Kanal24, Malang – Kanker payudara masih menjadi salah satu isu kesehatan yang memerlukan perhatian dan penelitian berkelanjutan. Berbagai faktor yang berkontribusi terhadap penyakit ini terus dikaji guna mendukung pengambilan keputusan klinis yang lebih tepat serta meningkatkan kualitas penanganan pasien.
Melalui penelitian yang menghubungkan faktor lingkungan dan faktor laboratorium dengan kejadian kanker payudara, Arrizqi Hafidh Abdussalam, M.Biomed. berhasil meraih predikat Wisudawan Terbaik Program Magister Ilmu Biomedik Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya pada Wisuda Periode XIX Tahun Akademik 2025/2026 dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) sempurna 4,00.
Baca Juga:
Wisudawan Terbaik Program Doktor UB Lahirkan Konsep dari Kearifan Lokal Bali
Teliti Faktor yang Berkaitan dengan Kanker Payudara
Dalam tesisnya, Arrizqi mengangkat isu kanker payudara dengan menghubungkan faktor lingkungan dan faktor laboratorium terhadap kejadian penyakit tersebut. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan tambahan informasi yang bermanfaat bagi para klinisi dalam menangani pasien kanker payudara.
“Jadi untuk isu yang saya angkat dari tesis saya itu tentang kanker payudara. Jadi saya menghubungkan dari faktor lingkungan kemudian ada faktor dari laboratorium dan dihubungkan dengan kejadian kanker payudara sehingga nantinya diharapkan bagi para klinisi bisa mempertimbangkan dari hasil tesis saya tersebut,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia berharap hasil penelitiannya dapat menjadi salah satu bahan pembaruan dalam penilaian prognostik kanker payudara, khususnya bagi dokter onkologi maupun patologi klinis.
“Jadi saya harap untuk tesis saya ini bisa bermanfaat bagi para klinisi, terutama bagi para onkolog atau mungkin dari patologi klinis. Jadi untuk melakukan update pada prognostik dari kanker payudara itu sendiri,” tambahnya.
Tantangan Penelitian dan Publikasi
Selama menempuh pendidikan magister, Arrizqi mengaku tantangan terbesar yang dihadapi berada pada fase penelitian dan publikasi. Menurutnya, kedua tahapan tersebut membutuhkan proses yang panjang dan tidak selalu berjalan sesuai harapan.
“Jadi kalau tantangan terbesar dalam penelitian, menurut saya yaitu di fase penelitian dan publikasi. Memang itu fase yang terberat,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa penelitian memerlukan berbagai tahapan pengujian dan analisis sebelum memperoleh hasil yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Setelah itu, proses publikasi juga harus melalui sejumlah tahapan hingga karya ilmiah dapat dipublikasikan.
“Jadi kita harus melakukan uji segala macam dan untuk publikasinya juga harus melewati fase yang ada beberapa kali, misalkan kita upload dan segala macam. Kita mengalami kegagalan, tapi kita tidak boleh menyerah dan kita harus tetap terus maju,” katanya.
Bagi Arrizqi, ketekunan dan semangat untuk terus belajar menjadi kunci agar setiap tantangan dalam proses penelitian dapat dilalui dengan baik.
Ingin Berkontribusi di Dunia Akademik
Setelah menyelesaikan pendidikan magister, Arrizqi berencana untuk melanjutkan pengabdian di lingkungan akademik. Ia berharap dapat turut berkontribusi dalam proses pendidikan dan pengembangan mahasiswa di Fakultas Kedokteran.
“Jadi untuk ke depannya, mungkin saya akan mengambil dari bagian staf akademik, mungkin akan membantu di Fakultas Kedokteran untuk selanjutnya, untuk membantu bagi mahasiswa juga yang lain,” ungkapnya.
Melalui pencapaian tersebut, Arrizqi berharap ilmu dan pengalaman yang diperoleh selama menempuh pendidikan dapat menjadi bekal untuk terus berkontribusi dalam pengembangan dunia pendidikan maupun penelitian kesehatan di masa mendatang. (wan)














