Kanal24, – Malang – Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, perubahan pola interaksi generasi muda, hingga munculnya kecerdasan buatan dan ribuan komunitas digital baru, organisasi kemahasiswaan dituntut untuk terus beradaptasi agar tetap relevan dengan kebutuhan zaman. Kondisi tersebut juga menjadi tantangan tersendiri bagi lembaga dakwah kampus yang selama ini berperan sebagai ruang pembinaan moral, intelektual, dan kepemimpinan mahasiswa di lingkungan perguruan tinggi.
Isu itu menjadi salah satu fokus dalam Forum Silaturahmi Lembaga Dakwah Kampus Nasional (FSLDKN) XXII Malang 2026 yang digelar di Auditorium Gedung A Lantai 4 Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya, Kamis (07/05/2026). Kegiatan tersebut mengusung tema “Menuju 40 Tahun FSLDK: Menjaga Khittah Perjuangan dan Memperbarui Model Gerakan dalam Menyongsong Indonesia Emas 2045”.
Baca Juga:
Kunjungi Masjid UGM, Takmir MRP UB Perkuat Aliansi Dakwah Masjid Kampus
Forum nasional dua tahunan tersebut dihadiri aktivis dakwah kampus dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia untuk membahas arah gerakan organisasi, pertanggungjawaban kepengurusan, AD/ART, hingga pemilihan kepengurusan FSLDK Indonesia periode selanjutnya.
Mahasiswa Dinilai Mengalami Krisis Arah dan Dilema Organisasi

Ketua Umum FSLDK Indonesia, M. Fadhil Abdurrahim, S.I.Pol menilai mahasiswa saat ini menghadapi dilema besar antara tuntutan akademik, pekerjaan, dan aktivitas organisasi. Menurutnya, banyak mahasiswa mulai mempertanyakan manfaat organisasi karena dianggap tidak memberikan hasil instan seperti dunia kerja.
Padahal, kata Fadhil, pengalaman organisasi justru menjadi bekal penting yang akan berguna ketika mahasiswa telah memasuki dunia profesional setelah lulus kuliah.
“Satu, kita menghadapi kondisi di mana mahasiswa itu mengalami dilema. Dia mau kuliah, dia mau kerja, dia mau organisasi. Ketika dia mau organisasi, dia merasa tidak mendapatkan apa-apa. Tapi kita mau sampaikan, di organisasi kita mendapatkan sesuatu yang suatu saat nanti akan bermanfaat ketika dia bekerja setelah selesai dari kampus,” ujarnya.
Ia juga menyoroti kondisi sosial saat ini yang dipenuhi banyak individu cerdas secara akademik, namun minim pemahaman moral, adab, dan nilai-nilai agama. Karena itu, menurutnya, keberadaan lembaga dakwah kampus menjadi penting untuk membentuk mahasiswa yang tidak hanya intelektual, tetapi juga memiliki karakter dan etika.
“Sekarang banyak orang pintar. Tapi kalau bicara orang berakhlak, orang mengerti agama, orang beradab, itu angkanya sangat sedikit. Kita ingin menjadi aktivis intelektual, tapi kita juga ingin menjadi aktivis intelektual yang beradab,” katanya.
Era Artificial Intelligence Dorong Gerakan Dakwah Lebih Kolaboratif
Selain persoalan karakter mahasiswa, Fadhil menilai perkembangan teknologi seperti digitalisasi, artificial intelligence, hingga autonomous robot turut mengubah pola gerakan organisasi mahasiswa. Karena itu, ia menekankan pentingnya pembaruan model gerakan dakwah kampus agar tetap mampu menjangkau generasi muda.
Menurutnya, organisasi mahasiswa tidak lagi bisa bergerak secara sektoral dan harus memperkuat kolaborasi lintas komunitas maupun lintas institusi untuk menciptakan dampak yang lebih besar.
“Bagaimana kita bisa memperbarui model gerakan. Ada digitalisasi, ada artificial intelligence, autonomous robot, ribuan komunitas baru bermunculan. Artinya kita harus kolaborasi. Apa pun agenda pemuda harus kolaborasi,” jelasnya.
Ia menambahkan keterlibatan berbagai pihak dalam forum tersebut, mulai dari pemerintah daerah, pejabat kampus, hingga unsur legislatif dan eksekutif menjadi bentuk nyata pentingnya kerja sama dalam membangun gerakan mahasiswa yang lebih luas dan berdampak.
“Agenda-agenda ke depan ini harus punya dampak yang signifikan, deliberatif, melibatkan banyak orang, tapi kemudian bisa menyingkirkan egoisme sektoral,” tambahnya.
Forum Nasional Bahas Regenerasi Kepemimpinan hingga Aksi Kebangsaan

Sementara itu, Ketua Pelaksana FSLDKN XXII Muhamad Nugraha Al Afgani menjelaskan forum ini merupakan agenda nasional dua tahunan FSLDK Indonesia yang menjadi ruang silaturahmi sekaligus forum pengambilan keputusan organisasi.
“Forum ini akan membahas terkait pertanggungjawaban kepengurusan FSLDK, kemudian membahas AD/ART, dan memilih kepengurusan FSLDK di periode selanjutnya,” ujarnya.
Ia mengatakan tema Indonesia Emas 2045 dipilih karena lembaga dakwah kampus dinilai memiliki tanggung jawab untuk ikut berkontribusi dalam pembangunan bangsa, tidak hanya terbatas pada aktivitas dakwah di lingkungan kampus maupun masjid.
“Lembaga dakwah kampus bukan hanya sekadar berdakwah di kampus ataupun di masjid saja. Tetapi lembaga dakwah kampus juga memiliki peran dan ingin turut berkontribusi dalam rangka menyongsong Indonesia Emas 2045,” katanya.
Kegiatan FSLDKN XXII sendiri berlangsung selama empat hari mulai 7 hingga 10 Mei 2026 dengan berbagai rangkaian agenda seperti sidang umum, pelatihan manajemen lembaga dakwah kampus, final lomba nasional, seminar kebangsaan, kajian akbar, aksi Palestina, hingga field trip.
Muhamad Nugraha juga mengungkapkan tantangan terbesar pelaksanaan kegiatan berasal dari pengelolaan peserta yang datang dari berbagai kampus di Indonesia serta penyesuaian jadwal dengan sejumlah pejabat publik dan pimpinan kampus yang diundang.
Di akhir wawancara, ia berharap forum serupa ke depan dapat berlangsung lebih besar dan memberikan dampak yang semakin luas bagi mahasiswa Indonesia.
“Semoga forum ini yang akan kembali dilaksanakan dua tahun mendatang bisa lebih meriah, lebih banyak peserta yang datang, bisa mengundang tokoh yang lebih inspiratif, serta antusiasme peserta semakin meningkat,” pungkasnya. (wan)














