Kanal24, Malang – Kebiasaan mengikuti tren di media sosial dan keinginan untuk menikmati hidup dapat menjadi tantangan tersendiri bagi Generasi Z (Gen Z) dalam mengelola keuangan. Dorongan membeli barang, menghadiri konser, hingga melakukan perjalanan demi mengikuti lingkungan pertemanan berpotensi memicu perilaku belanja impulsif atau doom spending.
Fenomena ini tidak selalu berakar pada rendahnya pemahaman tentang keuangan. Tekanan sosial, rasa takut tertinggal dari tren (fear of missing out/FOMO), serta keinginan memperoleh kepuasan instan turut memengaruhi keputusan seseorang dalam menggunakan uang. Karena itu, kemampuan mengendalikan diri menjadi salah satu kunci untuk menjaga kesehatan finansial.
Kepala Direktorat Literasi dan Inklusi Keuangan Syariah Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Andi Muhammad Yusuf, menjelaskan bahwa perilaku FOMO dan you only live once (YOLO) dapat muncul karena pengaruh lingkungan dan keinginan untuk tidak tertinggal dari orang lain.
Baca juga:
Psikolog UB Kenalkan Metode 3L untuk Dampingi Kesehatan Mental Mahasiswa

“Bisa jadi karena ada tekanan dari lingkungan, ingin ikut tren, tidak ingin ketinggalan dari teman-teman yang lain,” ujar Yusuf dalam peluncuran buku Dear Money, We Need to Talk di Perpustakaan Habibie & Ainun, Jakarta, Selasa (13/10/2026).
Director of Business BCA Digital, Duardi Prihandiko, menilai akses terhadap pengetahuan keuangan kini semakin terbuka. Namun, pengetahuan tersebut perlu didukung perangkat dan kebiasaan yang membantu seseorang mengambil keputusan finansial secara lebih terarah.
Sementara itu, Head of Brand Experience & Community BCA Digital, Rudini Triyadi, menyoroti pentingnya pengendalian diri dalam mengatur pengeluaran. Menurutnya, tantangan terbesar bukan semata-mata memahami pentingnya menabung, melainkan menahan dorongan untuk membelanjakan uang.
Mengenali FOMO dan Doom Spending
FOMO merupakan perasaan takut tertinggal dari pengalaman, aktivitas, atau tren yang diikuti orang lain. Dalam konteks keuangan, kondisi ini dapat mendorong seseorang membeli barang atau mengeluarkan uang bukan karena kebutuhan, melainkan karena ingin tetap terhubung dengan lingkungan sosialnya.
Sementara itu, doom spending menggambarkan kecenderungan membelanjakan uang secara berlebihan sebagai respons terhadap tekanan emosional, kecemasan, atau ketidakpastian mengenai masa depan. Belanja dapat memberikan kepuasan sesaat, tetapi tanpa perencanaan berisiko mengganggu kebutuhan utama dan target keuangan jangka panjang.
Keduanya dapat saling berkaitan. Paparan gaya hidup di media sosial bisa memunculkan keinginan untuk mengikuti tren, sedangkan tekanan emosional dapat membuat seseorang mencari pelarian melalui aktivitas konsumsi.
Pengeluaran untuk rekreasi dan hiburan tetap dapat menjadi bagian dari gaya hidup yang sehat. Namun, pengeluaran tersebut perlu disesuaikan dengan kemampuan finansial agar tidak mengorbankan kebutuhan pokok, tabungan, maupun kewajiban lainnya.
Rudini mengingatkan bahwa keinginan menikmati hiburan perlu disertai perhitungan yang matang. Ketika dana yang tersedia belum mencukupi, seseorang perlu menunda pengeluaran hingga kondisi keuangannya memungkinkan.
Terapkan Prinsip Legal dan Logis Sebelum Bertransaksi
Untuk menghindari keputusan finansial yang merugikan, Yusuf mengingatkan masyarakat agar menerapkan prinsip 2L, yakni Legal dan Logis, sebelum melakukan transaksi.
Prinsip legal mengarahkan masyarakat untuk memeriksa legalitas produk, layanan, atau pihak yang menawarkan transaksi. Sementara itu, prinsip logis mengajak masyarakat menilai kewajaran penawaran, potensi keuntungan, serta risiko yang mungkin muncul.
Kewaspadaan tersebut penting di tengah kemudahan transaksi digital. Kecepatan pembayaran melalui aplikasi dapat membuat keputusan pembelian berlangsung spontan, sedangkan penawaran yang terlihat menarik belum tentu sesuai dengan kebutuhan atau kemampuan finansial.
Yusuf juga menyoroti peran Indonesia Anti-Scam Center yang dibentuk OJK bersama kementerian dan lembaga terkait dalam upaya melindungi masyarakat dari penipuan keuangan.
Literasi keuangan karena itu tidak cukup berhenti pada kemampuan mengenali produk tabungan dan investasi. Masyarakat juga perlu membangun kebiasaan memeriksa informasi, mempertimbangkan risiko, dan mengendalikan keputusan sebelum mengeluarkan uang.
Atur Penghasilan dengan Formula 10-20-30-40
Sebagai salah satu acuan mengelola keuangan, Yusuf membagikan formula alokasi penghasilan 10-20-30-40 yang dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing individu.
Formula tersebut membagi penghasilan ke dalam empat pos utama. Sebanyak 10 persen dialokasikan untuk liburan, gaya hidup, zakat, atau kegiatan sosial; 20 persen untuk investasi dan tabungan; maksimal 30 persen untuk cicilan produktif; serta 40 persen untuk kebutuhan konsumsi sehari-hari.
Pembagian ini dapat membantu seseorang menetapkan batas pengeluaran dan menentukan prioritas sejak menerima penghasilan. Dengan alokasi yang jelas, kebutuhan pokok dan tabungan diharapkan tidak tergerus oleh pembelian spontan atau keinginan mengikuti tren.
Meski demikian, formula tersebut bukan aturan yang mutlak untuk semua orang. Besaran alokasi perlu mempertimbangkan pendapatan, tanggungan keluarga, biaya hidup, serta kewajiban finansial masing-masing.
Yusuf juga mengingatkan agar masyarakat tidak menggunakan utang untuk membiayai hiburan yang sebenarnya belum mampu dijangkau.
Mengelola keuangan secara sehat pada akhirnya bukan berarti menghilangkan seluruh pengeluaran untuk kesenangan. Hal yang lebih penting adalah memastikan setiap keputusan belanja dibuat secara sadar, sesuai kemampuan, dan tidak mengorbankan kebutuhan masa depan. (nid)













