Kanal24, Malang – Indonesia mencatatkan pencapaian penting dalam sektor kelautan dan perikanan. Pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) resmi mengumumkan bahwa Indonesia menjadi negara pertama di dunia yang memiliki sistem ketertelusuran hasil perikanan yang memenuhi standar global. Pengakuan ini diberikan setelah sistem nasional STELINA (Sistem Ketertelusuran dan Logistik Ikan Nasional) dinyatakan selaras dengan standar GDST (Global Dialogue on Seafood Traceability), yang selama ini digunakan pelaku industri perikanan internasional sebagai acuan utama transparansi produk.
Pencapaian ini sekaligus menjadikan Indonesia sebagai pionir dalam upaya memperkuat rantai pasok perikanan global yang lebih akuntabel, transparan, dan berkelanjutan. Ketertelusuran produk menjadi tuntutan penting dalam perdagangan internasional, terutama karena konsumen global kini menempatkan aspek legalitas, keberlanjutan, serta keamanan pangan sebagai faktor utama dalam memilih produk laut.
Baca juga:
Transaksi Digital RI Tembus US$ 538 Miliar
Standar Baru untuk Industri Perikanan
Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan, Machmud, menyampaikan bahwa keselarasan STELINA dengan standar GDST merupakan loncatan besar bagi transformasi digital perikanan nasional. Ia menegaskan bahwa sistem ini bukan sekadar basis data biasa, tetapi menjadi instrumen penting dalam membangun kepercayaan pasar global.
Menurutnya, STELINA telah mampu mengintegrasikan berbagai elemen penting dalam rantai nilai perikanan, mulai dari informasi kapal, lokasi penangkapan, metode penangkapan, proses produksi, hingga distribusi. āDengan adanya sistem ini, kita bisa membuktikan kepada dunia bahwa produk perikanan Indonesia berasal dari sumber yang legal, tercatat, dan dapat diverifikasi,ā ujar Machmud dalam keterangannya.
Penerapan standar GDST lewat STELINA juga memudahkan pelaku usaha untuk memenuhi berbagai persyaratan ekspor yang semakin ketat. Negara-negara tujuan ekspor, terutama di Amerika Serikat, Uni Eropa, dan Jepang, kini mensyaratkan ketertelusuran sebagai bagian dari upaya global melawan praktik penangkapan ikan ilegal atau IUU fishing.
Penguatan Kolaborasi dan Pelatihan Regional
Keberhasilan ini tidak diraih sendirian. KKP menggandeng berbagai lembaga internasional untuk memastikan bahwa sistem ketertelusuran di Indonesia berjalan sesuai standar global. Kerja sama dengan SEAFDEC dan JICA turut memperkuat implementasi STELINA, termasuk melalui pelatihan regional yang digelar di Surabaya pada 10ā13 November 2025.
Dalam kegiatan tersebut, negara-negara Asia Tenggara diajak mempelajari praktik terbaik Indonesia dalam mengembangkan sistem ketertelusuran berstandar internasional. Hal ini sekaligus menempatkan Indonesia sebagai rujukan regional dalam digitalisasi perikanan.
STELINA kini telah dilengkapi teknologi QR code, fitur interoperabilitas, dan mekanisme pertukaran data digital yang memungkinkan pelaku usaha kecil hingga korporasi besar untuk mengakses dan memperbarui informasi secara real time. Sistem ini dirancang untuk ramah pengguna, sehingga nelayan kecil pun dapat memanfaatkan teknologi tanpa hambatan berarti.
Dampak Besar bagi Ekspor Perikanan
Di pasar global, kepercayaan konsumen menjadi aspek krusial dalam menjaga keberlanjutan ekspor. Dengan standardisasi ketertelusuran, Indonesia memiliki daya tawar lebih kuat untuk memasuki pasar premium yang menuntut transparansi penuh atas rantai pasok produk laut.
Machmud menyebut bahwa implementasi STELINA akan berdampak langsung pada peningkatan nilai ekspor karena pembeli internasional kini mengutamakan produk yang dapat dilacak asal-usulnya. āKualitas saja tidak cukup. Dunia ingin tahu bagaimana ikan itu ditangkap, dari kapal apa, dan apakah prosesnya berkelanjutan. Indonesia kini sudah bisa membuktikan semua itu,ā ucapnya.
Selain itu, keberhasilan ini juga diharapkan dapat menurunkan hambatan non-tarif yang selama ini kerap menjadi kendala dalam perdagangan produk perikanan Indonesia. Dengan mematuhi standar GDST, eksportir Indonesia lebih mudah diterima di pasar global yang sangat kompetitif.
Tantangan dan Upaya Berkelanjutan
Meski menjadi negara pertama yang mengadopsi sistem ketertelusuran berstandar GDST, Indonesia masih harus menghadapi berbagai tantangan teknis dan operasional. Salah satunya adalah memastikan adopsi penuh oleh seluruh pelaku usaha, terutama di wilayah pesisir dan daerah terpencil. Akses jaringan, literasi digital, serta kapasitas SDM menjadi faktor penting yang harus terus diperkuat.
Selain itu, keberhasilan sistem ini juga sangat bergantung pada penegakan hukum terhadap praktik IUU fishing. Ketertelusuran tidak akan efektif jika penangkapan ilegal masih terjadi di lapangan. Karena itu, KKP menegaskan komitmennya untuk memperkuat pengawasan laut dan memperluas kerja sama internasional.
Pemerintah juga menargetkan agar STELINA menjadi sistem yang terintegrasi dengan berbagai platform global agar memudahkan verifikasi dan pertukaran data lintas negara. Dengan demikian, posisi Indonesia sebagai penyuplai produk perikanan berkelanjutan dapat terus diperkuat.
Dengan pencapaian menjadi negara pertama yang memiliki sistem ketertelusuran perikanan berstandar global, Indonesia menunjukkan langkah nyata dalam memperkuat industri perikanan modern yang transparan, legal, dan berkelanjutan. Implementasi STELINA tidak hanya mempertegas komitmen terhadap ekonomi biru, tetapi juga membuka peluang besar bagi peningkatan daya saing dan akses pasar internasional.
Langkah progresif ini menempatkan Indonesia di barisan depan negara-negara yang mampu menjawab tuntutan global, sekaligus melindungi masa depan laut dan kesejahteraan nelayan. Jika sistem ini terus dikembangkan secara inklusif dan konsisten, Indonesia akan semakin kokoh sebagai kekuatan utama dalam industri perikanan dunia. (nid)










