Kanal24, Malang – Mantan Wakil Presiden RI Jusuf Kalla menilai kondisi ekonomi dunia saat ini tengah mengalami tekanan berat akibat perubahan besar dalam sistem ekonomi global. Pernyataan itu disampaikan JK dalam forum ekonomi internasional yang digelar di Jakarta, ketika berbagai negara mulai meninggalkan pola globalisasi dan bergerak menuju era deglobalisasi.
Menurut Jusuf Kalla, situasi ekonomi global saat ini tidak hanya berdampak pada Indonesia, tetapi juga hampir seluruh negara di dunia. Konflik geopolitik, perang dagang, hingga meningkatnya proteksionisme disebut menjadi pemicu utama perlambatan ekonomi global dalam beberapa tahun terakhir.
Ia menjelaskan bahwa dunia kini mulai meninggalkan sistem perdagangan bebas yang selama puluhan tahun menjadi fondasi globalisasi. Banyak negara justru memperkuat kepentingan domestik melalui kebijakan proteksi industri dan intervensi pemerintah terhadap sektor strategis.
Baca juga:
Konflik Lembur di Balik Tutupnya Gerai Indomaret Saat Libur Nasional
Era Deglobalisasi Mulai Terlihat
JK menilai perubahan menuju deglobalisasi semakin nyata terlihat dari kebijakan ekonomi sejumlah negara besar yang mulai menerapkan tarif impor tinggi untuk melindungi industri dalam negeri.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa negara-negara kini lebih fokus menjaga stabilitas ekonomi domestik dibanding mendorong keterbukaan perdagangan internasional seperti sebelumnya.
Menurutnya, pola ini juga mulai diterapkan di Indonesia melalui penguatan kontrol negara terhadap sejumlah komoditas strategis seperti batu bara, crude palm oil (CPO), hingga ferroalloy.
Ia menyebut perubahan arah ekonomi global tersebut menjadi tanda bahwa dunia sedang memasuki fase baru yang berbeda dibanding era globalisasi beberapa dekade terakhir.
Konflik Geopolitik Jadi Pemicu Perlambatan Ekonomi
Jusuf Kalla menyebut ketegangan geopolitik global menjadi faktor utama yang memperburuk kondisi ekonomi dunia. Konflik Rusia-Ukraina, ketegangan di Timur Tengah, hingga perang dagang antarnegara besar menciptakan ketidakpastian terhadap investasi dan perdagangan internasional.
Situasi tersebut membuat banyak negara lebih berhati-hati dalam membuka pasar dan memperbesar peran pemerintah dalam mengendalikan ekonomi nasional.
Ia menilai kondisi ini merupakan siklus yang memang kerap terjadi dalam sejarah ekonomi dunia. Ketika dunia menghadapi ketidakpastian besar, negara-negara cenderung kembali memperkuat kebijakan nasionalis di sektor ekonomi.
Pemerintah dan Swasta Harus Tetap Seimbang
Di tengah perubahan ekonomi global itu, JK menekankan pentingnya keseimbangan peran antara pemerintah dan sektor swasta. Pemerintah dinilai memiliki tanggung jawab menyediakan regulasi, infrastruktur, serta pengawasan ekonomi, sementara sektor swasta menjadi motor investasi dan pencipta lapangan kerja.
Ia juga mengingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak bisa dipisahkan dari daya beli masyarakat. Ketika masyarakat memiliki penghasilan yang cukup, konsumsi akan meningkat dan mendorong aktivitas ekonomi secara keseluruhan.
Karena itu, menurut JK, menjaga stabilitas ekonomi domestik menjadi langkah penting agar Indonesia tetap mampu bertahan di tengah perubahan besar ekonomi global yang sedang berlangsung.














