Kanal24, Malang – Momentum Tahun Baru Islam 1448 Hijriah menjadi refleksi penting bagi umat Islam di tengah berbagai tantangan global yang semakin kompleks. Selain menghadapi tekanan geopolitik, konflik berkepanjangan, hingga ketidakadilan terhadap rakyat Palestina, dunia Muslim juga dihadapkan pada persoalan internal berupa fragmentasi politik, perpecahan sektarian, dan lemahnya solidaritas antarbangsa Muslim.
Gagasan tersebut disampaikan dalam memorandum bertajuk “Hijrah 1448 H: Dari Fragmentasi Menuju Kebangkitan untuk Persatuan – Menangkal Agenda Hegemonik Zionis AS-Israel” yang ditulis oleh Syed Abdullah Assegaf, Peneliti Brawijaya for Islamic Civilization and Middle East Studies (BICMES) Universitas Brawijaya, dalam rangka menyambut Tahun Baru Islam 1448 H.
Baca juga:
Dosen UB Soroti Paradigma Karbala dalam Forum Internasional Iran
Menurut Abdullah, Hijrah Nabi Muhammad SAW bukan sekadar peristiwa perpindahan fisik dari Makkah ke Madinah, melainkan simbol transformasi besar yang mengubah komunitas yang rentan menjadi masyarakat yang kuat, bersatu, dan mampu membangun peradaban.
“Hijrah mengajarkan bahwa perubahan besar hanya dapat diwujudkan melalui persatuan, pembangunan institusi, kepemimpinan yang beretika, serta komitmen terhadap keadilan,” tulisnya.
Fragmentasi Internal Jadi Tantangan Terbesar
Dalam memorandum tersebut, Abdullah menilai bahwa tantangan terbesar umat Islam saat ini bukan hanya berasal dari tekanan eksternal, tetapi juga dari perpecahan yang terjadi di dalam tubuh umat sendiri.
Persaingan politik, konflik sektarian, polarisasi ideologi, hingga rivalitas antarnegara Muslim dinilai telah melemahkan kemampuan dunia Islam dalam merespons berbagai persoalan global secara efektif.
Kondisi tersebut, menurutnya, turut memberikan ruang bagi kekuatan eksternal untuk memperkuat pengaruh politik, ekonomi, maupun militernya di kawasan yang mayoritas dihuni masyarakat Muslim.
Palestina Jadi Simbol Perjuangan Melawan Ketidakadilan
Abdullah menyebut isu Palestina sebagai salah satu contoh paling nyata dari tantangan yang dihadapi dunia Islam saat ini. Konflik berkepanjangan, perluasan permukiman ilegal, blokade Gaza, hingga berbagai tindakan militer yang terjadi selama bertahun-tahun telah menjadikan Palestina sebagai simbol perjuangan melawan ketidakadilan dan pendudukan.
Ia menilai bahwa lemahnya respons kolektif negara-negara Muslim terhadap berbagai krisis kemanusiaan menunjukkan perlunya penguatan solidaritas dan kerja sama strategis antarumat Islam.
“Persatuan umat menjadi kunci untuk menghadapi berbagai bentuk dominasi, baik yang hadir melalui kekuatan militer, ekonomi, politik, maupun kontrol informasi,” ungkapnya.
Kebangkitan Harus Dimulai dari Reformasi Internal
Meski mengkritisi berbagai tekanan eksternal, Abdullah menegaskan bahwa umat Islam tidak boleh hanya menyalahkan pihak luar atas kondisi yang terjadi saat ini.
Ia mengutip Surah Ar-Ra’d ayat 11 yang menegaskan bahwa perubahan hanya akan terjadi ketika suatu kaum berupaya mengubah keadaan dirinya sendiri.
Karena itu, kebangkitan umat Islam harus diawali dengan pembenahan internal melalui peningkatan kualitas pendidikan, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, penguatan ekonomi, serta pembangunan kepemimpinan yang amanah dan bertanggung jawab.
Selain itu, dialog dan rekonsiliasi antarkelompok Muslim juga dinilai penting untuk mengurangi polarisasi yang selama ini menjadi penghambat kemajuan bersama.
Semangat Hijrah untuk Persatuan dan Peradaban
Abdullah menekankan bahwa semangat Hijrah 1448 H seharusnya menjadi momentum untuk bergerak dari perpecahan menuju persatuan, dari ketergantungan menuju kemandirian, serta dari sekadar reaksi emosional menuju strategi yang berorientasi jangka panjang.
Menurutnya, umat Islam perlu kembali membangun visi peradaban yang berakar pada nilai-nilai Islam, sekaligus memperkuangkan keadilan bagi seluruh manusia tanpa memandang latar belakang agama maupun bangsa.
“Hijrah bukan hanya peringatan sejarah, tetapi seruan untuk kebangkitan, pembaruan, dan persatuan,” tegasnya.
Ia menutup memorandum tersebut dengan menekankan bahwa masa depan umat Islam tidak akan ditentukan oleh tindakan pihak lain semata, melainkan oleh kemampuan umat untuk membangun solidaritas, memperkuat institusi, mengembangkan ilmu pengetahuan, dan menjaga komitmen terhadap keadilan serta martabat kemanusiaan.














