Kanal24, Malang – Di tengah maraknya film adaptasi yang berlomba menghadirkan nuansa gelap dan realistis, Masters of the Universe memilih jalan berbeda. Film live-action terbaru yang mengangkat kisah He-Man ini justru merangkul identitas aslinya sebagai petualangan fantasi penuh warna, karakter unik, dan pertarungan klasik antara kebaikan melawan kejahatan.
Langkah tersebut membuat film garapan sutradara Travis Knight tampil menonjol di antara deretan film blockbuster tahun 2026. Menghidupkan kembali waralaba yang telah dikenal selama puluhan tahun bukan perkara mudah, namun film ini mencoba menjembatani nostalgia penggemar lama dengan ekspektasi penonton generasi baru.
Kembalinya Pangeran Adam ke Eternia
Cerita berpusat pada Pangeran Adam yang telah lama hidup di Bumi dan jauh dari dunia asalnya, Eternia. Kehidupan normal yang dijalaninya berubah ketika Pedang Kekuatan kembali muncul dan membawanya menuju takdir yang selama ini terlupakan.

Saat kembali ke Eternia, Adam mendapati kerajaannya telah berada dalam kondisi kacau akibat kekuasaan Skeletor. Dunia yang dulu damai kini dipenuhi konflik dan ketakutan. Dalam situasi tersebut, Adam harus menerima jati dirinya sebagai He-Man, sosok pahlawan yang menjadi harapan terakhir untuk menyelamatkan kerajaan.
Dalam perjalanannya, Adam tidak berjuang sendirian. Ia dibantu Teela dan Duncan atau Man-at-Arms yang setia mendampinginya menghadapi berbagai ancaman. Ketiganya membentuk kekuatan utama dalam upaya merebut kembali Eternia dari tangan penguasa tiran.
Skeletor dan Karakter Ikonik Jadi Daya Tarik
Salah satu sorotan terbesar film ini adalah penampilan Jared Leto sebagai Skeletor. Karakter antagonis legendaris tersebut tampil dengan desain yang tetap mempertahankan ciri khas versi klasik, namun dikemas dengan pendekatan yang lebih modern dan sinematik.

Skeletor menjadi sosok yang mendominasi banyak momen penting dalam film. Ambisinya untuk menguasai Eternia menghadirkan konflik utama yang mendorong perkembangan cerita. Kehadirannya juga memberikan keseimbangan terhadap karakter He-Man yang selama ini dikenal sebagai simbol kekuatan dan keberanian.
Selain Skeletor, film ini turut menghadirkan berbagai karakter ikonik yang selama puluhan tahun menjadi bagian dari dunia Masters of the Universe. Kehadiran mereka menjadi salah satu elemen nostalgia yang paling dinantikan para penggemar.
Menariknya, film tidak berusaha menghilangkan sisi unik dan terkadang nyentrik dari karakter-karakter tersebut. Justru unsur itu dipertahankan dan menjadi bagian dari identitas yang membuat dunia Eternia terasa berbeda dibandingkan franchise fantasi lainnya.
Nostalgia, Humor, dan Aksi dalam Satu Paket
Kekuatan utama Masters of the Universe terletak pada kemampuannya memadukan nostalgia dengan hiburan modern. Film ini tidak hanya menyuguhkan adegan aksi berskala besar, tetapi juga menghadirkan humor yang ringan dan mudah dinikmati.
Pendekatan tersebut membuat film terasa lebih santai dibanding banyak adaptasi lain yang cenderung serius. Penonton diajak menikmati petualangan tanpa harus terbebani konflik yang terlalu kompleks. Nuansa fantasi klasik tetap terasa kuat, sementara visual modern membantu menghadirkan pengalaman menonton yang lebih segar.
Dari sisi produksi, dunia Eternia ditampilkan dengan skala yang megah melalui kombinasi efek visual dan set fisik. Benteng, medan pertempuran, hingga berbagai lokasi ikonik berhasil divisualisasikan dengan detail yang memperkuat atmosfer petualangan.
Meski mendapat respons beragam dari kalangan kritikus, banyak penonton menilai film ini berhasil menangkap esensi yang membuat Masters of the Universe dicintai sejak era animasi. Alih-alih mencoba menjadi sesuatu yang berbeda, film ini memilih merayakan akar waralabanya sendiri.
Pada akhirnya, Masters of the Universe menawarkan sebuah petualangan fantasi yang mengandalkan aksi, karakter ikonik, dan nostalgia sebagai kekuatan utama. Bagi penggemar lama, film ini menjadi kesempatan untuk kembali mengunjungi Eternia. Sementara bagi penonton baru, film ini dapat menjadi pintu masuk untuk mengenal salah satu waralaba fantasi paling berpengaruh dalam budaya populer. (ger)











