Kanal24, Malang – Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada pertengahan Agustus 2026 meninggalkan dampak besar bagi masyarakat di sejumlah wilayah. Selain menyebabkan kerusakan bangunan dan fasilitas umum, bencana tersebut juga menimbulkan korban jiwa serta memaksa puluhan ribu warga meninggalkan tempat tinggal mereka.
Perkembangan penanganan bencana terus berlangsung hingga September. Berdasarkan data terbaru Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada Kamis (10/9/2026), jumlah korban meninggal dunia akibat gempa NTT telah mencapai 136 orang. Dari jumlah tersebut, 48 orang meninggal akibat dampak langsung gempa, sedangkan 88 lainnya tercatat meninggal akibat dampak tidak langsung. Sebanyak 1.762 orang mengalami luka-luka dan 60.572 warga masih mengungsi.
Baca juga:
Kebakaran RSSA, 45 Pasien Anak Dievakuasi
Gempa M7,7 Guncang NTT pada 15 Agustus
Gempa utama terjadi pada Sabtu (15/8/2026) pukul 04.58 WIB. BNPB dalam laporan awal menyebut gempa berkekuatan M7,7 tersebut berdampak pada sejumlah kabupaten di NTT, terutama wilayah Flores.
Pada laporan awal beberapa jam setelah kejadian, BNPB mencatat 14 orang meninggal dunia. Data tersebut kemudian terus berubah seiring proses pencarian, evakuasi, pendataan, serta verifikasi korban di lapangan.
Sehari setelah kejadian, jumlah korban meninggal meningkat menjadi 53 orang. BNPB mencatat korban tersebar di Manggarai, Manggarai Timur, Sikka, Manggarai Barat, Nagekeo, dan Ende. Saat itu, ratusan warga juga mengalami luka-luka dan ribuan rumah dilaporkan mengalami kerusakan.

Perubahan data korban menunjukkan bahwa proses pendataan pascabencana membutuhkan waktu. Petugas gabungan harus melakukan penyisiran wilayah terdampak sekaligus memastikan data korban melalui proses verifikasi dan validasi.
Puluhan Ribu Warga Masih Mengungsi
Besarnya dampak gempa tidak hanya terlihat dari jumlah korban jiwa. Kerusakan rumah dan fasilitas publik membuat puluhan ribu masyarakat harus mengungsi ke lokasi yang lebih aman.
Data BNPB terbaru mencatat sebanyak 98.986 rumah mengalami kerusakan. Dari jumlah tersebut, 26.089 rumah masuk kategori rusak berat, 22.505 rumah rusak sedang, dan 50.392 rumah rusak ringan.
Kerusakan juga terjadi pada fasilitas umum yang menunjang aktivitas masyarakat. BNPB mencatat 712 fasilitas pendidikan, 620 tempat ibadah, dan 157 fasilitas kesehatan terdampak. Selain itu, sebanyak 663 kantor mengalami dampak, 175 titik jalan rusak, serta 47 fasilitas irigasi turut terdampak gempa.
Kondisi tersebut membuat penanganan bencana tidak berhenti pada evakuasi korban. Pemerintah dan tim gabungan juga harus memastikan kebutuhan dasar pengungsi, pelayanan kesehatan, akses transportasi, serta pemulihan fasilitas publik tetap berjalan.
Sebelumnya, pada 25 Agustus 2026, BNPB mencatat jumlah korban meninggal telah mencapai 103 orang dengan 185 ribu orang masih mengungsi. Beberapa hari kemudian, jumlah korban kembali meningkat menjadi 105 orang dengan 1.678 orang mengalami luka-luka.
Penanganan dan Ancaman Gempa Susulan
Penanganan gempa NTT dilakukan secara bertahap dengan melibatkan pemerintah pusat, pemerintah daerah, BNPB, BPBD, Basarnas, tenaga kesehatan, serta berbagai unsur terkait. Bantuan logistik dan peralatan dikerahkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat terdampak sekaligus mendukung proses pemulihan.
Pada fase awal bencana, pemerintah juga mengirimkan bantuan logistik dalam jumlah besar. Upaya tersebut diarahkan untuk memastikan masyarakat yang kehilangan tempat tinggal tetap mendapatkan kebutuhan pokok selama berada di lokasi pengungsian.
Ancaman gempa susulan juga menjadi perhatian. Sehari setelah gempa utama, wilayah sekitar Ruteng, Manggarai, kembali diguncang gempa M5,7 dengan kedalaman 10 kilometer. BMKG menyatakan gempa tersebut merupakan gempa susulan dan mengingatkan masyarakat agar tetap waspada terhadap kemungkinan aktivitas seismik lanjutan.
Aktivitas gempa di wilayah NTT juga masih tercatat setelah fase awal bencana. Pada 8 September 2026, BMKG mencatat gempa M5,2 yang berpusat 60 kilometer barat laut Manggarai Timur dengan kedalaman 10 kilometer. Gempa tersebut dinyatakan tidak berpotensi tsunami, namun BMKG tetap mengimbau masyarakat untuk berhati-hati terhadap kemungkinan gempa susulan.
Dengan jumlah korban yang terus diperbarui, penanganan gempa NTT menjadi proses jangka panjang. Selain memastikan kebutuhan pengungsi terpenuhi, pemulihan rumah, fasilitas pendidikan, layanan kesehatan, jalan, dan infrastruktur lainnya menjadi pekerjaan lanjutan bagi pemerintah dan masyarakat.
Perkembangan terbaru menunjukkan bahwa dampak gempa tidak hanya dihitung dari kerusakan yang terjadi pada saat bencana, tetapi juga dari konsekuensi yang muncul setelahnya. Karena itu, pendataan korban, pemulihan fasilitas publik, dan dukungan terhadap masyarakat terdampak tetap menjadi bagian penting dalam proses pemulihan NTT.(ffn)














