Kanal24, Malang – Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tidak lagi sekadar seremoni tahunan, tetapi menjadi momentum refleksi arah pendidikan tinggi di Indonesia. Di tengah tuntutan global, perguruan tinggi didorong tidak hanya menghasilkan lulusan, tetapi juga menciptakan ilmu pengetahuan yang memberi dampak nyata bagi masyarakat.
Hal ini mengemuka dalam upacara Hardiknas 2026 yang digelar Universitas Brawijaya (UB) di Lapangan Rektorat, Sabtu (2/5/2026). Mengusung tema “Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua”, kegiatan ini menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam mendorong transformasi pendidikan.
Rektor UB menekankan bahwa masa depan tidak diwariskan, melainkan dibangun melalui kolaborasi, inovasi, dan komitmen bersama. Pendidikan, menurutnya, harus bergeser dari sekadar proses administratif menjadi kekuatan yang mampu menciptakan perubahan nyata.
“Transformasi pendidikan membutuhkan partisipasi semesta, negara, kampus, industri, hingga keluarga. Pendidikan tidak diukur dari tebalnya laporan, melainkan dari dampak nyata yang dirasakan masyarakat,” ujarnya saat membacakan pidato Menteri Pendidikan.

Sebagai bagian dari rangkaian Hardiknas, UB juga memberikan penghargaan kepada 61 dosen yang berhasil menyelesaikan studi doktoral pada 2026. Pencapaian ini tidak hanya menjadi prestasi individu, tetapi juga bagian dari strategi penguatan kualitas sumber daya manusia di lingkungan kampus.
Penghargaan tersebut dinilai sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi dosen dalam meningkatkan kompetensi akademik sekaligus kontribusi dalam mencerdaskan bangsa. Peran dosen tidak hanya di ruang kelas, tetapi juga melalui riset, pengabdian, dan keterlibatan langsung di masyarakat.
Direktorat Sumber Daya Manusia UB menyebut program ini merupakan agenda rutin yang bertujuan mendorong dosen melanjutkan studi hingga jenjang doktoral. Langkah ini dinilai krusial, mengingat gelar doktor menjadi syarat penting dalam pengembangan pendidikan pascasarjana sekaligus penguatan inovasi di era teknologi.
Salah satu penerima penghargaan menyampaikan bahwa capaian doktoral bukan sekadar gelar akademik, tetapi bagian dari upaya memperkuat kapasitas keilmuan yang berdampak langsung pada sistem layanan publik. Riset yang dikembangkan diarahkan untuk menjawab persoalan nyata, termasuk dalam penguatan sistem kesehatan yang lebih responsif dan terintegrasi.
Momentum Hardiknas di UB menunjukkan bahwa penguatan pendidikan tinggi tidak hanya berfokus pada capaian akademik, tetapi juga pada kontribusi nyata terhadap masyarakat. Tantangan berikutnya terletak pada konsistensi perguruan tinggi dalam memastikan bahwa peningkatan kualitas sumber daya manusia sejalan dengan kebutuhan pembangunan nasional maupun dinamika global.













