Kanal24, Malang – Di tengah percepatan transformasi digital dan semakin masifnya penggunaan kecerdasan buatan (AI), konsep perpustakaan ikut mengalami perubahan. Ruang yang selama ini identik dengan rak dan tumpukan buku kini dituntut berkembang menjadi pusat informasi yang lebih dinamis dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat modern. Perubahan tersebut ikut mendorong perguruan tinggi menyesuaikan arah pendidikan agar lulusannya tetap relevan di masa depan.
Menjawab tantangan itu, Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya (FIA UB) menggelar Review Kurikulum Program Studi (S1) Ilmu Perpustakaan di Aula Raden Wijaya, Lt. 11 Gedung E FIA UB, Rabu (17/6/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari pembaruan kurikulum berkala yang dilakukan setiap empat tahun untuk menyesuaikan perkembangan industri, kebutuhan pasar, dan perubahan tren di masyarakat.
Baca Juga :
Dari Riset Kanker Payudara Menuju Predikat Wisudawan Terbaik UB
Kurikulum Disusun Ulang Ikuti Kebutuhan Zaman
Ketua Pelaksana kegiatan, Endry Putra, S.I.Kom., M.I.Kom., menjelaskan bahwa evaluasi kurikulum dilakukan sebagai langkah menjaga kualitas dan daya saing lulusan di tengah perubahan yang berlangsung cepat.

“Secara empat tahunan kita pasti akan melakukan pembaruan kurikulum. Segmentasi pasar berubah, tren di masyarakat juga berubah. Otomatis kurikulum yang kita miliki harus di-update juga. Itulah kenapa acara ini kita lakukan,” ujar Endry.
Ia menambahkan, proses penyusunan kurikulum tidak hanya dilakukan secara internal, tetapi juga melibatkan berbagai pihak yang berkaitan langsung dengan dunia kerja dan pendidikan.
Libatkan Stakeholder dan Perkuat Kolaborasi
Menurut Endry, forum ini menghadirkan lima kelompok stakeholder, yakni pengguna lulusan, alumni, mahasiswa, pakar, dan asosiasi. Sejumlah akademisi, praktisi, hingga perwakilan lembaga pemerintah turut dilibatkan untuk memberikan masukan terhadap arah pengembangan program studi.
Selain itu, kegiatan ini juga menjadi ruang memperkuat jejaring kerja sama dengan mitra nasional maupun internasional. Bentuk kolaborasi yang dibangun mencakup konferensi, penelitian, hingga pengabdian kepada masyarakat.
Perpustakaan Dinilai Tetap Relevan di Era AI
Di tengah berkembangnya teknologi, FIA UB menilai perpustakaan masih memiliki posisi penting. Namun, perannya kini tidak lagi terbatas sebagai tempat penyimpanan koleksi fisik.
“Kalau dulu perpustakaan itu sifatnya ruangan, isinya buku segala macam. Tetapi sekarang kita sudah geser. Perpustakaan itu adalah pusat informasi. Salah satunya informasi yang mengandung unsur AI atau teknologi. That’s why perpustakaan akan selalu eksis,” kata Endry.
Melalui kegiatan ini, FIA UB berharap dapat menghasilkan kurikulum yang lebih adaptif sekaligus menjaga hubungan jangka panjang dengan para stakeholder untuk mendukung kualitas pendidikan di masa mendatang. (ger)














