Kanal24, Malang – Persoalan sosial dapat menjadi titik awal lahirnya inovasi ketika generasi muda mampu melihatnya sebagai peluang untuk menghadirkan solusi. Pesan tersebut disampaikan dr. Gamal Albinsaid, M.Biomed., dalam 18th Katulistiwa National Seminar yang digelar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya (FEB UB), Senin (24/8/2026).
Gamal, yang dikenal sebagai dokter dan inovator kesehatan sosial, menjadi pemateri dalam seminar bertajuk Impact for the New Economy: Pioneering Sustainable Innovation to Drive Global Competitiveness. Kegiatan yang berlangsung di Aula Gedung F Lantai 7 FEB UB tersebut mengajak mahasiswa melihat kewirausahaan dari perspektif yang lebih luas, yakni tidak hanya mengejar keuntungan, tetapi juga menciptakan dampak bagi masyarakat.
Baca Juga:
Pelatihan AutoCAD Dorong Kompetensi Guru dan Siswa SMK 1 Nglegok
Kewirausahaan Tidak Hanya Soal Keuntungan
Dalam pemaparannya, Gamal mendorong mahasiswa mengubah cara pandang terhadap kewirausahaan. Menurutnya, membangun bisnis seharusnya tidak hanya berangkat dari pertanyaan bagaimana memperoleh keuntungan, tetapi juga dari persoalan apa yang dapat diselesaikan melalui usaha tersebut.

“Hari ini saya berbagi pada adik-adik agar tidak hanya berpikir how to make money, tapi juga berpikir how to solve social problem,” kata Gamal.
Menurut Gamal, pola pikir tersebut menjadi bagian penting dalam membangun social entrepreneurship. Model ini memungkinkan kegiatan usaha tetap memiliki sumber pendapatan sekaligus membawa misi untuk menjawab persoalan sosial.
Ia menjelaskan, kewirausahaan sosial dapat dikembangkan melalui entitas for profit dengan misi sosial maupun organisasi not for profit yang mempunyai sumber pendapatan berkelanjutan. Dengan pendekatan tersebut, keberlanjutan misi tidak sepenuhnya bergantung pada donasi.
Dari Ide ke Model Bisnis
Gamal tidak hanya membahas pentingnya misi sosial, tetapi juga bagaimana gagasan dapat dikembangkan menjadi sebuah usaha. Mahasiswa, menurutnya, perlu mampu mengomunikasikan ide melalui pitch deck yang menjelaskan gagasan dan model bisnis yang ditawarkan.
Tahap berikutnya adalah memahami pendanaan atau funding. Setelah memperoleh dukungan, sebuah usaha perlu menunjukkan perkembangan melalui traction sekaligus membangun revenue stream yang dapat menopang keberlangsungan bisnis.
“Dan yang keempat baru scale up ya dan memastikan sustainability,” ujarnya.
Rangkaian tersebut memperlihatkan bahwa inovasi sosial membutuhkan proses yang terukur. Ide yang baik perlu diterjemahkan menjadi model yang dapat dijalankan, dikembangkan, dan dipertahankan sehingga dampak yang dihasilkan tidak berhenti pada tahap gagasan.
Memulai, Belajar, dan Menjaga Misi
Di hadapan peserta seminar, Gamal juga menekankan pentingnya keberanian untuk memulai. Menurutnya, mahasiswa tidak harus menunggu sebuah ide menjadi sempurna sebelum mengujinya dalam praktik.
“Tugas kita itu sederhana. Segera memulai, terus belajar, konsisten pada misi. Tiga hal itu,” tuturnya.
Pesan tersebut memperkuat semangat 18th Katulistiwa yang mengangkat inovasi berkelanjutan dan daya saing global. Bagi Gamal, orientasi bisnis dan kepedulian sosial dapat berjalan bersama selama usaha memiliki misi yang jelas serta model keberlanjutan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Melalui seminar tersebut, mahasiswa tidak hanya diajak memikirkan peluang pasar, tetapi juga membaca persoalan di lingkungan sekitar sebagai ruang untuk berinovasi. Dengan cara pandang itu, bisnis dapat menjadi sarana menciptakan nilai ekonomi sekaligus menghadirkan solusi atas kebutuhan masyarakat. (ndr)














