Kanal24, Malang – Memantau kesehatan tanaman di lahan pertanian yang luas bukan perkara sederhana. Pemeriksaan manual membutuhkan waktu dan tenaga, sementara hama maupun penyakit tanaman berisiko baru terlihat setelah kerusakan terjadi. Teknologi drone multispektral mulai ditawarkan sebagai salah satu solusi untuk membantu petani membaca kondisi tanaman dari udara.
Teknologi tersebut diperkenalkan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Fakultas Bio-Industri Pertanian dan Kehutanan (FBiPK) Universitas Brawijaya (UB) bersama RUMAHDRONE Malang melalui sosialisasi dan demonstrasi di lahan kubis milik petani Desa Slamet, Kabupaten Malang, Senin (27/7/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari pengenalan teknologi drone pertanian untuk mendukung pemantauan lahan secara lebih efektif dan terukur.
Baca juga:
FK UB dan Pemkab Jember Perkuat Pencegahan Stunting Lewat Pemberdayaan Ibu
Drone Pertanian Jadi Alternatif Pemantauan Lahan
Dalam sosialisasi, mahasiswa mengenalkan dasar teknologi drone pertanian, perangkat keras, serta penggunaan sensor multispektral. Teknologi ini diperkenalkan sebagai alternatif untuk membantu petani memperoleh gambaran kondisi tanaman dari area yang lebih luas.

Pemantauan secara konvensional tetap dapat dilakukan, tetapi membutuhkan waktu dan tenaga, terutama ketika petani harus memeriksa lahan secara langsung. Selain itu, gangguan tanaman seperti hama dan penyakit terkadang baru diketahui setelah gejalanya terlihat secara kasatmata.
Melalui teknologi drone, kondisi lahan dapat dipantau dari udara sehingga area yang membutuhkan perhatian dapat lebih mudah diidentifikasi.
Dalam kegiatan tersebut, petani juga mendapat penjelasan mengenai drone sprayer. Salah satu petani, Sigit, menanyakan kemampuan teknologi tersebut dalam menjangkau lahan pertanian.
“Gimana caranya drone sprayer bisa menyelesaikan 1 hektar lahan dalam 10 menit dan seberapa besar kapasitasnya?” tanyanya.
Drone sprayer disebut dapat menjangkau lahan seluas satu hektare dalam waktu singkat dengan sistem otonom dan kapasitas muatan bahan cair hingga 100 liter.
Drone Multispektral Baca Kondisi Tanaman dari Udara
Setelah sesi sosialisasi, kegiatan dilanjutkan dengan demonstrasi penerbangan drone. Fajar Kelana Buana, S.T., M.T., selaku kru RUMAHDRONE, memperagakan proses pemetaan lahan pertanian menggunakan drone.

Demonstrasi mencakup pengambilan citra udara berpresisi tinggi hingga analisis awal foto udara. Kegiatan ini memberikan gambaran kepada petani mengenai pemanfaatan data dari udara untuk melihat kondisi vegetasi pada lahan.
Salah satu perangkat yang diperkenalkan yakni DJI Mavic 3 Multispectral. Drone tersebut dilengkapi kemampuan untuk melakukan pemantauan tanaman menggunakan sejumlah indeks, di antaranya NDVI dan NDRE.
Data tersebut dapat digunakan untuk membantu mengidentifikasi kondisi tanaman, termasuk indikasi stres akibat lingkungan, kekurangan nutrisi, maupun area yang mengalami gangguan penyakit.
Dengan informasi tersebut, petani dapat memperoleh gambaran mengenai lokasi dan kondisi tanaman yang membutuhkan perhatian tanpa harus memeriksa seluruh area lahan secara manual.
Buka Peluang Kolaborasi dengan Taruna Tani
Selain pengenalan teknologi, kegiatan tersebut juga membuka peluang kolaborasi antara petani dan RUMAHDRONE. Sigit turut menanyakan kemungkinan kerja sama antara Taruna Tani dan RUMAHDRONE untuk keberlanjutan pemanfaatan teknologi tersebut.
“Gimana caranya kita Taruna Tani colab dengan RUMAHDRONE untuk kelanjutan kegiatan?” tanyanya.
RUMAHDRONE membuka peluang kerja sama dalam berbagai bentuk, termasuk program, pelatihan, maupun bantuan teknis. Anggota Taruna Tani dapat mengajukan usulan kemitraan sesuai kebutuhan dan potensi pengembangan kegiatan.
Pengenalan drone pertanian melalui kegiatan KKN ini diharapkan menjadi langkah awal bagi petani Desa Slamet untuk mengenal pemanfaatan teknologi dalam pemantauan lahan.
Teknologi drone multispektral tidak hanya menawarkan cara baru untuk melihat kondisi tanaman dari udara, tetapi juga membuka peluang pemanfaatan data sebagai bahan pertimbangan dalam pengelolaan lahan. Dengan demikian, teknologi pertanian presisi mulai diperkenalkan lebih dekat kepada petani di tingkat desa. (ern)














