Kanal24, Malang – Perubahan iklim membuat lokasi ikan semakin sulit diprediksi dan memaksa nelayan menghabiskan lebih banyak bahan bakar untuk melaut. Menjawab tantangan tersebut, Profesor Universitas Brawijaya mengembangkan teknologi berbasis artificial intelligence (AI) yang mampu memprediksi zona penangkapan ikan secara lebih akurat dan efisien.
Inovasi itu diperkenalkan Prof. Ir. Bambang Semedi, M.Sc., Ph.D., saat dikukuhkan sebagai guru besar bidang Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografis Kelautan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Brawijaya, Rabu (10/6/2026).
Dalam orasi ilmiahnya bertajuk “MARINESCAPE: Integrasi Penginderaan Jauh dan Machine Learning untuk Prediksi ZPPI di Era Perubahan Iklim”, Prof. Bambang memperkenalkan MARINESCAPE atau Marine Intelligence System for Spatio-temporal Catch Prediction.
Teknologi tersebut dikembangkan untuk membantu memprediksi Zona Potensi Penangkapan Ikan (ZPPI) melalui integrasi data satelit, penginderaan jauh, serta machine learning.
Baca juga:
Dekan FH UB: Indonesia Tak Kekurangan Ide, yang Kurang Integritas
Perubahan Iklim Ubah Pola Migrasi Ikan
Prof. Bambang menjelaskan, pemanasan global menyebabkan perubahan suhu permukaan laut dan arus laut yang semakin ekstrem. Kondisi itu membuat spesies ikan pelagis bernilai ekonomi tinggi seperti cakalang mengalami perubahan pola migrasi yang sulit diprediksi.
Menurutnya, metode penangkapan ikan tradisional yang selama ini mengandalkan pengalaman empiris nelayan kini semakin menghadapi tantangan.
“Zona penangkapan ikan yang sebelumnya dapat diprediksi berdasarkan pengalaman turun-temurun kini menjadi semakin tidak menentu,” ujarnya.
Dampaknya, nelayan harus menghabiskan lebih banyak waktu untuk mencari ikan. Biaya operasional melaut pun meningkat, terutama untuk konsumsi bahan bakar minyak (BBM).
Kondisi tersebut juga meningkatkan risiko kerugian ekonomi, terutama bagi nelayan skala kecil yang sangat bergantung pada hasil tangkapan harian.
Gunakan Satelit dan Deep Learning
Melalui MARINESCAPE, berbagai data lingkungan laut seperti suhu permukaan laut, konsentrasi klorofil-a, dan front laut dianalisis menggunakan Artificial Neural Networks (ANN) serta teknologi deep learning.
Berbeda dengan metode konvensional, sistem tersebut mampu membaca pola spasio-temporal yang kompleks sekaligus mendeteksi perubahan kondisi laut secara lebih cepat.
Teknologi AI tersebut memungkinkan sistem memberikan sinyal awal terhadap perubahan lingkungan sebelum dampaknya benar-benar dirasakan di lapangan.
Prof. Bambang menyebut pendekatan berbasis machine learning memiliki tingkat akurasi yang tinggi dalam memprediksi zona penangkapan ikan.
Berbagai penelitian global serupa bahkan menunjukkan akurasi prediksi berbasis deep learning dapat mencapai lebih dari 80 persen.
“Teknologi ini diharapkan dapat membantu nelayan menjadi lebih efisien sekaligus mengurangi tangkapan sampingan atau bycatch,” katanya.
Dorong Ketahanan Pangan Laut
Selain meningkatkan efisiensi operasional nelayan, pengembangan teknologi AI kelautan juga dinilai penting dalam menjaga keberlanjutan sumber daya laut.
Prof. Bambang menilai teknologi prediksi lokasi ikan dapat membantu menciptakan sistem perikanan yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim.
Ia juga menggagas pembentukan UB-MARINESCAPE sebagai pusat riset dan diseminasi data kelautan di Universitas Brawijaya.
Platform tersebut diharapkan menjadi jembatan antara dunia akademik, nelayan, pengelola perikanan, hingga pembuat kebijakan.
Melalui pusat riset tersebut, hasil penelitian di bidang teknologi kelautan tidak hanya berhenti di laboratorium, tetapi juga dapat diterapkan secara nyata di lapangan.
“MARINESCAPE hadir bukan untuk menggantikan manusia, melainkan menjadi decision support system agar nelayan dapat bergerak lebih antisipatif menghadapi perubahan iklim,” ujarnya.
Pengembangan teknologi tersebut juga dinilai sejalan dengan agenda Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDGs 13 tentang penanganan perubahan iklim dan SDGs 14 mengenai ekosistem laut.
Dengan pemanfaatan AI dan penginderaan jauh, Universitas Brawijaya berharap inovasi teknologi kelautan dapat membantu menjaga ketahanan pangan laut sekaligus meningkatkan kesejahteraan nelayan Indonesia. (nid)














