Kanal24, Malang – Produktivitas susu sapi perah di Indonesia masih menghadapi tantangan besar akibat stres panas (heat stress), penyakit metabolik, hingga keterbatasan pemantauan kesehatan ternak secara dini. Menjawab persoalan tersebut, sebuah inovasi berbasis Internet of Things (IoT) berupa Smart Ear-Tag Bluetooth Low Energy (BLE) dikembangkan sebagai solusi cerdas yang dirancang khusus untuk peternakan sapi perah di iklim tropis.
Tidak sekadar menjadi alat pemantau kesehatan ternak, teknologi ini telah mencapai Tingkat Kesiapan Teknologi (TKT) 7 atau telah teruji pada lingkungan operasional nyata. Dengan capaian tersebut, Smart Ear-Tag BLE dinilai siap memasuki tahap hilirisasi menuju pilot project industri dan komersialisasi.
Baca juga:
Doktor UB Tawarkan Solusi agar Peternak Sapi Rakyat Lebih Mandiri

Dirancang Khusus untuk Kondisi Peternakan Tropis
Smart Ear-Tag BLE merupakan perangkat sensor yang dipasang pada telinga sapi untuk memantau berbagai indikator kesehatan secara real-time.
Perangkat ini mampu merekam empat parameter utama, yakni aktivitas ternak, pola ruminasi (mengunyah kembali), suhu tubuh, serta vokalisasi sapi.
Seluruh data tersebut dikirim secara otomatis melalui teknologi Bluetooth Low Energy (BLE) menuju gateway dan dashboard berbasis web maupun perangkat seluler sehingga peternak dapat memantau kondisi ternak kapan saja.
Teknologi ini dikembangkan secara spesifik untuk sapi Peranakan Friesian Holstein (PFH) yang banyak dipelihara di Indonesia dan dirancang mampu beradaptasi dengan karakteristik iklim tropis yang selama ini menjadi salah satu penyebab turunnya produksi susu.
Deteksi Dini Penyakit hingga Prediksi Produktivitas
Keunggulan utama Smart Ear-Tag BLE terletak pada kemampuannya mendeteksi perubahan perilaku maupun kondisi fisiologis sapi sebelum muncul gejala klinis.
Melalui analisis data sensor, sistem dapat memberikan peringatan dini terhadap potensi penyakit metabolik, mastitis, maupun stres panas yang berpengaruh langsung terhadap produksi susu.
Selain itu, teknologi ini juga mampu membantu peternak dalam memprediksi produktivitas susu, meningkatkan efisiensi pemberian pakan, menekan biaya pengobatan, dan mendukung manajemen reproduksi ternak melalui deteksi estrus dengan tingkat akurasi tinggi.
Data global yang dikutip dalam dokumen menunjukkan penerapan teknologi sensor pada peternakan mampu meningkatkan produksi susu sebesar 5–15 persen, menurunkan biaya pengobatan hingga 20 persen, serta meningkatkan efisiensi reproduksi dengan akurasi deteksi estrus di atas 90 persen.
Telah Teruji Selama 90 Hari
Salah satu indikator penting kesiapan inovasi ini adalah keberhasilan uji lapangan yang dilakukan selama 90 hari pada lingkungan peternakan rakyat.
Purwarupa yang terdiri atas perangkat ear-tag, firmware, gateway, dan dashboard telah menunjukkan akurasi tinggi dalam membaca pola ruminasi maupun perubahan suhu sebagai indikator awal gangguan kesehatan.
Pengembangan juga dilakukan melalui studi lapangan terhadap 60 ekor sapi PFH dengan membandingkan hasil pembacaan sensor terhadap pemeriksaan klinis sebagai ground truth.
Teknologi ini menggunakan komponen standar industri sehingga mudah direplikasi untuk populasi ternak dalam jumlah besar. Sistemnya juga dapat diintegrasikan dengan platform manajemen peternakan melalui format CSV maupun API.

Bidik Hilirisasi melalui Koperasi dan Industri IoT
Selain matang secara teknologi, Smart Ear-Tag BLE juga telah memiliki strategi hilirisasi yang jelas.
Pengembang menargetkan perlindungan kekayaan intelektual melalui paten sederhana untuk perangkat keras dan hak cipta untuk perangkat lunak beserta algoritma deteksi dini.
Adapun model bisnis yang disiapkan menggunakan skema Business to Business to Customer (B2B2C) melalui kerja sama dengan koperasi susu. Pendapatan diperoleh dari penjualan perangkat serta biaya langganan dashboard analitik dan layanan peringatan dini kesehatan ternak.
Alternatif hilirisasi lainnya adalah pemberian lisensi kepada produsen IoT lokal maupun pembentukan perusahaan rintisan (spin-off) yang fokus pada layanan peternakan cerdas.
Potensi Besar Dukung Ketahanan Pangan Nasional
Dokumen tersebut juga menyoroti prospek pasar teknologi Precision Livestock Farming (PLF) yang terus meningkat secara global.
Pasar PLF diproyeksikan tumbuh dari US$7,5 miliar pada 2024 menjadi US$12,13 miliar pada 2033, didorong meningkatnya kebutuhan protein hewani serta pemanfaatan Internet of Things (IoT) dan kecerdasan buatan (AI) dalam sektor peternakan.
Dengan kesiapan teknologi, hasil uji lapangan, model bisnis yang jelas, serta dukungan mitra peternak dan koperasi di Kabupaten Malang, Smart Ear-Tag BLE memperoleh skor maksimal pada seluruh indikator penilaian DIKST dan dinilai layak memasuki tahap inkubasi maupun pilot industri.
Inovasi ini diharapkan mampu menjadi salah satu solusi transformasi digital peternakan sapi perah Indonesia, meningkatkan produktivitas susu nasional, sekaligus memperkuat kesejahteraan peternak di tengah tantangan perubahan iklim. (nid)














