Kanal24, Malang – Botol plastik bekas yang selama ini menjadi limbah rumah tangga disulap menjadi sarana pertanian sederhana oleh mahasiswa KKN Fakultas Bioindustri Pertanian dan Kehutanan (FBiPK) Universitas Brawijaya. Inovasi tersebut dikenalkan kepada warga Desa Argosuko sebagai upaya mendukung ketahanan pangan keluarga sekaligus mengurangi sampah plastik.
Program ini dilaksanakan melalui kegiatan Ketahanan Pangan Keluarga Berbasis Pertanian Terpadu di Desa Argosuko, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang.
Baca Juga:
Doktor FAST UB Temukan Inovasi Tingkatkan Kualitas Susu Rakyat
Optimalkan Pekarangan dengan Inovasi Sederhana
Pelatihan ini berangkat dari kondisi masih banyaknya botol plastik bekas yang belum dimanfaatkan secara maksimal. Di sisi lain, tidak sedikit warga yang memiliki keterbatasan lahan untuk bercocok tanam maupun membutuhkan metode penyiraman yang lebih hemat air dan mudah diterapkan.
Menjawab kondisi tersebut, mahasiswa memperkenalkan berbagai inovasi sederhana berbasis limbah rumah tangga. Selain mudah dibuat, seluruh teknologi yang dikenalkan juga menggunakan bahan yang mudah ditemukan sehingga dapat diterapkan secara mandiri oleh masyarakat.
Pada sesi praktik, peserta diajak membuat media tanam vertikultur menggunakan botol plastik bekas berukuran 1,5 liter. Wadah tanam tersebut kemudian dimanfaatkan untuk membudidayakan sayuran, seperti sawi putih dan sawi daging, sehingga pekarangan yang sempit tetap dapat dimanfaatkan secara produktif.
Dilengkapi Irigasi Tetes dan Sprayer
Tak hanya membuat media tanam, mahasiswa juga mengenalkan sistem irigasi tetes sederhana. Botol plastik dimodifikasi dengan tambahan selang dan jarum agar air dapat mengalir perlahan ke media tanam. Cara ini membantu menjaga kelembapan tanah sekaligus menghemat penggunaan air, terutama saat musim kemarau.

Selanjutnya, peserta mempraktikkan pembuatan sprayer sederhana dari botol plastik bekas berukuran 600 mililiter. Dengan penambahan selang, kepala sprayer, dan perekat, botol bekas dapat diubah menjadi alat semprot yang dapat dimanfaatkan untuk penyiraman tanaman maupun aplikasi pupuk organik cair.
Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung secara interaktif melalui demonstrasi dan praktik bersama. Warga tidak hanya menyaksikan proses pembuatan, tetapi juga terlibat langsung dalam memodifikasi botol bekas menjadi sarana budidaya tanaman.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa berharap masyarakat semakin terdorong memanfaatkan limbah rumah tangga sebagai produk yang bernilai guna. Selain membantu mengurangi sampah plastik, inovasi tersebut juga diharapkan mampu mengoptimalkan pekarangan sebagai sumber pangan keluarga serta mendukung penerapan pertanian yang lebih berkelanjutan. (ndr)













