Kanal24, Malang – Tidak semua luka meninggalkan bekas yang terlihat. Dalam relasi abusif, banyak korban hidup dalam tekanan emosional, manipulasi, hingga kekerasan yang berlangsung dalam waktu lama. Meski hubungan tersebut menyakitkan, tidak sedikit korban yang tetap bertahan. Kondisi ini kerap menimbulkan pertanyaan dari masyarakat: mengapa mereka tidak segera pergi?
Padahal, para ahli psikologi menjelaskan bahwa keputusan untuk bertahan dalam hubungan yang tidak sehat bukanlah persoalan sederhana. Di baliknya terdapat berbagai faktor psikologis, sosial, dan ekonomi yang membuat korban merasa terjebak serta kesulitan melepaskan diri dari hubungan tersebut.
Trauma Bonding Membuat Korban Tetap Berharap

Salah satu alasan utama korban sulit meninggalkan relasi abusif adalah adanya trauma bonding atau ikatan emosional yang terbentuk antara korban dan pelaku. Ikatan ini muncul melalui siklus berulang antara kekerasan dan kasih sayang.
Dalam banyak kasus, setelah melakukan tindakan menyakitkan, pelaku akan meminta maaf, menunjukkan perhatian, atau berjanji berubah menjadi lebih baik. Momen-momen tersebut menumbuhkan harapan pada korban bahwa hubungan mereka masih bisa diselamatkan.
Akibatnya, korban lebih mudah mengingat sisi baik pasangan dibanding kekerasan yang telah dialami. Mereka terus menunggu perubahan yang dijanjikan dan percaya bahwa suatu saat pasangan akan kembali menjadi sosok yang dicintai pada awal hubungan.
Harapan inilah yang sering membuat korban bertahan lebih lama, bahkan setelah mengalami perlakuan yang berulang kali melukai mereka secara emosional maupun fisik.
Manipulasi Perlahan Mengikis Rasa Percaya Diri

Relasi abusif umumnya tidak dimulai dengan kekerasan yang jelas terlihat. Banyak pelaku membangun hubungan secara bertahap melalui perhatian berlebihan, kemudian mulai mengontrol kehidupan pasangan mereka sedikit demi sedikit.
Kontrol tersebut dapat berupa pembatasan pergaulan, mengatur aktivitas sehari-hari, memantau komunikasi, hingga meremehkan kemampuan korban. Dalam jangka panjang, tindakan tersebut membuat korban kehilangan kepercayaan diri dan merasa tidak mampu mengambil keputusan sendiri.
Selain itu, korban sering mengalami gaslighting, yaitu manipulasi psikologis yang membuat seseorang meragukan pikiran, ingatan, atau perasaannya sendiri. Ketika terus-menerus dianggap berlebihan atau salah memahami situasi, korban mulai mempercayai penilaian pelaku dibanding dirinya sendiri.
Kondisi ini membuat korban merasa tidak cukup kuat untuk hidup mandiri. Bahkan, sebagian mulai meyakini bahwa mereka tidak akan menemukan hubungan yang lebih baik di luar relasi yang sedang dijalani.
Faktor Sosial dan Ekonomi Menjadi Penghalang
Selain faktor psikologis, banyak korban bertahan karena alasan yang lebih praktis. Ketergantungan ekonomi menjadi salah satu penyebab yang paling sering ditemukan, terutama ketika korban bergantung pada pasangan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Bagi mereka yang telah menikah atau memiliki anak, keputusan untuk pergi menjadi semakin rumit. Kekhawatiran mengenai masa depan keluarga, biaya hidup, hingga pendidikan anak sering kali membuat korban menunda langkah untuk keluar dari hubungan yang tidak sehat.
Di sisi lain, dukungan dari lingkungan sekitar tidak selalu hadir. Sebagian korban justru mendapat respons yang menyalahkan atau meremehkan pengalaman mereka. Tidak sedikit yang diminta untuk bersabar, mempertahankan hubungan demi keluarga, atau menganggap kekerasan sebagai persoalan rumah tangga yang biasa terjadi.
Padahal, relasi abusif dapat meninggalkan dampak serius bagi kesehatan mental korban, mulai dari kecemasan, depresi, gangguan tidur, hingga trauma berkepanjangan. Karena itu, para ahli menilai penting bagi masyarakat untuk memahami bahwa keluar dari hubungan abusif bukanlah keputusan yang mudah.
Alih-alih menyalahkan korban karena bertahan, dukungan yang aman dan empati menjadi langkah yang lebih penting. Sebab bagi banyak penyintas, meninggalkan relasi abusif bukan sekadar mengakhiri hubungan, melainkan proses panjang untuk mendapatkan kembali kebebasan dan kendali atas hidup mereka. (ger)













