Kanal24, Malang – Bagi sebagian orang tua, acara pelepasan siswa taman kanak-kanak mungkin terlihat seperti seremoni biasa. Anak memakai toga kecil, naik ke atas panggung, lalu berfoto bersama teman-temannya.
Namun bagi anak usia dini, pengalaman sederhana seperti mendapat tepuk tangan, dipanggil namanya di depan banyak orang, atau berhasil menyelesaikan sebuah penampilan dapat meninggalkan jejak psikologis yang sangat berarti.
Masa usia dini dikenal sebagai golden age, periode ketika perkembangan otak berlangsung sangat pesat. Pada fase inilah anak membangun fondasi kepercayaan diri, kemampuan bersosialisasi, mengelola emosi, hingga memandang dirinya sendiri.
Baca juga : Air Mata Haru dan Tawa Anak Warnai Pelepasan Siswa CC BSS
Karena itu, panggung apresiasi bukan sekadar hiburan.
Saat anak berani berdiri di depan publik untuk membaca puisi, menghafal doa, menyanyi, atau menari, sesungguhnya mereka sedang belajar mengatasi rasa gugup, mengenali kemampuan diri, dan memahami bahwa usaha yang dilakukan layak dihargai.

Kepala Children Center Brawijaya Smart School, Siti Halimah, S.Pd., mengatakan setiap anak memiliki potensi yang perlu diberi ruang untuk berkembang.
“Kami memandang bahwa setiap anak memiliki potensi yang luar biasa dan perlu diberikan ruang untuk menunjukkan kemampuan terbaiknya. Ketika mereka merasa dihargai atas usahanya, kepercayaan diri mereka akan tumbuh dan itu menjadi modal penting untuk menghadapi jenjang pendidikan berikutnya,” ujarnya.
Menurutnya, pendidikan anak usia dini tidak hanya berorientasi pada kemampuan membaca, menulis, atau berhitung.
“Pada masa emas perkembangan anak, setiap stimulasi memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan kepribadian dan kemampuan belajar mereka di masa depan. Karena itu, kami ingin setiap anak memiliki kenangan positif tentang proses belajarnya sekaligus kesiapan untuk melanjutkan pendidikan ke Sekolah Dasar,” tambahnya.
Tak kalah penting, apresiasi yang diberikan orang tua juga menjadi penguat emosional bagi anak.
Ucapan sederhana seperti “Ayah bangga padamu” atau “Terima kasih sudah berani tampil” bisa menjadi sumber keyakinan bahwa dirinya mampu mencoba hal-hal baru.
Pada akhirnya, yang paling diingat anak mungkin bukan medali yang mereka terima atau foto-foto yang tersimpan di galeri ponsel. Melainkan perasaan bahwa pada hari itu, orang-orang yang mereka cintai hadir, tersenyum, dan merayakan setiap usaha kecil yang telah mereka lakukan.
Sebab, sebelum anak belajar meraih prestasi besar, mereka perlu terlebih dahulu percaya bahwa dirinya berharga.(din/and)














