Kanal24, Malang – Pengembangan kendaraan berbasis energi alternatif menjadi salah satu upaya untuk menghadirkan transportasi yang lebih efisien sekaligus mendorong pemanfaatan energi hijau di Indonesia. Semangat tersebut melatarbelakangi pengembangan Hydropuls, kendaraan yang mengombinasikan sistem kendaraan listrik dengan teknologi energi hidrogen. Proyek ini sekaligus menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan lintas disiplin, mulai dari sistem elektrikal dan mekanikal hingga penerapan aspek keselamatan dalam teknologi hidrogen.
Materi mengenai pengembangan Hydropuls disampaikan Affix Galih Irawanda, General Manager Apatte 62 Brawijaya, dan Langga Mahariswanto, Project Manager kolaborasi Mobil H2, dalam program UBTV pada Selasa (18/8/2026). Keduanya membahas latar belakang kolaborasi, teknologi fuel cell, proses pengembangan kendaraan, tantangan teknis dan infrastruktur, hingga peluang pengembangan energi hidrogen untuk kendaraan di masa mendatang.
Baca juga:
PKKMB FIKES UB Kenalkan Budaya dan Nilai Identitas
Kolaborasi Lintas Disiplin Kembangkan Hydropuls
Pengembangan Hydropuls berawal dari gagasan untuk mengombinasikan gas hidrogen dengan teknologi kendaraan listrik atau electric vehicle (EV). Kolaborasi tersebut mempertemukan pengalaman Apatte 62 Brawijaya dalam riset kendaraan hemat energi dengan gagasan pengembangan teknologi hidrogen dari PLN Puslitbang.
Apatte 62 Brawijaya telah memiliki pengalaman dalam pengembangan kendaraan berbasis hidrogen. Sejak 2022, tim mengikuti Shell Eco-marathon Asia Pacific and Middle East dan pada 2026 berhasil meraih juara pertama kategori Prototype Hydrogen di Qatar. Prestasi tersebut turut membuka peluang bagi Apatte 62 Brawijaya untuk berkolaborasi dengan PLN Puslitbang dalam pengembangan Hydropuls.
Affix menjelaskan, proyek tersebut membutuhkan keterlibatan berbagai disiplin ilmu karena pengembangan kendaraan tidak dapat mengandalkan satu bidang keilmuan saja. Apatte 62 Brawijaya yang beranggotakan mahasiswa dari berbagai latar belakang keilmuan kemudian mengerjakan proyek secara kolaboratif sesuai kompetensi masing-masing.
“Peran saya sebagai General Manager dari tim Apatte 62 Brawijaya sebagai narahubung dari teman-teman anggota maupun kepada Bapak Ibu dosen yang terlibat secara langsung pada proyek kali ini,” jelas Affix.

Kolaborasi tersebut tidak hanya mendorong mahasiswa menyelesaikan bagian pekerjaan masing-masing, tetapi juga membuat mereka saling mempelajari sistem yang berbeda. Proses tersebut menjadi pengalaman penting dalam membangun kemampuan problem solving ketika menghadapi persoalan teknis dalam pengembangan kendaraan.
Fuel Cell Ubah Hidrogen Menjadi Energi
Langga menjelaskan, Hydropuls menggunakan fuel cell jenis Proton Exchange Membrane (PEM) untuk mengubah energi dari gas hidrogen menjadi listrik melalui proses elektrokimia. Listrik yang dihasilkan kemudian digunakan untuk mendukung sistem kendaraan.
Teknologi tersebut menjadi salah satu pembeda Hydropuls dengan kendaraan listrik berbasis baterai. Jika kendaraan listrik membutuhkan proses charging untuk mengisi kembali energi, sistem hidrogen memungkinkan pengisian energi melalui proses refueling sehingga berpotensi dilakukan lebih cepat.
Namun, pengembangan kendaraan hidrogen masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya berkaitan dengan infrastruktur yang belum tersedia secara luas, mulai dari stasiun pengisian hidrogen hingga fasilitas produksi hidrogen. Ketersediaan sejumlah komponen pendukung juga masih menjadi tantangan dalam pengembangan teknologi tersebut di Indonesia.
“Keberlanjutan dari riset ini juga harus selaras dengan perkembangan infrastruktur yang ada di Indonesia,” ujar Langga.
Selain aspek performa, tim memberikan perhatian besar terhadap keselamatan. Berbagai parameter seperti tegangan, arus, daya, aliran hidrogen, potensi kebocoran, hingga sistem isolasi dipantau dan diuji sebelum kendaraan digunakan.
Tim juga menerapkan sistem cut off untuk memutus jaringan ketika ditemukan kondisi yang tidak sesuai dengan parameter keselamatan. Berbagai data tersebut turut dipantau melalui sistem monitoring agar pengguna dapat mengetahui kondisi kendaraan sebelum digunakan.
Hydropuls Rampung dalam Empat Bulan
Pengembangan Hydropuls menjadi tantangan tersendiri karena proyek tersebut ditargetkan selesai dalam waktu sekitar empat bulan. Pada tahap awal, mahasiswa harus mempelajari sistem kendaraan secara menyeluruh melalui proses pembongkaran dan reverse engineering.
Dashboard, bumper, interior, hingga sejumlah komponen kendaraan dibongkar untuk mempelajari sistem elektrikal dan mekanikal sebelum dikembangkan menjadi sistem hybrid hidrogen.
Affix menyebut proses tersebut menjadi pengalaman baru bagi tim karena mahasiswa sebelumnya lebih banyak memiliki pengalaman dalam menangani kendaraan kompetisi. Perubahan kendaraan menjadi sistem hybrid menuntut mahasiswa untuk belajar sekaligus memecahkan persoalan secara bersama-sama.
“Gara-gara proyek ini kita lebih sering bonding lagi. Tadinya mungkin bisa dibilang beda angkatan, tapi karena ada project ini dan sama-sama kebingungan, akhirnya kita ngumpul bareng, belajar bareng, ngerjain semuanya bareng-bareng,” ungkap Affix.
Keterbatasan waktu menjadi tantangan lain yang harus dihadapi tim. Meski demikian, kerja sama dan komitmen anggota membuat Hydropuls berhasil diselesaikan H-1 sebelum kendaraan digunakan.
Ke depan, tim akan melanjutkan pengembangan teknologi hidrogen, terutama dalam mengoptimalkan pemanfaatan energi dan meningkatkan performa kendaraan. Apattte 62 Brawijaya juga menargetkan dapat mempertahankan prestasi juara pertama sekaligus mengejar pencapaian baru pada kategori Prototype Hydrogen.
Bagi Affix dan Langga, pengalaman mengembangkan Hydropuls menjadi pembelajaran bahwa inovasi membutuhkan keberanian untuk mencoba dan kesediaan belajar dari proses. Mahasiswa juga didorong untuk tidak menjadikan kegagalan sebagai alasan untuk berhenti mengembangkan gagasan.
“Jangan takut untuk memulai. Teman-teman harus berani belajar dari sebuah kesalahan, dari uji coba atau pengetesan yang dilakukan,” kata Affix.
Langga menambahkan, keberanian mencoba hal baru dapat membuka peluang bagi mahasiswa untuk menghasilkan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat maupun Indonesia.
“Jangan takut untuk mencoba hal baru dan jangan terlalu takut untuk gagal,” tegasnya.
Melalui Hydropuls, mahasiswa Apatte 62 Brawijaya tidak hanya mengembangkan kendaraan berbasis energi alternatif, tetapi juga memperoleh pengalaman dalam mengintegrasikan berbagai disiplin ilmu untuk menjawab tantangan teknologi. Pengembangan tersebut diharapkan dapat menjadi bagian dari langkah awal pemanfaatan energi hidrogen yang lebih luas di Indonesia. (ffn)













