Kanal24
No Result
View All Result
  • Berita Terkini
  • Perspektif
  • Pendidikan
  • Hukum
  • Politik
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
  • Login
  • Berita Terkini
  • Perspektif
  • Pendidikan
  • Hukum
  • Politik
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
No Result
View All Result
Kanal24
No Result
View All Result

Kemandirian Pangan dan Energi Membutuhkan Teknologi dan Kolaborasi

Einid Shandy by Einid Shandy
September 23, 2026
in Perspektif
0
Kemandirian Pangan dan Energi Membutuhkan Teknologi dan Kolaborasi

Prof. Dr. Ir. Bambang Susilo, M.Sc.Agr., Guru Besar Bidang Teknik Pengolahan Hasil Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian (FTP), Universitas Brawijaya (UB) (Andik/Letstalk)

0
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Prof. Dr. Ir. Bambang Susilo, M.Sc.Agr.

Kanal24, Malang – Pangan dan energi merupakan dua kebutuhan mendasar yang sangat strategis bagi sebuah negara. Keduanya tidak hanya berkaitan dengan kehidupan masyarakat sehari-hari, tetapi juga menyangkut kemampuan sebuah negara menjaga kemandirian di tengah ketidakpastian geopolitik, perubahan iklim, dan gangguan rantai pasok global.

Karena itu, pembicaraan mengenai swasembada pangan dan energi perlu ditempatkan dalam perspektif yang lebih luas. Swasembada bukan sekadar persoalan memenuhi kebutuhan dalam negeri pada satu komoditas, melainkan bagian dari upaya membangun kedaulatan dan mengurangi ketergantungan terhadap sumber dari luar negeri.

Ketika kebutuhan dasar dapat dipenuhi dari dalam negeri, risiko yang muncul akibat perubahan kondisi global dapat ditekan. Namun, untuk mencapai kemandirian tersebut, Indonesia membutuhkan kerja bersama antara pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan masyarakat.

Ilustrasi pertanian (Ist)

Swasembada Pangan Tidak Berhenti pada Beras

Ketika berbicara mengenai pangan, kita sering kali langsung mengaitkannya dengan beras. Padahal, pangan memiliki cakupan yang jauh lebih luas.

Ketahanan pangan pada dasarnya berbicara mengenai terpenuhinya kebutuhan pangan masyarakat. Namun, kedaulatan pangan membawa kita pada pertanyaan yang lebih jauh: dari mana pangan tersebut berasal dan sejauh mana kita mampu memenuhi kebutuhan itu dengan kekuatan sendiri.

Karena itu, capaian swasembada sejumlah komoditas pangan merupakan hal yang penting. Beras, misalnya, menjadi salah satu komponen utama dalam pemenuhan kebutuhan karbohidrat masyarakat.

Namun, masih terdapat pekerjaan rumah yang perlu diperhatikan, salah satunya adalah kebutuhan tepung terigu. Pola konsumsi masyarakat terus berubah. Produk seperti mi, roti, gorengan, dan berbagai makanan berbahan tepung semakin menjadi bagian dari konsumsi sehari-hari.

Masalahnya, bahan baku tepung terigu berasal dari gandum yang bukan merupakan tanaman tropis. Kebutuhan gandum Indonesia karena itu masih sangat bergantung pada impor.

Kondisi ini tidak dapat diselesaikan dalam waktu satu atau dua tahun. Dibutuhkan proses panjang dan kerja bersama untuk mencari alternatif bahan baku yang dapat diproduksi dari sumber daya Indonesia.

Indonesia memiliki banyak pilihan. Singkong, sorgum, sagu, dan berbagai sumber karbohidrat lokal lainnya memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi bahan baku tepung.

Salah satu contohnya adalah modified cassava flour atau mocaf yang berasal dari singkong. Jika sebagian kebutuhan tepung terigu dapat disubstitusi dengan bahan baku lokal, maka ketergantungan terhadap impor dapat dikurangi sekaligus menciptakan nilai tambah bagi komoditas dalam negeri.

Di sinilah perguruan tinggi memiliki peran penting. Penelitian tidak berhenti pada menghasilkan pengetahuan, tetapi perlu diarahkan untuk menjawab persoalan nyata yang dihadapi masyarakat dan industri.

Teknologi Menjadi Jembatan Kemandirian

Indonesia sebenarnya memiliki banyak sumber daya. Tantangannya adalah bagaimana merajut berbagai potensi tersebut melalui teknologi dan kolaborasi.

Pengembangan bahan pangan alternatif, misalnya, tidak hanya membutuhkan kemampuan teknologi pengolahan. Ada kebutuhan untuk membangun ekosistem yang melibatkan pemerintah, industri, perguruan tinggi, dan berbagai lembaga terkait.

Hal yang sama berlaku pada sektor energi.

Indonesia memiliki potensi besar dari sumber daya hayati, salah satunya kelapa sawit. Minyak nabati dapat diolah menjadi biodiesel sebagai alternatif bahan bakar diesel. Pengembangan biodiesel menunjukkan bahwa sumber daya yang tersedia di dalam negeri dapat diolah menjadi energi dengan dukungan teknologi.

Program biodiesel juga memperlihatkan bahwa transformasi energi bukan pekerjaan satu pihak. Ketika sebuah kebijakan energi diterapkan, industri kendaraan, lembaga pembiayaan, asuransi, pemerintah, perguruan tinggi, dan masyarakat akan ikut terdampak dan memiliki peran masing-masing.

Karena itu, teknologi harus ditempatkan dalam sebuah ekosistem.

Untuk kendaraan berbahan bakar bensin, Indonesia juga memiliki peluang pengembangan bioetanol. Teknologi untuk menghasilkan etanol sebenarnya bukan sesuatu yang sepenuhnya baru. Tantangannya adalah bagaimana mengembangkan teknologi tersebut sehingga memenuhi standar, layak secara ekonomi dan teknis, dapat diterima secara sosial, serta berkelanjutan dari sisi lingkungan.

Sumber bahan bakunya pun tidak harus selalu berasal dari komoditas yang digunakan untuk pangan. Limbah atau biomassa seperti pelepah dan batang sawit berpotensi diolah melalui proses teknologi tertentu menjadi bahan yang dapat dikembangkan lebih lanjut untuk kebutuhan energi.

Artinya, persoalan pangan dan energi tidak selalu harus dilihat secara terpisah. Dengan teknologi, sumber daya yang sebelumnya kurang bernilai dapat dikembangkan menjadi bahan baku yang memiliki nilai ekonomi.

Kemandirian Membutuhkan Ekosistem

Kemandirian pangan dan energi pada akhirnya bukan hanya persoalan seberapa banyak produksi yang mampu dihasilkan Indonesia. Yang lebih penting adalah bagaimana membangun kemampuan untuk mengembangkan sumber daya tersebut secara berkelanjutan.

Karena itu, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk terus melakukan penelitian dan pengembangan teknologi. Kita membutuhkan inovasi yang tidak hanya berhenti di laboratorium, tetapi dapat diterapkan dan memberikan manfaat nyata.

Namun, hasil penelitian juga membutuhkan ekosistem agar dapat berkembang menjadi produk dan industri. Pemerintah memiliki peran dalam kebijakan dan pengembangan program. Dunia usaha berperan dalam investasi dan penerapan teknologi. Perguruan tinggi berperan menghasilkan pengetahuan dan inovasi. Sementara masyarakat menjadi bagian penting dari penerapan sekaligus pengguna hasil inovasi tersebut.

Kita juga perlu melihat kemandirian pangan dan energi dalam perspektif ekonomi. Ketika bahan baku dapat diproduksi di dalam negeri, nilai ekonomi yang tercipta memiliki peluang untuk berputar di dalam negeri. Sebaliknya, ketergantungan terhadap impor membuat sebagian nilai ekonomi tersebut mengalir keluar.

Karena itu, substitusi impor tidak semata-mata berarti menghentikan impor. Yang lebih penting adalah membangun kemampuan domestik sehingga Indonesia memiliki pilihan dan tidak sepenuhnya bergantung pada pasokan dari luar.

Pada saat yang sama, impor bahan baku tertentu tetap dapat menjadi bagian dari aktivitas ekonomi selama Indonesia mampu mengolahnya menjadi produk bernilai tambah dan memiliki daya saing ekspor.

Dengan demikian, tujuan akhirnya bukan sekadar menutup diri dari perdagangan global, tetapi memperkuat posisi Indonesia di dalamnya.

Pangan dan energi adalah kebutuhan yang terlalu strategis untuk hanya diserahkan pada mekanisme jangka pendek. Keduanya membutuhkan perencanaan, penelitian, teknologi, investasi, dan kolaborasi lintas sektor.

Indonesia memiliki sumber daya yang besar. Tantangannya sekarang adalah bagaimana mengubah sumber daya tersebut menjadi kekuatan yang memberikan nilai tambah bagi masyarakat.

Kemandirian tidak dibangun dalam waktu singkat. Ia membutuhkan proses panjang, pengembangan teknologi yang konsisten, dan kemauan untuk terus mencari solusi atas persoalan yang ada.

Di sinilah perguruan tinggi, pemerintah, industri, dan masyarakat perlu bergerak dalam satu ekosistem. Bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan pangan dan energi hari ini, tetapi juga untuk memastikan bahwa Indonesia memiliki kemampuan mengelola kebutuhan strategisnya sendiri pada masa mendatang.

*) Prof. Dr. Ir. Bambang Susilo, M.Sc.Agr.,

Guru Besar Bidang Teknik Pengolahan Hasil Pertanian Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem (FTAB) Universitas Brawijaya (UB)

Post Views: 33
Tags: BiodieselbioetanolEnergiInovasiKANAL24kanal24.co.idkemandirian energikemandirian panganmocafPanganProf Bambang Susiloswasembada energiSwasembada PanganTeknologiteknologi energiteknologi pangantepung lokaluniversitas brawijaya
Previous Post

Singapore Airlines Rebut Takhta, Ini 20 Maskapai Terbaik Dunia 2026

Next Post

Undip Studi Tiru Zona Integritas ke UB, Pelajari Transformasi Budaya Birokrasi

Einid Shandy

Einid Shandy

Reporter dan penulis Kanal24

Next Post
Undip Studi Tiru Zona Integritas ke UB, Pelajari Transformasi Budaya Birokrasi

Undip Studi Tiru Zona Integritas ke UB, Pelajari Transformasi Budaya Birokrasi

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Trending
  • Comments
  • Latest
oval layer

5 Gaya Rambut yang Tepat untuk Pipi Chubby agar Tampil Lebih Menarik

August 25, 2024
ISLAM DAN PELESTARIAN LINGKUNGAN

ISLAM DAN PELESTARIAN LINGKUNGAN

August 4, 2023
Tren Rambut Pria 2025: Gaya Modern dan Maskulin

Tren Rambut Pria 2025: Gaya Modern dan Maskulin

February 22, 2025
Yuk Kenali Istilah Dalam Karate

Yuk Kenali Istilah Dalam Karate

August 3, 2023
Permainan Interaktif Menjadi Media KKN FP UB Pupuk Minat Baca Anak Desa Kromengan

Permainan Interaktif Menjadi Media KKN FP UB Pupuk Minat Baca Anak Desa Kromengan

39
Pemkot Malang Tingkatkan Sinergi dan Soliditas Demi Keamanan Wilayah

Pemkot Malang Tingkatkan Sinergi dan Soliditas Demi Keamanan Wilayah

8
Budayakan Gaya Hidup Sehat, Fapet UB Gelar Latihan Jalan Nordik

Budayakan Gaya Hidup Sehat, Fapet UB Gelar Latihan Jalan Nordik

7
Manfaat Naik Turun Tangga Setiap Hari Bagi Kesehatan

Manfaat Naik Turun Tangga Setiap Hari Bagi Kesehatan

7
Undip Studi Tiru Zona Integritas ke UB, Pelajari Transformasi Budaya Birokrasi

Undip Studi Tiru Zona Integritas ke UB, Pelajari Transformasi Budaya Birokrasi

September 23, 2026
Kemandirian Pangan dan Energi Membutuhkan Teknologi dan Kolaborasi

Kemandirian Pangan dan Energi Membutuhkan Teknologi dan Kolaborasi

September 23, 2026
Singapore Airlines Rebut Takhta, Ini 20 Maskapai Terbaik Dunia 2026

Singapore Airlines Rebut Takhta, Ini 20 Maskapai Terbaik Dunia 2026

September 23, 2026
FEB UB Latih Calon Auditor Gunakan Teknik Sampling untuk Deteksi Kecurangan

FEB UB Latih Calon Auditor Gunakan Teknik Sampling untuk Deteksi Kecurangan

September 23, 2026

Popular Stories

  • oval layer

    5 Gaya Rambut yang Tepat untuk Pipi Chubby agar Tampil Lebih Menarik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • ISLAM DAN PELESTARIAN LINGKUNGAN

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tren Rambut Pria 2025: Gaya Modern dan Maskulin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Yuk Kenali Istilah Dalam Karate

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AYAT-AYAT KREATIVITAS DAN INOVASI PELAYANAN

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
UB Radio 107.5 FM
107.5 FM
Tap to Play
  • Berita
  • Tentang Kanal24
  • Layanan
  • Pedoman Media Siber
Copyright Kanal24.com 2025

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Berita Terkini‎
  • Perspektif
  • Pendidikan
  • Hukum
  • Politik
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Hiburan

Copyright Kanal24.com 2025