berharap ada pertukaran pelajar, student exchange dari negara-negara baik Indonesia maupun negara-negara yang telah berkolaborasi dengan kita dengan FIB,” kata Yusri.
Dengan demikian, kegiatan Eurasia tidak berhenti pada satu agenda kuliah tamu, tetapi dapat berkembang menjadi jejaring akademik yang memberikan manfaat bagi dosen maupun mahasiswa.
Pengalaman Kamboja Jadi Pesan untuk Generasi Muda
Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Jepang FIB UB, Dr. Sri Aju Indrowaty, S.Pd., M.Pd., menjelaskan Eurasia 2026 merupakan bagian dari rangkaian kegiatan yang berlangsung hingga Desember 2026.

Program tersebut menghadirkan sejumlah pemateri dari luar negeri maupun dalam negeri. Rangkaian berikutnya akan menghadirkan akademisi dari Jepang dan Malaysia serta sejumlah pembicara lainnya.
Sri Aju berharap kehadiran para akademisi internasional dapat memberikan pengalaman baru bagi mahasiswa. Menurutnya, mahasiswa perlu melihat bahwa proses belajar dapat berlangsung melalui berbagai pengalaman, termasuk interaksi dengan orang dari negara dan latar belakang berbeda.
Salah satu pembicara dalam kegiatan tersebut adalah Prof. Loch Leaksmy, B.Sc., M.A., Professor sekaligus Kepala Departemen Studi Jepang di Royal University of Phnom Penh (RUPP), Kamboja.

Prof. Loch membagikan pengalaman hidupnya kepada mahasiswa, termasuk bagaimana ia tumbuh dalam situasi konflik dan perang di Kamboja. Pengalaman tersebut kemudian membentuk pandangannya mengenai pentingnya pendidikan dalam mendorong perubahan.
“Bagaimana saya berpikir apa yang bisa merubah Kamboja menjadi lebih baik lagi dan salah satu jawabannya adalah dengan pendidikan,” tutur Prof. Loch.
Dari pengalaman tersebut, ia menyampaikan pesan sederhana kepada mahasiswa Indonesia agar tidak mudah menyerah dalam menjalani proses pendidikan maupun kehidupan.
“Jangan menyerah, lakukan sesuatu sampai akhir,” tegasnya.
Prof. Loch juga melihat adanya sejumlah kesamaan antara Kamboja, Jepang, dan Indonesia, terutama dari latar budaya pertanian. Kesamaan tersebut menurutnya dapat menjadi salah satu pintu untuk memahami budaya dan pengalaman masyarakat di negara lain.
Ia juga menyoroti besarnya jumlah generasi muda di Indonesia sebagai sebuah peluang. Kondisi tersebut berbeda dengan Jepang yang menghadapi persoalan penurunan jumlah penduduk usia muda.
Karena itu, ia mendorong mahasiswa Indonesia memanfaatkan kesempatan tersebut dengan terus belajar.
“Belajarlah yang rajin, belajar dari Jepang nanti sampai saat kita bisa melewati Jepang,” ujarnya.
Prof. Loch mengaku mendapat kesan positif selama berkunjung ke Universitas Brawijaya. Ia menyebut lingkungan kampus yang besar, suasana yang sejuk, serta antusiasme mahasiswa menjadi pengalaman yang menyenangkan.
Sementara itu, Sri Aju berharap hubungan yang terbangun melalui Eurasia 2026 tidak berhenti setelah kegiatan selesai. Ia ingin kolaborasi yang telah dimulai dapat terus dikembangkan dan melibatkan lebih banyak pihak.
“Setelah acara ini tidak hanya berhenti sampai di sini. Setelah acara ini kolaborasi tetap jalan,” katanya.
Menurutnya, kerja sama tersebut tidak hanya penting bagi dosen, tetapi juga perlu memberikan ruang lebih besar bagi mahasiswa dan masyarakat kampus untuk terlibat.
Ke depan, FIB UB berharap jejaring internasional yang dibangun melalui Eurasia dapat semakin luas. Tidak hanya dengan negara-negara di kawasan Asia, tetapi juga membuka peluang kolaborasi dengan mitra dari berbagai negara lainnya.
Bagi FIB UB, penguatan wawasan global mahasiswa menjadi bagian penting dalam menyiapkan lulusan yang mampu beradaptasi di tengah lingkungan akademik dan profesional yang semakin terhubung secara internasional. (ern)













