Kanal24, Malang – Dari kayu dan keterampilan tangan warga, Kampung Cempluk di sekitar Universitas Brawijaya (UB) tengah didorong naik kelas menjadi destinasi kreatif berbasis bunyi. Melalui Dawai Cempluk, karya alat musik berbahan kayu dikembangkan bukan sekadar sebagai produk kerajinan, tetapi sebagai identitas budaya sekaligus potensi ekonomi kreatif lokal.
Upaya tersebut dilakukan Fakultas Vokasi Universitas Brawijaya melalui program pengabdian kepada masyarakat bertajuk “Resonansi Kayu: Dawai Cempluk sebagai Identitas Bunyi Kampung Lingkar Kampus UB.”
Program ini diarahkan untuk memperkuat posisi Kampung Cempluk sebagai Sound Destination, yakni kawasan yang memiliki identitas khas melalui karya seni, musik, dan produk kreatif berbasis bunyi.
Baca juga:
65% Masyarakat Kini Pilih Bank Digital karena Keamanan

Ketua pelaksana program, Pramadika Ramanda, S.T., M.AB., mengatakan Dawai Cempluk memiliki karakter kuat karena lahir dari perpaduan keterampilan masyarakat, kreativitas, dan nilai budaya lokal.
“Dawai Cempluk memiliki karakter yang kuat karena lahir dari perpaduan antara keterampilan tangan, kreativitas masyarakat, dan nilai budaya lokal. Melalui pendampingan ini, kami ingin membantu masyarakat membangun identitas yang lebih kuat agar karya mereka dapat dikenal lebih luas,” ujar Pramadika.
Dari Kerajinan Kayu Menuju Identitas Kreatif
Selama ini, Kampung Cempluk telah memiliki potensi melalui produksi alat musik berbahan kayu. Namun, pengembangan produk masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari identitas merek yang belum optimal, perlindungan kekayaan intelektual, keterbatasan modul pembelajaran, hingga pemanfaatan media digital yang belum maksimal.
Melalui program tersebut, tim Vokasi UB kemudian melakukan pendampingan untuk membangun fondasi pengembangan kampung kreatif. Salah satunya melalui penyusunan brand identity Kampung Cempluk sebagai Sound Destination.
Penguatan identitas tersebut diharapkan membuat Dawai Cempluk memiliki posisi yang lebih jelas ketika diperkenalkan kepada masyarakat luas.
Tidak berhenti pada branding, tim juga mendorong perlindungan karya melalui pengajuan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) Dawai Cempluk kepada Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI).
Langkah ini menjadi bagian penting agar inovasi masyarakat memiliki perlindungan hukum sekaligus berpotensi meningkatkan nilai ekonomi produk kreatif lokal.
70 Persen Program Telah Tercapai
Program pengabdian tersebut kini telah mencapai sekitar 70 persen dari total target kegiatan.
Sejumlah luaran telah dihasilkan, antara lain pendampingan masyarakat dan pengrajin, identitas merek Kampung Cempluk sebagai Sound Destination, konten promosi digital, buku panduan digital Dawai Cempluk, serta dokumen HAKI.
Buku Panduan Digital Dawai Cempluk juga telah memperoleh nomor ISBN. Sementara dokumen HAKI Dawai Cempluk telah disusun, diajukan, dan memperoleh nomor pendaftaran DJKI.
Selain itu, masyarakat mendapatkan peningkatan kapasitas melalui workshop mengenai standarisasi produksi, branding, dan pemasaran digital.
Pendampingan tersebut diarahkan agar masyarakat tidak hanya mampu menghasilkan produk, tetapi juga memiliki kemampuan untuk memperkenalkannya melalui ekosistem digital.

Mahasiswa Ikut Terlibat
Pengembangan Dawai Cempluk juga menjadi ruang pembelajaran bagi mahasiswa Fakultas Vokasi UB.
Mahasiswa dilibatkan dalam berbagai aktivitas, mulai dari administrasi kegiatan, dokumentasi, sosialisasi kepada masyarakat, hingga pengembangan konten promosi digital.
Keterlibatan tersebut menjadi bagian dari implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi sekaligus memberikan pengalaman pembelajaran berbasis praktik. Mahasiswa dapat menerapkan kompetensi yang diperoleh di kampus secara langsung sembari berkontribusi terhadap pengembangan potensi masyarakat.
Menyiapkan Kampung Cempluk sebagai Sound Destination
Pengembangan Dawai Cempluk tidak berhenti pada capaian program saat ini. Ke depan, tim pengabdian menyiapkan sejumlah langkah lanjutan, mulai dari distribusi buku panduan digital, pengembangan katalog produk digital, optimalisasi media sosial mitra, hingga publikasi ilmiah hasil pengabdian.
Namun, program ini masih menghadapi tantangan. Salah satunya adalah kapasitas produksi yang masih bergantung pada satu pengrajin utama. Keterbatasan pendanaan juga menjadi faktor yang perlu dioptimalkan.
Untuk menjaga keberlanjutan, tim mendorong keterlibatan lebih banyak pengrajin sekaligus kaderisasi generasi muda agar produksi Dawai Cempluk dapat terus berkembang.
Melalui kolaborasi perguruan tinggi, masyarakat, dan pelaku kreatif lokal, Dawai Cempluk diharapkan berkembang melampaui fungsi sebagai produk kerajinan.
Karya dari kayu tersebut kini diarahkan menjadi identitas budaya, media kreativitas, sekaligus pintu masuk bagi peluang ekonomi baru Kampung Cempluk. (nid)














