Kanal24, Malang – Seorang ibu menjadi titik awal lahirnya keluarga yang sehat. Ketika ibu memiliki kesehatan dan pengetahuan yang baik, peluang anak untuk tumbuh optimal juga semakin besar. Perspektif inilah yang menjadi dasar Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (FK UB) bersama Pemerintah Kabupaten Jember mengembangkan Program MIRSANI sebagai strategi pencegahan stunting berbasis pemberdayaan ibu.
Program tersebut dibahas dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD) dan Diseminasi Program MIRSANI yang berlangsung di Kantor Pemerintah Kabupaten Jember, Kamis (30/7/2026). Melalui kegiatan ini, FK UB bersama Pemkab Jember membahas langkah intervensi stunting yang tidak hanya berfokus pada pemenuhan gizi anak, tetapi juga kondisi kesehatan, pendidikan, dan keberdayaan ibu.
Baca Juga:
Viral Usai Selamatkan Warga, Joya Sarah Ajak Berani Peduli
MIRSANI Tempatkan Ibu sebagai Fondasi Pencegahan Stunting
Ketua Pengabdian Masyarakat Program MIRSANI, Dr. Yuseva Sariati, SST., SE., M.Keb., mengatakan persoalan stunting di Kabupaten Jember tidak dapat dilihat hanya dari sisi kesehatan. Menurutnya, faktor sosial seperti pernikahan dini, pendidikan, serta kondisi ibu dalam keluarga turut memengaruhi upaya pencegahan stunting.

“Angka pernikahan dini dan juga stunting masih menjadi prioritas di Kabupaten Jember. Semuanya berakar pada social capital maternal yang harus menjadi perhatian bersama melalui kolaborasi berbagai instansi,” ujar Yuseva.
Ia menjelaskan, Program MIRSANI dirancang sebagai gerakan pemberdayaan ibu melalui pendekatan kesehatan, kreativitas, dan peningkatan kapasitas diri. Program tersebut menyasar ibu muda, terutama yang memiliki balita dengan risiko stunting.
Dalam pelaksanaannya, FK UB akan melakukan sejumlah intervensi, mulai dari pemeriksaan deteksi dini kesehatan perempuan seperti IVA, pencegahan risiko kanker serviks dan kanker payudara, hingga pelatihan keterampilan bagi ibu muda.
Selain aspek kesehatan, program ini juga menyasar bidang pendidikan. FK UB akan melakukan pendampingan bagi ibu muda yang mengalami putus sekolah melalui rekomendasi program kejar Paket C. Sebelum pelaksanaan, tim akan melakukan pemetaan kebutuhan dan motivasi peserta.
FK UB dan Pemkab Jember Bangun Sinergi Lintas Sektor
Yuseva menyebut keberhasilan penanganan stunting membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Karena itu, Program MIRSANI dirancang melalui kolaborasi pentahelix yang mempertemukan unsur akademisi, pemerintah, sektor swasta, media, hingga dunia bisnis.
“Program ini melibatkan Universitas Brawijaya sebagai sektor akademik, Pemerintah Kabupaten Jember, sektor swasta melalui NGO untuk pemberdayaan perempuan, media sebagai pengarah informasi, serta pihak bisnis untuk pengembangan keberdayaan perempuan,” jelasnya.
Menurut Yuseva, Kabupaten Jember dipilih sebagai lokasi program karena hubungan kerja sama antara Universitas Brawijaya dan Pemerintah Kabupaten Jember telah berjalan baik. Kerja sama tersebut kemudian dikembangkan menjadi pendampingan yang lebih berkelanjutan.
Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Jember, Indra TP, menyambut baik keterlibatan FK UB dalam mendukung program penanganan stunting.
“Kami merasa sangat terbantu dengan program dari Brawijaya terkait penanganan stunting di Kabupaten Jember. Dengan adanya MoU antara Pemerintah Kabupaten Jember dan Universitas Brawijaya, ini menjadi tindak lanjut yang baik untuk pengentasan stunting,” kata Indra.
Ia menambahkan, pemerintah daerah akan terus melanjutkan sinergi bersama FK UB melalui berbagai program pendampingan dan pelatihan yang berkaitan dengan pencegahan stunting.
Jember Perkuat Pencegahan Lewat 1.000 Hari Pertama Kehidupan
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Jember, dr. Gini Wuryandari, mengatakan angka stunting di Jember terus mengalami penurunan. Namun, jumlah penduduk yang besar membuat stunting masih menjadi tantangan yang perlu ditangani bersama.
“Upaya yang dilakukan menunjukkan angka stunting mulai turun, prevalensinya mulai menurun. Namun karena jumlah penduduk kita juga banyak, angka stunting secara jumlah masih cukup tinggi,” ujarnya.
Menurutnya, Pemerintah Kabupaten Jember saat ini memprioritaskan pencegahan melalui penguatan intervensi pada 1.000 hari pertama kehidupan. Langkah tersebut dimulai sejak masa kehamilan hingga anak memasuki usia awal pertumbuhan.
Pemerintah juga melanjutkan pemberian makanan tambahan (PMT) bagi anak stunting serta memperkuat edukasi kepada ibu mengenai pentingnya ASI eksklusif dan pemberian makanan pendamping ASI (MPASI).
“Mulai dari ibu yang akan melahirkan agar tidak melahirkan anak dengan kondisi stunting. Kemudian usia 0 sampai 6 bulan dengan ASI eksklusif harus diutamakan, setelah itu MPASI juga perlu diperkuat,” jelasnya.
Melalui Program MIRSANI, FK UB bersama Pemerintah Kabupaten Jember menempatkan ibu sebagai kunci awal pencegahan stunting dari tingkat keluarga. Program ini menjadi langkah kolaboratif untuk membangun keluarga yang lebih sehat serta mendukung tumbuh kembang anak secara optimal. (gal)














