Kanal24, Malang – Harga minyak dunia kembali tertekan setelah pasar merespons sinyal meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Penurunan tajam ini dipicu kabar bahwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump disebut enggan melanjutkan perang terbuka dengan Iran, sehingga memicu optimisme baru di pasar energi global.
Pada perdagangan terbaru, harga minyak mentah Brent dilaporkan turun hampir 3 persen ke level sekitar USD 95 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga melemah lebih dari 3 persen dan diperdagangkan di kisaran USD 93 per barel.
Penurunan tersebut terjadi setelah muncul harapan bahwa konflik berkepanjangan di kawasan Timur Tengah dapat mereda melalui jalur diplomasi. Investor mulai mengurangi kekhawatiran terhadap gangguan pasokan minyak global, terutama dari jalur strategis Selat Hormuz yang selama ini menjadi perhatian utama pasar energi dunia.
Baca juga:
Kerugian Ekonomi Akibat Perubahan Iklim Diproyeksi Tembus Rp 2.005 Triliun
Trump Disebut Pilih Jalur Diplomasi
Laporan sejumlah media internasional menyebut Donald Trump lebih memilih pendekatan diplomatik ketimbang memperluas eskalasi militer dengan Iran. Sikap itu dinilai menjadi sinyal positif bagi pasar yang sebelumnya dihantui risiko perang besar di kawasan penghasil minyak utama dunia.
Harapan terhadap keberlanjutan gencatan senjata pun ikut menekan premi risiko geopolitik yang selama beberapa pekan terakhir mendongkrak harga minyak.
Meski demikian, situasi belum sepenuhnya stabil. Sejumlah kelompok militan di kawasan masih menolak kesepakatan damai dan potensi eskalasi sewaktu-waktu tetap membayangi pasar global.
Pasar Energi Mulai Tenang
Analis menilai turunnya harga minyak mencerminkan ekspektasi pasar bahwa gangguan pasokan global tidak akan separah perkiraan sebelumnya. Investor juga mulai memproyeksikan biaya energi yang lebih rendah dapat membantu menekan inflasi di berbagai negara.
Namun volatilitas diperkirakan masih tinggi mengingat perkembangan konflik di Timur Tengah sangat cepat berubah. Sedikit saja eskalasi baru dapat kembali mengerek harga minyak dunia secara signifikan.
Sebelumnya, harga minyak sempat melonjak tajam hingga di atas USD 100 per barel setelah meningkatnya ketegangan militer antara Amerika Serikat dan Iran memicu kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi global.
Dampak ke Ekonomi Global
Turunnya harga minyak membawa efek campuran terhadap ekonomi dunia. Di satu sisi, biaya energi yang lebih murah dapat meringankan tekanan inflasi dan membantu sektor transportasi maupun industri manufaktur.
Namun di sisi lain, pelemahan harga minyak juga berpotensi menekan kinerja perusahaan energi global yang selama ini menikmati lonjakan harga akibat konflik geopolitik.
Pasar kini menunggu arah baru hubungan AS-Iran dan perkembangan diplomasi di Timur Tengah yang akan menjadi penentu utama pergerakan harga minyak dalam beberapa pekan mendatang.














