Kanal24, Vietnam – Internasionalisasi pendidikan tinggi tidak lagi berhenti pada kerja sama di atas kertas. Perguruan tinggi mulai mendorong kolaborasi yang langsung menyentuh ruang belajar, termasuk melalui pertukaran pengetahuan dan budaya lintas negara.
Langkah itu dilakukan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya (FISIP UB) dalam kunjungan akademik ke Ho Chi Minh City Open University (HCMCOU), Vietnam. Memasuki hari kedua kegiatan, FISIP UB terlibat langsung dalam sesi pengajaran Bahasa dan Budaya Indonesia yang menjadi bagian dari kurikulum mahasiswa Program Studi Kajian Asia Tenggara di kampus tersebut.
Sesi pembelajaran dipimpin Wakil Dekan Bidang Akademik FISIP UB, Reza Safitri, Ph.D., didampingi Dewa Ayu Putu Eva Wishanti, Ph.D. selaku Sekretaris International Relation Office (IRO) FISIP UB, serta Ika Rizky Yustisia dan Novy Setia Yunas sebagai Staf Ahli Wakil Dekan Bidang Akademik.
Dalam kelas tersebut, mahasiswa HCMCOU yang telah mempelajari Bahasa dan Budaya Indonesia sejak semester empat mendapatkan pemahaman yang lebih komprehensif. Materi tidak hanya menitikberatkan pada aspek linguistik, tetapi juga praktik komunikasi, pemahaman sosial, serta pengenalan identitas budaya Indonesia dalam konteks kawasan Asia Tenggara.
Pendekatan interaktif yang digunakan mendorong partisipasi aktif mahasiswa, sekaligus memperlihatkan bahwa bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan representasi nilai dan identitas budaya.

Reza Safitri menegaskan, kegiatan ini menjadi bagian dari strategi internasionalisasi pembelajaran yang berbasis kolaborasi lintas negara.
“Melalui sesi pengajaran bersama ini, kami ingin menghadirkan pembelajaran yang tidak hanya bersifat akademik, tetapi juga membangun pemahaman lintas budaya secara langsung. Bahasa menjadi pintu masuk penting untuk memahami nilai, identitas, dan dinamika sosial suatu bangsa,” ujarnya.
Ia menambahkan, interaksi langsung antara dosen dan mahasiswa dari kedua institusi membuka ruang kolaborasi yang lebih luas di masa depan.
Kegiatan ini sekaligus memperkuat posisi FISIP UB sebagai mitra strategis dalam pengembangan studi Asia Tenggara di tingkat regional. Pertemuan akademik semacam ini dinilai mampu mendorong kerja sama berkelanjutan, mulai dari pertukaran mahasiswa, penelitian bersama, hingga pengembangan kurikulum internasional.
Melalui langkah ini, FISIP UB tidak hanya memperluas jejaring global, tetapi juga memperkuat diplomasi akademik Indonesia di kawasan ASEAN melalui pendekatan pendidikan dan budaya.(Din)














