Kanal24, Malang – Hampir sebulan setelah gempa bumi mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT), sebagian warga terdampak masih bertahan dalam kondisi serba terbatas. Rumah yang rusak membuat mereka harus mengungsi, sementara kebutuhan dasar seperti terpal dan selimut masih belum sepenuhnya terpenuhi.
Kondisi tersebut masih dirasakan warga hingga Jumat (11/9/2026). Sejumlah penyintas mengaku belum menerima terpal untuk melindungi barang dan tempat tinggal sementara, meski hujan mulai turun di wilayah terdampak. Di tengah kondisi itu, pemerintah telah menyiapkan dukungan penanganan bencana, sementara proses pemulihan di wilayah terdampak masih berlangsung.
Baca juga:
Akademisi Kyoto University Bekali Mahasiswa PWK UB Wawasan Kota Berkelanjutan
Warga Masih Membutuhkan Terpal
Salah satu warga terdampak, Marchello, mengatakan rumah keluarganya mengalami kerusakan parah akibat gempa. Hingga kini, keluarganya belum mendapatkan terpal untuk melindungi barang-barang dan tempat tinggal sementara dari hujan.

“Kami sangat butuh terpal. Mau taruh barang sangat susah, apalagi di sini mulai hujan,” ujar Marchello.
Keluhan serupa disampaikan Hasmi. Ia mengatakan keluarganya sampai saat ini belum menerima bantuan terpal meski hampir sebulan gempa berlalu.
“Sampai sekarang keluarga saya belum dapat bantuan terpal,” kata Hasmi.
Kebutuhan tersebut menunjukkan bahwa sebagian penyintas masih memerlukan bantuan dasar meski penanganan bencana telah memasuki tahap pemulihan. Terpal dan selimut menjadi kebutuhan penting bagi keluarga yang rumahnya rusak dan belum dapat kembali ke tempat tinggal semula.
Dampak Gempa Masih Dirasakan
Gempa bermagnitudo 7,7 mengguncang NTT pada 15 Agustus 2026. Hampir sebulan berlalu, aktivitas gempa susulan masih berlangsung. BMKG mencatat 14.236 gempa susulan hingga 10 September 2026, dengan 184 di antaranya dirasakan masyarakat.
Dampak bencana juga masih terlihat dari jumlah warga yang membutuhkan dukungan. Data terbaru mencatat 136 orang meninggal dunia, 1.762 orang mengalami luka-luka, serta 60.572 warga masih berada dalam kondisi mengungsi. Kerusakan tercatat pada 98.986 rumah.
Besarnya dampak tersebut membuat pemulihan tidak berhenti pada penanganan korban dan evakuasi. Perbaikan rumah, pemenuhan kebutuhan dasar, hingga pemulihan aktivitas masyarakat menjadi bagian dari proses yang masih berjalan.
BNPB sendiri mencatat proses verifikasi dan validasi kerusakan rumah masih berlangsung. Hingga 7 September 2026, sebanyak 51.591 rumah telah diverifikasi dari 102.384 unit data awal rumah yang menjadi sasaran pendataan di tujuh kabupaten terdampak.
Bantuan Diminta Segera Sampai
Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena meminta data warga yang masih membutuhkan bantuan terus diperbarui. Langkah tersebut diperlukan agar BPBD dapat menindaklanjuti kebutuhan masyarakat yang belum terpenuhi di lapangan.
Pemerintah Provinsi NTT sebelumnya menyiapkan sekitar Rp40 miliar untuk penanganan bencana. Sekitar separuh anggaran tersebut disebut telah digunakan untuk kebutuhan penanganan gempa.
Dukungan anggaran juga diberikan kepada delapan kabupaten terdampak di Flores. Masing-masing daerah memperoleh Rp20 miliar untuk mendukung penanganan bencana.
Namun, besarnya anggaran tidak otomatis menyelesaikan seluruh persoalan di lapangan. Keluhan warga mengenai kebutuhan terpal dan selimut menunjukkan masih adanya kebutuhan yang harus segera ditindaklanjuti.
Anggota DPRD NTT Junaidin Mahasan turut meminta percepatan penyaluran bantuan kepada masyarakat. Ia menilai warga terdampak tidak seharusnya menunggu terlalu lama untuk mendapatkan kebutuhan dasar.
“Ini keadaan darurat. Rakyat tidak bisa disuruh menunggu proses administrasi terlalu lama,” tegas Junaidin.
Sebelumnya, pemerintah juga telah mengerahkan bantuan logistik melalui berbagai jalur untuk mendukung penanganan gempa. BNPB mencatat distribusi bantuan dilakukan melalui jalur udara dan laut ke sejumlah wilayah terdampak di NTT.
Bagi warga yang masih mengungsi, kebutuhan seperti terpal dan selimut bukan sekadar bantuan tambahan. Keduanya menjadi perlengkapan dasar untuk bertahan sambil menunggu rumah diperbaiki dan kehidupan kembali berjalan normal. (ern)














