Kanal24, Nganjuk – Di tengah melimpahnya limbah sekam padi yang belum dimanfaatkan secara optimal, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Brawijaya PSDKU Kediri menghadirkan inovasi sederhana yang menghubungkan pengelolaan limbah pertanian dengan upaya memperkuat ketahanan pangan keluarga. Melalui pemanfaatan arang sekam sebagai media tanam pada sistem Budidaya Ikan dalam Ember (Budikdamber), program ini mendorong masyarakat memanfaatkan potensi lokal menjadi solusi yang lebih produktif dan berkelanjutan.
Inovasi tersebut diperkenalkan melalui kegiatan Sosialisasi, Demonstrasi, dan Pelatihan Budikdamber yang diselenggarakan Mahasiswa KKN Universitas Brawijaya PSDKU Kediri Kelompok 12 yang terdiri atas 12 mahasiswa di Balai Desa Mojokendil, Kecamatan Ngronggot, Kabupaten Nganjuk, Kamis (9/7/2026). Kegiatan yang berada di bawah bimbingan Ayu Winna Ramadhani, S.Pi., M.Si. ini bertujuan meningkatkan pengetahuan serta keterampilan masyarakat dalam menerapkan Budikdamber sebagai solusi ketahanan pangan keluarga.

Program kerja tersebut dirancang berdasarkan karakteristik Desa Mojokendil yang sebagian besar masyarakatnya bermata pencaharian di sektor pertanian. Aktivitas pertanian menghasilkan limbah sekam padi dalam jumlah melimpah yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal dan sering kali hanya dibakar atau dibiarkan menumpuk. Berangkat dari potensi tersebut, mahasiswa KKN Universitas Brawijaya PSDKU Kediri mengembangkan inovasi pemanfaatan arang sekam sebagai media tanam pada sistem Budikdamber sebagai salah satu bentuk penerapan teknologi tepat guna yang mendukung konsep Lestari Pangan Sirkular.
Baca juga : Inovasi PSDKU UB Kediri Dorong Desa Krecek Jadi Sentra Agrokomplek Berkelanjutan
“Melalui program ini, kami berharap masyarakat tidak hanya memahami cara membuat Budikdamber, tetapi juga mampu menerapkannya secara mandiri setelah kegiatan KKN berakhir. Inovasi pemanfaatan arang sekam diharapkan menjadi solusi sederhana yang dapat meningkatkan ketahanan pangan keluarga sekaligus mengurangi limbah pertanian di Desa Mojokendil,” ujar Josua Sinaga, Ketua KKN Universitas Brawijaya PSDKU Kediri Kelompok 12.
Program ini tidak hanya memperkenalkan sistem Budidaya Ikan dalam Ember (Budikdamber) sebagai alternatif budidaya pada lahan terbatas, tetapi juga mengedukasi masyarakat mengenai pemanfaatan limbah sekam padi menjadi arang sekam sebagai media tanam sayuran. Inovasi tersebut diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah limbah pertanian sekaligus mendukung praktik budidaya yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Belajar Melalui Sosialisasi dan Praktik Langsung
Sebanyak 24 anggota PKK Desa Mojokendil mengikuti rangkaian kegiatan yang diawali dengan pre-test untuk mengetahui tingkat pemahaman awal mengenai Budikdamber serta pemanfaatan arang sekam sebagai media tanam.
Pada sesi sosialisasi, Muhammad Muqiet Admaja dari tim KKN Universitas Brawijaya PSDKU Kediri menyampaikan materi mengenai konsep dasar Budikdamber sebagai sistem budidaya yang mengintegrasikan pemeliharaan ikan dengan penanaman sayuran dalam satu wadah, manfaat arang sekam sebagai media tanam, serta teknik pembuatan arang sekam dari limbah pertanian.
Peserta juga memperoleh pemahaman mengenai keunggulan arang sekam, antara lain memiliki porositas tinggi, mampu menjaga kelembaban media tanam, meningkatkan sirkulasi udara di sekitar akar, serta membantu pertumbuhan tanaman secara optimal. Selain itu, peserta diperkenalkan pada konsep pemanfaatan limbah pertanian menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi dan mendukung keberlanjutan lingkungan.

Setelah penyampaian materi, kegiatan dilanjutkan dengan demonstrasi pembuatan sistem Budikdamber. Mahasiswa memperagakan tahapan persiapan ember, pemasangan wadah tanam, penyusunan media tanam menggunakan arang sekam, penebaran benih ikan lele, hingga penanaman sayuran pada bagian atas sistem Budikdamber.
Peserta kemudian mempraktikkan secara langsung pembuatan Budikdamber secara berkelompok dengan pendampingan mahasiswa. Melalui praktik tersebut, peserta menyusun media tanam, menanam sayuran, serta mempelajari cara perawatan ikan dan tanaman agar dapat tumbuh secara optimal. Pendampingan ini juga menjadi ruang diskusi bagi peserta untuk berkonsultasi mengenai kendala yang mungkin dihadapi saat menerapkan Budikdamber di lingkungan rumah masing-masing.
Selama kegiatan berlangsung, peserta menunjukkan antusiasme yang tinggi. Diskusi berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan mengenai teknik budidaya, pemanfaatan arang sekam, pengelolaan limbah pertanian, hingga pemeliharaan ikan dan tanaman.
“Program Budikdamber ini sangat bermanfaat karena memberikan pengetahuan mengenai budidaya ikan dan sayuran yang dapat diterapkan di pekarangan rumah. Saya berharap kegiatan seperti ini dapat menjadi inspirasi bagi ibu-ibu untuk memanfaatkan waktu luang dengan kegiatan yang produktif dan berdampak positif bagi keluarga. Semoga ilmu yang diberikan oleh mahasiswa KKN dapat terus diterapkan dan dikembangkan oleh masyarakat Desa Mojokendil,” ujar Sofiyah, anggota PKK Desa Mojokendil.
Apresiasi juga disampaikan Kepala Desa Mojokendil, Supriyono.
“Pemerintah Desa Mojokendil sangat mengapresiasi program kegiatan Budidaya Ikan dalam Ember (Budikdamber) KKN Universitas Brawijaya. Program ini memberikan manfaat bagi ibu-ibu karena dapat diterapkan di pekarangan rumah sebagai upaya meningkatkan ketahanan pangan sekaligus menambah pendapatan rumah tangga. Selain dapat membudidayakan ikan, masyarakat juga dapat menanam sayuran sehingga hasilnya dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari,” ujarnya.
Keberlanjutan Program Pendampingan
Sebagai tindak lanjut, tim KKN Universitas Brawijaya PSDKU Kediri akan melakukan pendampingan dan monitoring terhadap sistem Budikdamber yang telah dibuat bersama masyarakat. Melalui pendampingan tersebut, diharapkan masyarakat dapat terus mengembangkan teknologi Budikdamber sebagai solusi ketahanan pangan rumah tangga sekaligus mendorong pemanfaatan limbah pertanian secara berkelanjutan di Desa Mojokendil.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN Universitas Brawijaya PSDKU Kediri berharap masyarakat Desa Mojokendil mampu menerapkan Budikdamber secara mandiri sebagai salah satu alternatif untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga. Pemanfaatan arang sekam sebagai media tanam diharapkan dapat meningkatkan nilai guna limbah pertanian sekaligus mendukung konsep Lestari Pangan Sirkular yang berfokus pada efisiensi sumber daya dan keberlanjutan lingkungan. Program ini dapat menjadi langkah awal dalam memperkuat ketahanan pangan berbasis potensi lokal serta mendorong pemanfaatan limbah pertanian secara lebih produktif di Desa Mojokendil.(Din)














