Kanal24, Malang – Tidak semua pertengkaran berakhir dengan permusuhan. Dalam kehidupan sehari-hari, adu mulut antara kakak dan adik justru sering menjadi bagian dari proses belajar memahami, berbagi, hingga saling menjaga. Momen-momen sederhana yang akrab di banyak keluarga itu menjadi inspirasi lahirnya buku cerita anak Telur Dadar Ambyar, sebuah karya yang mengajak pembaca melihat bahwa kasih sayang tidak selalu hadir dalam bentuk kata-kata manis.
Pesan tersebut disampaikan Rindha Devie, penulis Telur Dadar Ambyar, saat acara Podcast “Lets Talk” yang diproduksi UBTV di Studio UBTV Lantai 2 Gedung Direktorat Universitas Brawijaya, Selasa (4/8/2026). Melalui buku itu, alumni Universitas Brawijaya sekaligus anggota Brawijaya Writers Club (BWC) ingin menghadirkan bacaan anak yang dekat dengan kehidupan keluarga sekaligus menanamkan nilai kebersamaan sejak dini.
Baca juga:
Pemantauan Dini Jadi Kunci Tumbuh Kembang Anak Optimal
Pertengkaran Kakak-Adik Menjadi Inspirasi Cerita
Rindha mengungkapkan bahwa ide cerita berangkat dari pengalaman yang sangat dekat dengan kehidupan banyak keluarga, yakni hubungan kakak dan adik yang kerap diwarnai pertengkaran kecil.

Menurutnya, keributan bukan selalu menjadi tanda buruknya hubungan antar saudara. Justru di balik perbedaan pendapat, saling berebut, hingga adu argumen, tersimpan rasa peduli yang sering kali tidak diungkapkan secara langsung.
Ia berharap pembaca, terutama anak-anak dan orang tua, dapat melihat bahwa hubungan saudara merupakan ruang pertama untuk belajar berbagi, bekerja sama, sekaligus menyelesaikan konflik dengan cara yang baik.
“Bukan karena mereka saling membenci, tetapi justru karena mereka adalah orang yang paling dekat dan paling peduli satu sama lain,” ujar Rindha.
Melalui sudut pandang tersebut, Telur Dadar Ambyar tidak hanya menjadi cerita hiburan, tetapi juga menghadirkan refleksi mengenai pentingnya membangun hubungan yang hangat di dalam keluarga.
Telur Dadar Jadi Simbol Kemandirian Anak
Di balik judulnya yang unik, terdapat filosofi sederhana yang lahir dari kebiasaan sehari-hari.
Rindha bercerita bahwa telur merupakan makanan yang paling mudah dimasak anak-anak ketika mulai belajar mandiri. Ia membiasakan anak-anak membuat telur sendiri sejak usia dini karena prosesnya sederhana sekaligus melatih rasa percaya diri.
Tidak semua percobaan berjalan sempurna. Ada kalanya telur menjadi gosong, bentuknya berantakan, atau bahkan hancur saat dimasak. Namun menurutnya, kesalahan-kesalahan kecil tersebut justru menjadi bagian penting dari proses belajar.
“Kadang telurnya gosong, kadang ambyar. Dari situ mereka belajar mandiri dan belajar bekerja sama,” katanya.
Bagi Rindha, pengalaman sederhana seperti itu mampu mengajarkan anak untuk tidak takut mencoba, berani menghadapi kegagalan, sekaligus memahami pentingnya saling membantu dalam keluarga.
Selain menyampaikan nilai kehidupan, ia mengakui tantangan terbesar dalam menulis bukan terletak pada proses merangkai kalimat, melainkan menemukan ide dan membangun alur cerita yang mampu dinikmati anak-anak.

Literasi Anak Harus Tetap Tumbuh di Era Digital
Di tengah derasnya arus informasi digital, Rindha menilai budaya membaca tetap memiliki peran penting dalam membentuk cara berpikir anak.
Menurutnya, buku cerita memberi ruang bagi anak untuk membangun imajinasi, memahami alur, dan melatih kemampuan berpikir sesuai tahap perkembangannya. Berbeda dengan konten digital yang bergerak cepat, membaca membuat anak lebih aktif mengolah informasi yang diterimanya.
Sebagai anggota Brawijaya Writers Club, ia juga merasakan pentingnya komunitas dalam mendukung perjalanan seorang penulis. Melalui komunitas tersebut, anggota mendapatkan pendampingan mulai dari proses mencari ide, menulis naskah, penyuntingan, hingga akhirnya buku diterbitkan.
Ia berharap semakin banyak masyarakat, khususnya orang tua, yang membiasakan anak membaca sejak usia dini karena kebiasaan tersebut menjadi fondasi penting dalam membangun karakter, kreativitas, sekaligus kemampuan berpikir kritis.
Bagi pembaca yang ingin mendapatkan buku Telur Dadar Ambyar maupun karya lain terbitan Brawijaya Writers Club, informasi dapat diperoleh melalui akun Instagram resmi komunitas tersebut.













