Kanal24, Malang – Dunia kerja kini tidak lagi hanya mempertimbangkan nilai akademik sebagai tolok ukur kemampuan lulusan perguruan tinggi. Sertifikasi kompetensi menjadi salah satu indikator penting yang menunjukkan bahwa seseorang memiliki keterampilan sesuai standar profesi dan siap beradaptasi dengan kebutuhan industri.
Komitmen tersebut diwujudkan Fakultas Sains dan Teknologi Peternakan (FAST) Universitas Brawijaya Dengan Menggelar Uji Kompetensi Batch 3 di Auditorium Lantai 5 Gedung V FAST, Kamis (9/7/2026). Melalui empat skema sertifikasi, mahasiswa dipersiapkan untuk memperoleh pengakuan kompetensi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) sebagai bekal memasuki dunia kerja.
Baca Juga:
Mutu Genetik Sapi PO Terancam, Disertasi FAST UB Tawarkan Arah Baru Pemuliaan Ternak Lokal
Empat Skema Uji Kompetensi Disiapkan Sesuai Kebutuhan Industri
Asesor Kompetensi Bagian Mutu STP LSP Pertanian Nasional, Diah Purnamasari, S.PT., menjelaskan bahwa pelaksanaan Uji Kompetensi Batch 3 tidak jauh berbeda dengan Batch 1 dan Batch 2 yang telah diselenggarakan sebelumnya. Tahun ini terdapat empat skema kompetensi yang diujikan, yakni Analis Pengendalian Mutu (Quality Control), Supervisor Pemasaran, Formulator Pakan, serta Farm Unggas Pedaging.

Setiap batch diikuti sekitar 70 hingga 85 mahasiswa, baik yang akan menjalani ujian komprehensif, telah menyelesaikan komprehensif, menjelang yudisium, maupun setelah yudisium. Menurut Diah, sertifikat kompetensi yang diperoleh nantinya menjadi bekal penting bagi mahasiswa karena mampu meningkatkan nilai jual lulusan saat melamar pekerjaan.
“Setiap batch diikuti sekitar 70 sampai 85 mahasiswa. Harapannya, setelah memiliki sertifikat kompetensi, mereka mempunyai nilai jual yang lebih tinggi saat melamar pekerjaan,” ujarnya
Kemampuan Praktik Mahasiswa Terus Mengalami Peningkatan
Diah menjelaskan bahwa proses asesmen lebih menitikberatkan pada metode observasi dan demonstrasi. Penilaian dilakukan dengan melihat secara langsung keterampilan peserta dalam menyelesaikan setiap unit kompetensi sesuai skema yang dipilih.
Ia mengakui masih terdapat beberapa kekurangan pada aspek keterampilan mahasiswa. Namun dibandingkan pelaksanaan Batch 1 dan Batch 2, hasil observasi pada Batch 3 menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan.
Menurutnya, mahasiswa kini datang dengan persiapan yang lebih matang sehingga mampu menjalankan setiap tahapan uji kompetensi dengan lebih baik. Ia berharap hasil Batch 3 dapat melampaui capaian pada batch sebelumnya.
Sertifikat BNSP Menjadi Nilai Tambah Memasuki Dunia Kerja
Lebih lanjut, Diah menegaskan bahwa sertifikat kompetensi yang diterbitkan oleh BNSP memiliki peran penting dalam mendukung kesiapan kerja lulusan. Sertifikasi tersebut tidak hanya dibutuhkan oleh pencari kerja, tetapi juga menjadi syarat bagi pekerja yang ingin meningkatkan jenjang karier maupun memperoleh kenaikan jabatan.
Dengan memiliki sertifikat kompetensi, lulusan FAST UB dinilai memiliki pengakuan resmi atas kemampuan yang dimiliki sesuai standar nasional. Hal tersebut menjadi nilai tambah yang semakin dibutuhkan oleh dunia industri.
Ia juga menambahkan bahwa peluang kerja lulusan tidak terbatas pada sektor peternakan. Skema seperti Supervisor Pemasaran dapat membuka kesempatan berkarier di bidang pertanian maupun sektor lain yang membutuhkan tenaga kerja dengan kompetensi tersertifikasi.
Melalui Uji Kompetensi Batch 3, FAST UB menegaskan komitmennya dalam menghasilkan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kompetensi yang terverifikasi melalui sertifikasi BNSP. Bekal tersebut diharapkan mampu meningkatkan daya saing lulusan sekaligus menjawab kebutuhan dunia industri akan tenaga kerja yang kompeten. (gal)














