Oleh: Wahyu Isroni*
Setiap hari, jutaan liter air dari Hulu Brantas mengalir ke rumah-rumah warga, sawah, industri, hingga kolam budidaya ikan di Jawa Timur. Sungai ini bukan sekadar bentang alam yang membelah wilayah Malang dan Blitar. Ia adalah sumber kehidupan sekaligus penopang aktivitas ekonomi bagi jutaan orang.
Di sepanjang alirannya, sektor perikanan tumbuh menjadi salah satu kekuatan ekonomi daerah. Kota Batu mampu menghasilkan puluhan ribu ton ikan nila setiap tahun, sementara Kabupaten Blitar dikenal sebagai salah satu sentra produksi lele terbesar di Indonesia. Dari sungai inilah lahir perputaran ekonomi bernilai miliaran rupiah yang menghidupi banyak keluarga.
Namun di balik angka-angka produksi yang membanggakan itu, ada pertanyaan yang jarang diajukan: bagaimana kondisi sungai yang menopang seluruh aktivitas tersebut?
Jawabannya mungkin tidak sebaik yang kita bayangkan.
Alarm dari Dasar Sungai
Ketika berbicara tentang pencemaran sungai, perhatian kita sering tertuju pada warna air, bau, atau tumpukan sampah yang terlihat di permukaan. Padahal, kerusakan ekosistem sering kali muncul lebih dulu di tempat yang tidak terlihat.
Salah satu indikator paling jujur untuk membaca kesehatan sungai adalah makrozoobentos, kelompok organisme kecil seperti larva serangga, cacing air, dan siput yang hidup menetap di dasar sungai.
Mereka tidak bisa berpindah jauh ketika kualitas lingkungan memburuk. Karena itu, keberadaan atau hilangnya organisme-organisme tersebut menjadi cermin kondisi sungai dalam jangka panjang.
Penelitian yang dilakukan pada sejumlah titik di kawasan Hulu Brantas menunjukkan sinyal yang patut diwaspadai. Tingkat keanekaragaman makrozoobentos berada pada kategori yang mengindikasikan kondisi tercemar ringan hingga sedang.
Bagi masyarakat awam, temuan ini mungkin terdengar sederhana. Namun bagi para ekolog, ini merupakan alarm penting. Ketika organisme yang sensitif terhadap pencemaran mulai berkurang dan digantikan oleh spesies yang lebih tahan terhadap lingkungan buruk, itu berarti keseimbangan ekosistem sungai sedang mengalami tekanan.
Dengan kata lain, sungai sedang memberi tanda bahwa ada sesuatu yang tidak berjalan semestinya.
Harga yang Harus Dibayar dari Alih Fungsi Lahan
Salah satu penyebab utama tekanan terhadap Hulu Brantas adalah perubahan fungsi lahan di kawasan hulu.
Wilayah yang sebelumnya berfungsi sebagai kawasan penyangga dan penyaring alami air kini semakin banyak dimanfaatkan untuk aktivitas budidaya dan pertanian intensif. Perubahan ini memang menghasilkan nilai ekonomi, tetapi juga membawa konsekuensi ekologis yang tidak kecil.
Hasil pengukuran kualitas air menunjukkan beberapa parameter dasar seperti suhu, tingkat keasaman (pH), dan oksigen terlarut masih berada dalam batas yang relatif aman. Namun persoalan muncul pada parameter lain yang lebih sensitif terhadap aktivitas manusia.
Tingginya nilai Total Suspended Solids (TSS) menunjukkan meningkatnya sedimentasi akibat erosi tanah yang terbawa ke badan sungai. Sementara nilai Biochemical Oxygen Demand (BOD) yang tinggi mengindikasikan banyaknya bahan organik yang masuk ke perairan, baik dari aktivitas pertanian maupun limbah domestik.
Secara sederhana, sungai harus bekerja lebih keras untuk “membersihkan” dirinya sendiri.
Ketika beban itu terus bertambah, kemampuan alami sungai untuk menjaga kualitas air perlahan akan menurun.
Ironi di Balik Produksi Perikanan
Di sinilah ironi besar itu muncul.
Perikanan yang menjadi kebanggaan kawasan Hulu Brantas sesungguhnya sangat bergantung pada kualitas air yang sehat. Semakin baik kondisi sungai, semakin besar peluang keberhasilan budidaya ikan.
Sebaliknya, ketika kualitas air menurun, risiko penyakit, kematian ikan, dan penurunan produktivitas akan semakin meningkat.
Artinya, keuntungan ekonomi yang dinikmati hari ini sesungguhnya bergantung pada kesehatan ekosistem yang sama.
Jika sungai terus mengalami degradasi, maka sektor ekonomi yang selama ini tumbuh di atasnya juga akan menghadapi ancaman yang tidak kecil.
Menjaga Hulu, Menjaga Masa Depan
Menyelamatkan Hulu Brantas bukan berarti menghentikan aktivitas ekonomi. Sebaliknya, upaya ini diperlukan agar aktivitas ekonomi tetap dapat berlangsung secara berkelanjutan.
Pengendalian alih fungsi lahan di kawasan hulu, perlindungan sempadan sungai, penerapan praktik pertanian yang lebih ramah lingkungan, hingga penguatan pengawasan kualitas air perlu menjadi agenda bersama yang melibatkan pemerintah, akademisi, pelaku usaha, dan masyarakat.
Data ilmiah telah menunjukkan bahwa tekanan terhadap ekosistem Hulu Brantas nyata adanya.
Pertanyaannya sekarang bukan lagi apakah sungai ini sedang mengalami masalah, melainkan seberapa cepat kita bersedia bertindak sebelum kerusakan yang terjadi menjadi semakin sulit dipulihkan.
Selama ini kita bangga pada angka produksi ikan, pertumbuhan ekonomi, dan berbagai capaian pembangunan yang ditopang oleh Sungai Brantas. Namun kita juga perlu mengingat bahwa semua itu hanya mungkin terjadi jika sungainya tetap sehat.
Sebab ketika hulu kehilangan kemampuannya menjaga kehidupan, yang terancam bukan hanya ekosistem sungai. Kita juga sedang mempertaruhkan sumber penghidupan yang selama ini menopang Jawa Timur.
*)Wahyu Isroni, Mahasiswa PhD Universiti Malaya dan Research Fellow Pusat Studi Pesisir dan Kelautan Universitas Brawijaya
Catatan Opini ini ditulis berdasarkan jurnal imilah penulis dengan judul Assessment of Water Quality in the Upper Brantas River Using Macrozoobenthos as Bioindicators (https://www.iieta.org/journals/ijdne/paper/10.18280/ijdne.200622)














