Kanal24, Malang – Kemudahan layanan keuangan digital membuat paylater semakin dekat dengan kehidupan generasi Z, termasuk mahasiswa yang berada pada usia produktif dan mulai berhadapan dengan berbagai kebutuhan finansial. Di satu sisi, paylater dapat memberikan kemudahan dalam memenuhi kebutuhan tertentu, tetapi di sisi lain penggunaannya tanpa pertimbangan matang dapat menimbulkan beban finansial. Kondisi tersebut menjadi latar belakang diangkatnya isu penggunaan paylater dalam film edukasi Will You Paylater.
Materi mengenai film tersebut disampaikan oleh sutradara Will You Paylater, Marcia Sandy Putri, di FIB A Movie Room Lantai 7, Kamis (27/08/2026), dalam kegiatan yang menjadi bagian dari Lomba Inovasi Digital Mahasiswa (LIDM) 2026, khususnya divisi Video Digital Pendidikan. Film ini mengajak mahasiswa dan generasi muda melihat penggunaan paylater dari berbagai sudut pandang, bukan sekadar menempatkannya sebagai layanan yang sepenuhnya positif maupun negatif.
Baca juga:
UB Dorong Keterbukaan Informasi Jadi Budaya, Mahasiswa Ikut Dilibatkan
Paylater Diangkat dari Isu Dekat Mahasiswa
Marcia Sandy Putri mengatakan pemilihan paylater sebagai isu utama dalam film berangkat dari kedekatan layanan tersebut dengan kehidupan generasi Z, terutama mahasiswa. Perkembangan teknologi digital membuat layanan pembayaran dan keuangan dapat diakses dengan semakin mudah.
“Isu utamanya ya paylater karena menurut saya ya itu adalah isu yang paling dekat dengan kita sebagai Gen Z terutama juga mahasiswa,” ujar Marcia.

Menurutnya, pembuatan Will You Paylater tidak hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan kompetisi LIDM 2026. Film tersebut sekaligus menjadi media edukasi mengenai fenomena paylater yang semakin dikenal dan digunakan oleh masyarakat, termasuk kalangan mahasiswa.
Marcia juga melihat proses produksi film sebagai kesempatan untuk menggali penggunaan paylater dari berbagai perspektif. Ia tidak ingin film tersebut hanya memberikan penilaian satu arah, melainkan membuka ruang bagi penonton untuk memahami bagaimana layanan tersebut dapat digunakan secara tepat.
“Dari film ini pun tidak hanya audiens yang belajar, tapi saya juga belajar,” katanya.
Edukasi Tanpa Melarang Penggunaan Paylater
Sebagai film edukasi, Will You Paylater tidak secara khusus mengarahkan penonton untuk sepenuhnya menghindari layanan paylater. Marcia menjelaskan bahwa film tersebut justru berupaya membentuk pola pikir penonton agar mampu melihat manfaat dan risiko dari berbagai sisi.
Menurutnya, keputusan menggunakan paylater pada akhirnya kembali kepada masing-masing pengguna. Karena itu, pemahaman mengenai kebutuhan, tujuan penggunaan, serta konsekuensi finansial menjadi hal penting sebelum mengambil keputusan.
“Bukan memaksa mereka untuk ‘oh enggak boleh paylater’. Sebenarnya bukan seperti itu yang kita inginkan untuk membentuk pola pikir mereka dari berbagai sudut pandang yang berbeda tentang paylater,” jelasnya.
Pendekatan tersebut membuat film tidak hanya berbicara mengenai risiko utang, tetapi juga memperlihatkan bahwa paylater dapat memiliki manfaat ketika digunakan sesuai fungsi dan secara bijaksana. Pesan yang ingin dibangun adalah pentingnya kemampuan pengguna dalam menentukan kapan sebuah layanan keuangan memang diperlukan.
Penonton Mulai Lebih Bijak
Pesan tersebut turut dirasakan oleh penonton setelah menyaksikan Will You Paylater. Athiratun Najwa Zahwa Al-Badrifa menilai film tersebut memberikan edukasi karena tidak hanya memperlihatkan sisi negatif paylater, tetapi juga menjelaskan potensi manfaatnya ketika digunakan dengan tepat.
“Kalau dari aku film ini edukatif banget. Dia enggak cuma ngasih kita gambaran tentang sisi negatif dari paylater, tapi dia juga ngasih kita positifnya dari paylater,” ungkap Athiratun.
Sementara itu, Alya Kartikasari mengaku mendapatkan wawasan baru setelah menonton film tersebut. Salah satu hal yang menarik perhatiannya adalah pembahasan mengenai penggunaan paylater untuk investasi emas.
Bagi Alya, film tersebut juga relevan dengan kondisi mahasiswa baru yang mulai mengenal berbagai layanan keuangan digital. Kemudahan akses seharusnya tidak membuat pengguna mengabaikan kemampuan finansial dan kebutuhan sebenarnya.
“Gunakan paylater dengan baik. Kalau memang butuh banget baru pakai. Kalau emang enggak butuh-butuh banget mending jangan,” tuturnya.
Menurutnya, penggunaan paylater untuk memenuhi kebutuhan yang memang diperlukan dapat dipertimbangkan. Namun, penggunaan hanya demi mengikuti tren atau memenuhi gengsi dinilai perlu dihindari.
Ia juga merasa film tersebut membuat penonton lebih sadar terhadap konsekuensi penggunaan layanan keuangan digital. Terlebih bagi mahasiswa yang masih menjalani pendidikan, kemampuan finansial perlu menjadi pertimbangan sebelum mengambil kewajiban pembayaran.
Melalui Will You Paylater, isu literasi keuangan dikemas melalui media film yang dekat dengan kehidupan generasi muda. Pesan yang dibangun bukan sekadar menghindari atau menggunakan paylater, melainkan mendorong pengguna agar lebih kritis, memahami konsekuensi, serta mampu menentukan keputusan finansial berdasarkan kebutuhan dan kemampuan.(ffn)














